JAKARTA, KOMPAS — Pemegang hak waralaba tunggal Pizza Hut di Indonesia memastikan aksi pengelola restoran makanan cepat saji global, Yum! Brands, Inc, melepas kepemilikan bisnis Pizza Hut global tidak akan memberikan pengaruh pada operasionalisasi Pizza Hut Indonesia. Masuknya pemilik global baru diharapkan makin menguatkan kinerja bisnis Pizza Hut domestik.
PT Sarimelati Kencana Tbk, selaku pemegang hak waralaba tunggal Pizza Hut di Indonesia, mengklarifikasi dampak dari akuisisi senilai total 2,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 44,2 triliun) dari prinsipal Pizza Hut global, Yum! Brands, ke Yum China Holdings dan LongRange Capital.
President Director & Chief Executive Officer PT Sarimelati Kencana Tbk Boy Lukito, dalam siaran pers, Jumat (19/6/2026), menyampaikan, prinsipal Pizza Hut Indonesia akan pindah ke naungan LongRange Capital sebagai pengendali baru di luar pasar China.
Pendekatan LongRange yang fokus pada penguatan aspek operasional, peningkatan pengalaman pelanggan, serta komitmen kemitraan erat dengan waralaba lokal dinilai sejalan dengan visi jangka panjang perseroan.
”Kami menyambut baik langkah strategis Yum! Brands. Bagi Pizza Hut Indonesia, kinerja bisnis dan operasional kami tetap menunjukkan tren yang sangat positif dalam beberapa triwulan terakhir. Kami akan terus berkoordinasi secara intensif dengan prinsipal baru selama masa transisi ini,” kata Boy.
Ia menambahkan, perseroan akan tetap fokus pada eksekusi strategi pertumbuhan domestik secara disiplin demi memastikan layanan terbaik bagi seluruh pelanggan di Indonesia. Status hukum perusahaan dengan kode bursa PZZA ini juga masih akan menjadi entitas nasional terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kontrak eksklusif waralaba yang dikantongi perseroan dari prinsipal dipastikan tetap berlaku penuh dan sah secara hukum. ”Tidak akan ada perubahan pada struktur kepemilikan saham, kendali manajemen, maupun status PZZA sebagai perusahaan publik di BEI,” ucap Boy.
Pizza Hut Indonesia yang telah eksis lebih dari empat dekade saat ini memiliki hampir 600 gerai di 36 provinsi Indonesia yang mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan.
Secara kinerja keuangan, perseroan selama enam kuartal berturut-turut sejak triwulan IV-2024 terus mencatatkan keuntungan. Pada 2025, Pizza Hut Indonesia mampu mencetak laba bersih Rp 24,75 miliar dari sebelumnya rugi Rp 72,83 miliar pada 2024.
Kinerja ini didorong oleh kenaikan penjualan neto menjadi Rp 3,05 triliun yang didominasi penjualan makanan. Laba kotor meningkat menjadi Rp 2,13 triliun, di tengah beban pokok penjualan yang naik, serta perbaikan struktur keuangan dengan penurunan liabilitas dan peningkatan ekuitas.
Bagaimanapun, secara global, bisnis cepat saji dengan menu utama piza khas Amerika ini dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan berat akibat pergeseran preferensi konsumen global ke layanan pesan-antar (delivery service). Upaya pelepasan Pizza Hut oleh Yum! Brands pun telah dijajaki sejak November 2025 (Kompas, 17/6/2026).
Data riset GlobalData menunjukkan bahwa divisi Pizza Hut kerap menjadi titik lemah dalam portofolio Yum! Brands, yang melantai di bursa saham New York, AS. Meski pada tahun lalu penjualan konsolidasi Yum! Brands tumbuh 5 persen, penjualan global Pizza Hut justru terkoreksi minus 2 persen.
Pada Februari 2026, Yum! Brands bahkan sempat mengumumkan rencana penutupan 250 gerai yang berkinerja buruk di AS demi efisiensi. Namun, secara ekspansi internasional, merek ini sebenarnya tetap berkembang dengan membuka 1.184 gerai baru di 65 negara sepanjang 2025, menggenapkan total jaringan global menjadi 19.974 restoran pada akhir tahun lalu.
CEO Yum! Brands, Chris Turner, menjelaskan bahwa penjualan ini ditujukan agar korporasi dapat mengerahkan fokus penuh pada pengembangan portofolio merek lain yang mencatatkan pertumbuhan penjualan lebih kuat, seperti KFC dan Taco Bell.
”Di bawah kendali LongRange Capital dan Yum China, Pizza Hut akan berada di posisi yang jauh lebih baik untuk pertumbuhan masa depan karena didukung oleh kepemilikan yang membawa keahlian mendalam di industri restoran,” ungkap Turner dalam keterangan resminya.
Direktur Pelaksana GlobalData Neil Saunders menilai, keputusan Yum! Brands sangat rasional. ”Mendorong divisi ini kembali ke jalur pertumbuhan membutuhkan tingkat investasi finansial dan kesabaran jangka panjang yang tampaknya tidak siap dipenuhi oleh Yum! Brands saat ini,” ujar Saunders.





