Kimia, Ketakutan, dan Miskonsepsi Publik

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

"Produk ini bebas bahan kimia." Kalimat seperti itu sering muncul dalam berbagai iklan makanan, kosmetik, sabun, hingga produk rumah tangga. Tanpa berpikir panjang, banyak orang menganggap label tersebut sebagai jaminan keamanan.

Sebaliknya, ketika membaca daftar komposisi yang dipenuhi nama-nama seperti sodium benzoate, ascorbic acid, atau potassium sorbate, tidak sedikit konsumen yang langsung merasa waswas. Semakin asing nama suatu zat, semakin besar pula kecurigaan terhadapnya.

Ironisnya, dari sudut pandang ilmu pengetahuan, klaim "bebas bahan kimia" atau chemical free sebenarnya mustahil. Air yang kita minum adalah senyawa kimia. Oksigen yang kita hirup adalah unsur kimia. Garam dapur, gula, vitamin, protein, bahkan tubuh manusia sendiri seluruhnya tersusun atas berbagai senyawa kimia. Tanpa kimia, kehidupan tidak akan pernah ada.

Kemofobia

Lalu mengapa kata "kimia" justru terdengar menakutkan? Fenomena inilah yang disebut para peneliti sebagai kemofobia (chemophobia), yakni kecenderungan memandang bahan kimia sebagai sesuatu yang identik dengan bahaya, terutama jika berasal dari proses sintesis, bukan yang diperoleh secara alami dari alam.

Masyarakat sesungguhnya tidak membenci ilmu kimia. Mereka memanfaatkan hasil-hasilnya setiap hari, mulai dari obat-obatan, pupuk, deterjen, hingga telepon genggam. Yang ditakuti adalah kata "kimia" itu sendiri, atau lebih spesifiknya, bahan kimia.

Persepsi tersebut tidak lahir tanpa sebab. Sejarah mencatat berbagai tragedi yang melibatkan bahan kimia, mulai dari kecelakaan industri seperti tragedi Seveso 1977 (Italia) dan Bhopal 1984 (India), hingga pencemaran lingkungan akibat pestisida DDT (dichlorodiphenyltrichloroethane). Belum lagi penyalahgunaan bahan berbahaya, seperti penggunaan formalin pada pangan, merkuri dalam kosmetik ilegal, hingga penyiraman air keras terhadap aparat penegak hukum maupun aktivis.

Pengalaman kolektif itu membentuk persepsi bahwa bahan kimia identik dengan ancaman dan bahaya. Kekhawatiran semacam ini tentu dapat dipahami. Masalah muncul ketika ketakutan tersebut berkembang menjadi penolakan terhadap hampir semua hal yang berlabel "kimia", tanpa lagi membedakan mana yang benar-benar berisiko dan mana yang aman digunakan.

Di era sekarang, media sosial memperkuat kecenderungan tersebut. Hampir setiap hari beredar video atau narasi yang mengklaim menemukan "zat kimia berbahaya" dalam makanan, minuman, atau kosmetik. Nama-nama senyawa yang terdengar rumit dipresentasikan seolah-olah merupakan bukti bahwa suatu produk berbahaya. Semakin sulit nama suatu zat diucapkan, semakin mudah zat itu dicurigai.

Padahal, nama kimia memang sering terdengar asing. Asam askorbat (Ascorbic acid) tidak lain adalah vitamin C. Natrium klorida (Sodium chloride) adalah garam dapur. Bahkan air pun, jika diperkenalkan sebagai dihidrogen monoksida, pernah membuat banyak orang percaya bahwa mereka sedang berhadapan dengan zat berbahaya. Eksperimen sederhana tersebut menunjukkan bahwa persepsi kita sering kali dipengaruhi oleh istilah, bukan oleh sifat sebenarnya suatu zat.

Cara berpikir lain yang turut memperkuat kemofobia adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang alami pasti lebih aman daripada yang sintetis. Sering kali, produk berlabel "natural", "organik", atau "bebas bahan kimia" lebih diminati. Tentu tidak ada yang salah dengan memilih produk alami.

Persoalannya, alam tidak selalu identik dengan keamanan. Arsenik, sianida, hingga berbagai racun pada jamur merupakan senyawa alami. Sebaliknya, banyak obat sintetis telah menyelamatkan jutaan nyawa selama puluhan tahun. Bahkan, saat kita mengonsumsi tablet vitamin C, tubuh kita tidak dapat membedakan apakah vitamin C-nya berasal dari jeruk atau diproduksi di laboratorium jika struktur kimianya sama.

Kesalahpahaman lain yang juga sering muncul adalah menganggap keberadaan suatu bahan otomatis berarti berbahaya. Dalam ilmu toksikologi, terdapat prinsip klasik, "the dose makes the poison", bahwa dosislah yang menentukan apakah suatu zat menjadi racun.

Garam dapur yang sering ditambahkan ke dalam masakan dapat membahayakan tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan dalam waktu singkat. Sebaliknya, banyak bahan yang sering dipersepsikan berbahaya justru aman digunakan selama kadarnya berada dalam batas yang telah ditetapkan berdasarkan kajian ilmiah. Sayangnya, konsep seringkali luput dari percakapan publik.

Pentingnya Literasi Sains

Di era media sosial, ketakutan sering kali menyebar lebih cepat daripada pengetahuan. Algoritma digital cenderung mengangkat konten yang mengejutkan, memancing emosi, dan mudah dibagikan. Judul seperti "Lima Bahan Kimia Mematikan yang Ada di Dapur Anda" jauh lebih mudah menarik perhatian dibandingkan dengan penjelasan mengenai toksikologi, paparan, atau penilaian risiko suatu bahan. Akibatnya, masyarakat dibanjiri informasi yang menimbulkan kecemasan, tetapi minim konteks.

Jadi, tantangan terbesar hari ini bukanlah keberadaan bahan kimia, melainkan kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dari yang menyesatkan. Literasi sains menjadi semakin penting ketika setiap orang dapat memproduksi sekaligus menyebarkan informasi kepada jutaan orang hanya melalui telepon genggam.

Sikap kritis terhadap produk yang kita konsumsi tentu perlu dipertahankan. Namun, sikap kritis berbeda dengan rasa takut yang didasarkan pada miskonsepsi. Masyarakat berhak mengetahui jika suatu bahan memang berbahaya atau digunakan secara tidak semestinya.

Di sisi lain, masyarakat juga berhak memperoleh informasi yang menjelaskan mengapa suatu bahan dinyatakan aman, bagaimana risiko dinilai, serta mengapa dosis dan paparan menjadi faktor yang menentukan.

Pada akhirnya, yang kita perlukan bukanlah dunia tanpa bahan kimia-karena dunia seperti itu tidak pernah ada-melainkan masyarakat yang mampu memahami bahan kimia secara lebih rasional. Sebab, dalam era banjir informasi seperti sekarang, ancaman terbesar bukan sekadar bahan kimia yang kita gunakan, melainkan ketidakmampuan kita membedakan antara fakta ilmiah dan rasa takut yang diproduksi oleh persepsi.

Mohammad Alauhdin. Dosen Kimia Universitas Negeri Semarang.




(rdp/imk)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mendagri Tito Karnavian dan Menteri PKP Cek Penerima Bantuan Bedah Rumah di Matraman
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Ruben Onsu Geram Putrinya Diduga Dilibatkan Live Jualan, Tegaskan: Thalia Masih Ada Ayahnya
• 7 jam laluintipseleb.com
thumb
Erick Thohir dan John Herdman Bakal Temui Prabowo di Hambalang
• 22 jam laludetik.com
thumb
Ironi Piala Dunia 2026: Panggung Megah untuk Sponsor Sakit-sakitan
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pikap Terguling di Tol Layang MBZ Arah Cikampek, Lalin Padat
• 23 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.