Benarkah Orang Kaya Lebih Pelit dan Egois Dibandingkan Orang Miskin?

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Logis jika orang yang kaya akan lebih gemar berdonasi, menyumbang, atau melakukan kegiatan-kegiatan prososial. Namun, banyak bukti justru menunjukkan sebaliknya, yakni orang yang lebih miskin lebih banyak menyumbangkan harta dan tenaganya dibandingkan orang yang lebih kaya.

Apakah itu berarti orang miskin benar-benar lebih dermawan dari orang kaya dan, sebaliknya, orang kaya lebih pelit dari orang miskin?

Banyak orang berdoa minta kaya agar bisa membantu orang-orang yang kekurangan materi. Doa semacam ini sering muncul di kolom komentar konten-konten berbagi yang bertebaran di media sosial. Mereka menganggap kekayaan adalah syarat utama agar bisa membantu atau menyenangkan orang lain. Pandangan itu wajar, logis, dan tidak bisa disalahkan.

Nyatanya, banyak studi dan survei menunjukkan bahwa kekayaan tidak berbanding lurus dengan tingkat kedermawanan. Laporan Kedermawanan Dunia (WGR) 2026 terbaru yang diluncurkan awal Juni makin menguatkan bukti-bukti yang ada. Sepuluh besar negara yang warganya paling banyak menyumbangkan pendapatannya adalah negara-negara berpendapatan menengah bawah di Afrika dan Asia.

Banyak studi dan survei menunjukkan bahwa kekayaan tidak berbanding lurus dengan tingkat kedermawanan.

Baca JugaEkonomi Tak Stabil, Kedermawanan Kelas Menengah Pun Labil
Baca JugaDermawan Lebih Kaya Dibanding Sang Egois

Tahun 2026, Nigeria kembali menjadi negara yang paling banyak menyumbang di antara 105 negara di dunia yang disurvei. Rata-rata sumbangan masyarakat di sana mencapai 2,8 persen dari pendapatannya atau hampir sama dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 2,83 persen. Dengan pendapatan per kapita sebesar 1.560 dolar AS atau Rp 27,8 juta, artinya hampir 44 dolar AS atau Rp 784.000 pendapatan mereka didonasikan.

Sebaliknya, Jepang juga konsisten menjadi negara yang porsi sumbangannya paling kecil, yaitu 0,2 persen, yang juga hampir sama seperti tahun lalu sebesar 0,16 persen. Dengan pendapatan per kapita sebesar 35.703 dolar AS atau Rp 363 juta, artinya pendapatan yang disumbangkan orang Jepang mencapai 71 dolar AS atau Rp 1,26 juta.

Dengan demikian, meski pendapatan per kapita masyarakat Jepang mencapai 23 kali pendapatan orang Nigeria, sumbangan uang masyarakat Jepang tidak sampai dua kali dari donasi orang Nigeria. Artinya, semakin kaya manusia tidak otomatis akan semakin banyak menyumbang.

”Pemberian donasi merupakan perilaku yang kompleks, sama seperti tindakan prososial lainnya,” kata peneliti psikologi donor dari Universitas Queensland Australia, Cassandra Chapman, dalam WGR 2026.

Tindakan prososial itu antara lain mengembalikan barang orang yang tertinggal atau terjatuh, membantu orang lain atau menjadi sukarelawan, hingga berhenti sejenak saat ada orang lain yang ingin menyeberang jalan.

Setiap orang memiliki motif berbeda untuk memberi. Ada yang karena empati, norma sosial dan budaya, ajaran agama, pengalaman masa lalu, hingga reputasi lembaga filantropi tempat masyarakat memercayakan donasinya. ”Apa pun alasan setiap orang menyumbang, naluri manusia tampaknya cenderung murah hati dan peduli dengan yang lain,” tambahnya.

Peneliti filantropi Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC), Hamid Abidin, mengatakan, orang miskin cenderung lebih banyak menyumbang karena terkait dengan solidaritas, seberapa dekat penyumbang dengan orang yang disumbang. Masyarakat Afrika dan Asia memiliki relasi sosial yang lebih dekat dibandingkan orang Eropa atau Amerika sehingga wajar jika sumbangan orang Afrika dan Asia lebih besar.

Baca JugaPendapatan Dermawan Lebih Tinggi daripada Orang Egois
Baca JugaMakin Kaya Cenderung Makin Pelit dan Egois

Demikian pula ajaran agama yang mewajibkan dan mendorong umatnya untuk senantiasa berbagi dengan yang lain. Masyarakat Afrika dan Asia umumnya masih menjadikan agama sebagai pedoman hidup dan norma pengatur kehidupan bermasyarakat.

”Besarnya sumbangan tidak ditentukan oleh seberapa besar sumber daya yang dimiliki, seberapa kaya seseorang, tetapi seberapa dekat dan tingkat kepercayaan penyumbang dengan pihak yang disumbang,” katanya.

Obyektif vs subektif

Manusia memang cenderung untuk senantiasa menyumbang dan membantu yang lain. Seiring terus bertumbuhnya pembangunan ekonomi di seluruh dunia, peningkatan kekayaan masyarakat dinilai memiliki pengaruh besar dalam perilaku prososial masyarakat. Namun, relasi atas semangat kedermawanan itu sepertinya tidak selalu positif atau negatif dengan jumlah pendapatan atau kekayaan yang dimiliki.

Banyak bukti sudah menunjukkan bahwa makin kaya seseorang, makin rendah pula kedermawanan yang dimiliki. Begitu pula sebaliknya, orang-orang miskin cenderung lebih murah hati. Namun, apakah bukti-bukti itu benar-benar menunjukkan orang miskin selalu dermawan dan orang kaya senantiasa pelit?

Patricia Lockwood dan Jo Cutler, dua peneliti dari Laboratorium Neurosains Pengambilan Keputusan Sosial Universitas Birmingham, Inggris, dalam tulisan mereka di Psychology Today, 14 Februari 2025, mengatakan, seberapa kaya seseorang atau seberapa kaya yang dirasakan seseorang berpengaruh besar terhadap cara mereka berinteraksi dengan orang lain.

Seberapa kaya seseorang merupakan bentuk dari kekayaan obyektif, sedangkan seberapa kaya perasaan seseorang merupakan bentuk kekayaan subyektif. Jika kekayaan obyektif ditentukan oleh banyaknya sumber daya yang dimiliki dan dikumpulkan seseorang, kekayaan subyektif didasarkan atas pandangan atau penilaian seseorang terhadap diri mereka dibandingkan orang lain dalam masyarakat.

Tidak seperti kekayaan obyektif, kekayaan subyektif yang membuat seseorang merasa lebih miskin justru membuat mereka lebih suka berdonasi.

Baca JugaEmpati Jadi Mata Uang Baru
Baca JugaPenurunan Kelas Menengah Berimbas pada Kedermawanan Masyarakat

Studi Paul Vanags dan rekan yang melibatkan 80.337 responden di 76 negara dan dipublikasikan di PNAS Nexus, 2 Februari 2025, menunjukkan mereka yang memiliki kekayaan obyektif adalah individu yang lebih prososial. Orang yang berada di lingkungan kaya juga akan lebih sering terlibat dalam perilaku-perilaku prososial.

Meski donasi yang diberikan kecil, masyarakat Jepang memiliki banyak budaya prososial. Saat menemukan barang yang bukan miliknya, mereka cenderung akan menyerahkannya ke kantor polisi atau petugas keamanan terdekat, bukan mengambilnya meski memiliki kesempatan untuk melakukannya. Mereka juga sangat peduli dengan kebersihan tempat umum yang telah mereka gunakan, seperti membersihkan lingkungan dari sampah sehabis menyaksikan pertandingan sepak bola.

Untuk mengukur kekayaan subyektif biasanya digunakan skala MacArthur yang membagi perasaan seseorang tentang seberapa kaya mereka dalam 10 anak tangga. Tangga teratas diisi orang paling kaya, berpendidikan tinggi, dan pekerjaan paling baik. Sementara di anak tangga terbawah ada orang yang merasa paling miskin, memiliki uang paling sedikit, berpenghasilan terendah, dan pekerjaan paling buruk atau penganggur. Ingat, ini semua tentang perasaan.

Dalam studi Jo Cutler dan rekan di Nature Aging, 11 Oktober 2021, yang melibatkan 46.576 responden di 67 negara, ditemukan bahwa mereka yang menganggap diri mereka ada di anak tangga lebih rendah dalam skala MacArthur akan memberikan donasi lebih banyak. Artinya, orang dengan kekayaan subyektif lebih rendah cenderung lebih murah hati.

Tidak seperti kekayaan obyektif, kekayaan subyektif yang membuat seseorang merasa lebih miskin justru membuat mereka lebih suka berdonasi. Perilaku prososial yang dilakukan seseorang itu merupakan efek dari ”kelangkaan” atau ”ketidakpastian” dari sumber daya yang mereka miliki. Namun, kelangkaan itu hanya bisa mendorong perilaku prososial jika kelangkaan itu berlangsung tidak terlalu ekstrem.

Karena itu, hubungan antara perilaku sosial dan kekayaan tidak selalu positif atau negatif, tetapi memiliki pola kompleks sehingga orang yang sangat kaya atau sangat miskin bisa berperilaku berbeda dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki kekayaan obyektif dan subyektif menengah. Dengan demikian, orang miskin belum tentu lebih mudah melakukan kegiatan prososial dan orang kaya juga belum tentu lebih pelit.

Baca JugaKedermawanan Berikan Solusi
Baca JugaZakat, Potensi Raksasa yang Belum Terkelola Maksimal

Studi Angelos Stamos dan rekan di situs Society for Personality and Social Psychology, 6 Mei 2020, pun membuktikan hal serupa, yaitu orang miskin tidak lebih dermawan dibandingkan orang kaya. Kemakmuran tidak selalu berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk membantu orang lain. Karena itu, perlu hati-hati mengambil kesimpulan antara kemakmuran ekonomi dan kemurahan hati.

”Tidak ada bukti kuat yang membuat kita bisa mengambil asumsi bahwa orang kaya lebih egois daripada orang miskin,” tulisnya.

Jadi, tak perlu berprasangka buruk terhadap orang lain hanya berdasarkan tingkat ekonominya. Sebab, semua manusia memiliki kecenderungan yang sama untuk senantiasa terhubung dan berbagi dengan orang lain.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waskita Precast (WSBP) Tuntaskan Suplai Material Beton untuk Proyek Sekolah Rakyat
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Inflasi Medis Indonesia Tertinggi di Asia pada 2026
• 59 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Antisipasi Puncak Kemarau Juli-Agustus 2026, Simak Daftar Wilayah Terdampak
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Pondok Ploso Kediri Dimeriahkan 7.000 Anggota ISHARI Jawa Timur
• 1 jam laluberitajatim.com
thumb
Kasus Curanmor Hari Ini: Empat Sepeda Motor Hilang di Sidoarjo dan Surabaya
• 17 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.