Bisnis.com, SURABAYA — PT Integra Indocabinet Tbk. (WOOD) membidik pertumbuhan pendapatan konservatif di kisaran 5% hingga 10% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada tahun buku 2026, sejalan dengan strategi perseroan yang gencar melakukan diversifikasi pasar guna mengurangi ketergantungan dari Amerika Serikat (AS).
Direktur WOOD, Wang Sutrisno, menjelaskan sepanjang 2025 industri furnitur ekspor tertekan kebijakan tarif retaliasi AS hingga 19% yang memukul segmen knockdown furniture kelas middle-low. Merespons hal tersebut, WOOD mengalihkan fokus ke produk kelas menengah ke atas (middle-up) dan memperkuat segmen building components.
"Langkah diversifikasi ini mulai membuahkan hasil nyata. Sejak akhir 2024, WOOD memperluas ekspansi ke pasar Eropa dengan pengapalan perdana produk engineering flooring pada Juni 2025. Alhasil, dominasi pasar AS yang historisnya di atas 90% berhasil ditekan menjadi 82% pada 2025, dan kembali turun ke level 73,7% dari total penjualan atau setara dengan Rp532,13 miliar pada kuartal I/2026," ujarnya, Jumat (19/6/2026)
Sementara itu, kata dia, pasar Eropa mencatatkan pertumbuhan eksponensial hingga 2.133% YoY menjadi Rp112,72 miliar, disusul pasar Asia sebesar Rp45,90 miliar, dan pasar domestik Indonesia yang tumbuh 634% YoY menjadi Rp31,63 miliar.
Dari sisi kinerja keuangan, Wang melanjutkan, WOOD membukukan laba kotor sebesar Rp153 miliar pada kuartal I/2026. Margin laba kotor (gross profit margin/GPM) perseroan justru merangkak naik sebesar 0,71 percentage points (ppt) ke level 21,2% dibandingkan periode kuartal I/2025 yang bertengger di posisi 20,5%.
"Adapun untuk laba operasional tercatat sebesar Rp80 miliar dengan margin laba usaha (operating profit margin/OPM) sebesar 11,1%. Di sisi lain, perseroan membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp28 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, turun dari posisi kuartal I/2025 yang senilai Rp48 miliar akibat penyesuaian profitabilitas global," ungkapnya.
Baca Juga
- Integra Indocabinet (WOOD) Buka Peluang Monetisasi Aset Karbon
- Integra Indocabinet (WOOD) Gandeng Ciputra (CTRA) Rambah Bisnis Properti
- Integra Indocabinet (WOOD) Garap Potensi Bisnis Baru
Hingga kuartal I/2026, menurutnya, fundamental neraca keuangan perseroan tetap sehat dengan total aset melampaui Rp8 triliun, ekuitas Rp4,5 triliun, rasio lancar 1,8 kali, serta rasio utang terhadap ekuitas yang konservatif di angka 0,76 kali.
Selain sektor manufaktur, Wang menyebut WOOD bersiap mengamankan sumber pendapatan baru lewat transformasi bisnis kehutanan (forestry) menjadi proyek konservasi, restorasi, dan perdagangan karbon (carbon trade). Segmen ini berhasil menyumbang pendapatan yang angkanya masih relatif kecil pada kuartal I/2026.
"Perseroan menargetkan sertifikasi karbon di Kalimantan rampung pada kuartal IV/2026, sehingga bisnis perhutanan berkelanjutan ini diproyeksikan mampu berkontribusi minimal 10% terhadap pendapatan konsolidasi dalam dua tahun ke depan," tuturnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





