Jakarta (ANTARA) - Kurang tidur dan stres berkepanjangan dapat mengganggu ritme alami hormon kortisol yang berperan penting dalam mengatur respons tubuh terhadap stres, metabolisme, hingga siklus tidur dan bangun.
Melansir dari laman Eating Well pada Sabtu, dokter spesialis endokrin Maram Khalifa mengatakan kortisol sebenarnya bukan hormon yang harus dihindari karena memiliki fungsi penting bagi tubuh.
"Kortisol adalah sistem alarm alami tubuh. Kadarnya secara normal mencapai puncak pada pagi hari untuk membantu kita bangun dan menurun pada malam hari agar tubuh dapat beristirahat," katanya.
Namun, menurut Khalifa, sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat mengganggu pola alami tersebut, terutama stres kronis dan kurang tidur.
Ia menjelaskan bahwa stres yang berlangsung terus-menerus membuat tubuh mempertahankan kadar kortisol pada tingkat yang lebih tinggi dalam waktu lama. Kondisi ini dapat mengganggu ritme harian kortisol, terutama dengan meningkatkan kadarnya pada malam hari ketika hormon tersebut seharusnya berada pada level rendah.
Akibatnya, tubuh menjadi lebih sulit memasuki fase relaksasi dan pemulihan yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan.
Baca juga: Orang yang kurang minum air hasilkan hormon stres lebih besar
Khalifa mengatakan kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, penyakit jantung, kecemasan, dan depresi.
Sementara itu, dokter Simran Malhotra menyebut orang yang secara konsisten tidur lebih sedikit pada malam hari cenderung memiliki kadar kortisol yang lebih tinggi menjelang waktu tidur.
Menurut dia, kebiasaan begadang karena bermain gawai, menonton tayangan secara berlebihan, atau menyelesaikan pekerjaan dapat memperburuk kondisi tersebut.
"Kualitas dan durasi tidur yang buruk dapat membuat kadar kortisol malam hari tetap tinggi," ujarnya.
Khalifa menjelaskan bahwa gangguan ritme kortisol dapat memengaruhi sensitivitas insulin, toleransi glukosa, serta meningkatkan risiko penumpukan lemak di area perut dan sindrom metabolik.
Untuk membantu menjaga ritme kortisol tetap sehat, para ahli menyarankan masyarakat mengelola stres melalui meditasi, latihan pernapasan, yoga, atau terapi perilaku kognitif.
Selain itu, aktivitas fisik secara teratur, jadwal tidur yang konsisten selama tujuh hingga sembilan jam per malam, serta rutinitas harian yang teratur juga dapat membantu menjaga keseimbangan hormon tersebut.
Para ahli menekankan bahwa suplemen penurun kortisol bukanlah solusi utama. Sebaliknya, kualitas tidur yang baik dan pengelolaan stres tetap menjadi langkah yang paling didukung bukti ilmiah untuk menjaga ritme kortisol tetap normal.
Baca juga: Tanda tubuh sedang kelebihan hormon stres
Baca juga: Stres berlebih? coba 6 kebiasaan ini supaya kadar kortisol turun alami
Baca juga: Tidur tidak nyenyak bisa jadi sinyal hormon stres meningkat
Melansir dari laman Eating Well pada Sabtu, dokter spesialis endokrin Maram Khalifa mengatakan kortisol sebenarnya bukan hormon yang harus dihindari karena memiliki fungsi penting bagi tubuh.
"Kortisol adalah sistem alarm alami tubuh. Kadarnya secara normal mencapai puncak pada pagi hari untuk membantu kita bangun dan menurun pada malam hari agar tubuh dapat beristirahat," katanya.
Namun, menurut Khalifa, sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat mengganggu pola alami tersebut, terutama stres kronis dan kurang tidur.
Ia menjelaskan bahwa stres yang berlangsung terus-menerus membuat tubuh mempertahankan kadar kortisol pada tingkat yang lebih tinggi dalam waktu lama. Kondisi ini dapat mengganggu ritme harian kortisol, terutama dengan meningkatkan kadarnya pada malam hari ketika hormon tersebut seharusnya berada pada level rendah.
Akibatnya, tubuh menjadi lebih sulit memasuki fase relaksasi dan pemulihan yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan.
Baca juga: Orang yang kurang minum air hasilkan hormon stres lebih besar
Khalifa mengatakan kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, penyakit jantung, kecemasan, dan depresi.
Sementara itu, dokter Simran Malhotra menyebut orang yang secara konsisten tidur lebih sedikit pada malam hari cenderung memiliki kadar kortisol yang lebih tinggi menjelang waktu tidur.
Menurut dia, kebiasaan begadang karena bermain gawai, menonton tayangan secara berlebihan, atau menyelesaikan pekerjaan dapat memperburuk kondisi tersebut.
"Kualitas dan durasi tidur yang buruk dapat membuat kadar kortisol malam hari tetap tinggi," ujarnya.
Khalifa menjelaskan bahwa gangguan ritme kortisol dapat memengaruhi sensitivitas insulin, toleransi glukosa, serta meningkatkan risiko penumpukan lemak di area perut dan sindrom metabolik.
Untuk membantu menjaga ritme kortisol tetap sehat, para ahli menyarankan masyarakat mengelola stres melalui meditasi, latihan pernapasan, yoga, atau terapi perilaku kognitif.
Selain itu, aktivitas fisik secara teratur, jadwal tidur yang konsisten selama tujuh hingga sembilan jam per malam, serta rutinitas harian yang teratur juga dapat membantu menjaga keseimbangan hormon tersebut.
Para ahli menekankan bahwa suplemen penurun kortisol bukanlah solusi utama. Sebaliknya, kualitas tidur yang baik dan pengelolaan stres tetap menjadi langkah yang paling didukung bukti ilmiah untuk menjaga ritme kortisol tetap normal.
Baca juga: Tanda tubuh sedang kelebihan hormon stres
Baca juga: Stres berlebih? coba 6 kebiasaan ini supaya kadar kortisol turun alami
Baca juga: Tidur tidak nyenyak bisa jadi sinyal hormon stres meningkat





