Anak Bukan Konten: Ketika Orang Tua Banyak Share Kehidupan Anak di Medsos

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Beberapa waktu lalu, media sosial kembali diramaikan dengan berbagai video anak-anak yang viral. Ada yang lucu, ada yang menggemaskan, ada pula yang mengundang simpati karena dianggap "jujur" dan "apa adanya". Namun di balik jutaan tayangan dan ribuan komentar itu, muncul satu pertanyaan yang jarang dibahas: apakah anak-anak tersebut benar-benar memahami bahwa kehidupan mereka sedang ditonton oleh banyak orang?

Di era digital seperti sekarang, membagikan momen keluarga sudah menjadi hal yang lumrah. Orang tua mengunggah foto anak yang baru lahir, video saat belajar berjalan, hingga keseharian mereka di rumah. Awalnya mungkin hanya untuk berbagi kebahagiaan dengan kerabat dan teman. Namun perlahan, batas antara dokumentasi keluarga dan konsumsi publik menjadi semakin kabur.

Fenomena ini dikenal dengan istilah sharenting, yaitu kebiasaan orang tua membagikan informasi, foto, atau video anak secara berlebihan di media sosial. Istilah ini mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat Indonesia, tetapi praktiknya sudah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tidak sedikit anak yang bahkan sudah memiliki jejak digital sejak hari pertama mereka lahir. Nama lengkap, wajah, sekolah, kebiasaan, hingga berbagai cerita pribadi mereka tersebar di internet tanpa pernah dimintai persetujuan.

Sebagian orang mungkin menganggap hal tersebut bukan masalah. Bukankah yang mengunggah adalah orang tua sendiri? Bukankah niatnya baik? Masalahnya, dunia digital tidak bekerja sesederhana itu. Sekali sebuah foto atau video diunggah ke internet, kontrol atas konten tersebut menjadi sangat terbatas. Konten dapat disimpan, dibagikan ulang, disebarluaskan ke platform lain, bahkan digunakan oleh pihak yang tidak dikenal. Yang hari ini dianggap lucu dan menghibur, bisa saja menjadi sumber rasa malu bagi anak beberapa tahun kemudian.

Bayangkan ketika seorang anak tumbuh remaja dan menemukan bahwa momen-momen paling pribadi dalam hidupnya telah ditonton oleh ribuan bahkan jutaan orang. Video saat menangis, dimarahi, dihukum, atau mengalami kesulitan belajar yang dulu dianggap lucu oleh orang tuanya mungkin justru menjadi beban psikologis baginya di masa depan.

Ironisnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa ancaman terhadap privasi anak sering kali bukan datang dari orang asing, melainkan dari unggahan yang mereka buat sendiri.

Fenomena ini semakin menarik untuk dibahas karena media sosial saat ini tidak hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga sumber penghasilan. Banyak konten keluarga yang memperoleh pendapatan dari iklan, kerja sama merek, hingga monetisasi platform digital. Dalam kondisi tertentu, anak bahkan menjadi daya tarik utama yang membuat sebuah akun mendapatkan banyak pengikut.

Masalahnya, internet tidak mengenal istilah lupa. Foto yang diunggah hari ini bisa saja masih beredar bertahun-tahun kemudian. Video yang dianggap lucu ketika anak berusia lima tahun mungkin tidak lagi terasa lucu ketika ia berusia lima belas tahun. Apa yang sekarang dianggap hiburan dapat berubah menjadi sumber rasa malu di masa depan.

Dari perspektif hukum keluarga, orang tua memang memiliki hak untuk mengasuh dan mengambil keputusan bagi anak. Namun, hak tersebut selalu disertai kewajiban untuk melindungi kepentingan terbaik anak. Karena itu, ketika orang tua membagikan foto, video, atau cerita pribadi anak di media sosial, yang perlu dipertimbangkan bukan hanya jumlah like atau komentar, tetapi juga dampaknya terhadap privasi dan masa depan anak. Sebab pada akhirnya, anak bukan sekadar bagian dari konten keluarga, melainkan individu yang memiliki hak untuk dihormati dan dilindungi.

Media sosial memang bekerja dengan cara seperti itu. Algoritma menyukai konten yang membuat orang berhenti menggulir layar. Konten yang lucu, mengharukan, atau memancing perdebatan biasanya akan lebih mudah tersebar. Akibatnya, tanpa sadar banyak pengguna mulai menyesuaikan apa yang mereka unggah demi mendapatkan lebih banyak perhatian.

Disinilah pentingnya melihat persoalan ini bukan hanya dari sudut pandang orang tua, tetapi juga dari sudut pandang anak. Coba bayangkan jika setiap momen memalukan yang pernah kita alami saat kecil direkam dan dapat ditonton siapa saja. Coba bayangkan jika kesalahan, tangisan, atau kegagalan kita menjadi hiburan bagi orang lain. Kemungkinan besar kita tidak akan nyaman.

Anak-anak mungkin belum bisa menyampaikan keberatan mereka hari ini. Namun suatu saat mereka akan tumbuh dewasa. Mereka akan memiliki pendapat, perasaan, dan kesadaran mengenai identitas dirinya sendiri. Ketika hari itu tiba, belum tentu mereka merasa senang melihat seluruh masa kecilnya tersimpan permanen di internet.

Pada Akhirnya, sebagai orang tua, kita tentu ingin menyimpan kenangan terbaik bersama anak. Namun tidak semua kenangan harus dipublikasikan. Ada momen yang mungkin lebih aman jika tetap berada di galeri ponsel atau album keluarga.

Karena anak bukan konten. Mereka adalah individu yang sedang bertumbuh, belajar mengenal dunia, dan berhak memiliki ruang privatnya sendiri.

Mungkin, bentuk kasih sayang yang paling penting di era media sosial bukanlah membagikan setiap momen tentang anak kepada dunia, melainkan memastikan bahwa ketika mereka tumbuh dewasa nanti, tidak ada jejak digital yang membuat mereka berharap masa kecilnya tidak pernah diunggah ke internet.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengembangan Bandara Minangkabau Ditargetkan Rampung 2027, Bisa Tampung 5,7 Juta Penumpang
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Serangan Bom di Thailand Selatan, 6 Polisi Luka
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Simak Penyebab Penuaan Dini dan Cara Mencegahnya
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Presiden Korsel Ajak Paus Leo XIV Datangi Korea Utara, Begini Jawabnya
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pamit dari PSM Makassar, PSIS Semarang Buka Peluang Nego Bomber Alex Tanque
• 6 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.