Melawan Rasa Malas dengan Prinsip ala Orang Jepang

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Tidak semua orang setiap saat memiliki semangat dalam hal yang sama, apalagi sifatnya terus-menerus. Ada kalanya kita merasa lelah, capek, bahkan tidak bersemangat melakukan aktivitas yang produktif. Hal ini wajar terjadi karena tubuh, apalagi otak kita, juga membutuhkan istirahat yang cukup. Tapi bagaimana jadinya kalau rasa malas itu terus-menerus menghampiri? Apakah ada yang salah dengan manajemen waktu kita? Atau mungkin ada sesuatu yang tidak efektif dalam menjalani kegiatan sehari-hari?

Pertanyaan itu pernah saya pikirkan sendiri, tepatnya pada suatu tengah malam ketika saya berbaring di kasur dengan niat baik: tidur lebih awal agar besok bisa bangun segar dan produktif. Namun seperti kebanyakan orang, niat baik itu kalah oleh satu gerakan jempol membuka Instagram "sebentar saja." Satu reels berlalu, lalu yang lain, sampai entah pukul berapa saya berhenti pada sebuah video pendek tentang filosofi kerja orang Jepang bernama Kaizen. Ironisnya, saya menemukan cara melawan kemalasan justru di tengah aktivitas yang menjadi salah satu wujud kemalasan itu sendiri.

Orang Jepang banyak mengajarkan motivasi dalam menjalani hidup, terutama soal pekerjaan. Mereka memiliki teknik dan strategi yang membuat aktivitas produktif terasa lebih mudah dijalani, bukan karena mereka tidak pernah merasa malas atau lelah, melainkan karena mereka punya sistem untuk menghadapinya. Salah satu yang paling saya ingat dari video itu adalah konsep bernama 'Kaizen'.

Kaizen berasal dari dua suku kata dalam bahasa Jepang, yaitu "Kai" yang berarti berubah, dan "Zen" yang berarti baik atau bijaksana. Jika digabungkan, dua suku kata ini membentuk satu makna: perubahan menjadi lebih baik. Sejarah konsep ini berawal dari kalangan pekerja di Jepang pascaperang dunia kedua, yang berfokus pada pencegahan cacat produksi di salah satu perusahaan otomotif terbesar di sana. Belakangan, filosofi ini tidak lagi terbatas pada dunia industri, melainkan ikut menyebar ke ranah pengembangan diri.

Salah satu prinsip yang paling saya ingat dari video itu disebut "Prinsip 1 Menit". Idenya sederhana, ketika ingin belajar atau melakukan sesuatu yang baru, lakukan saja selama satu menit dalam sehari, dan ulangi setiap hari. Bukan satu jam, bukan pula target besar yang sering membuat saya merasa terbebani sebelum mulai. Hanya satu menit. Saya pun bertanya pada diri sendiri malam itu: apakah benar sesuatu yang sekecil itu bisa membawa perubahan?

Saya teringat pada rak buku saya sendiri. Ada beberapa buku yang baru terbaca separuh, bahkan beberapa hanya tersentuh di halaman pertama sebelum akhirnya berpindah tempat menjadi sekadar pajangan. Bukan karena bukunya tidak menarik, saya pun selalu antusias setiap membelinya, tetapi karena target yang saya pasang sendiri terlalu besar. "Hari ini harus baca minimal dua puluh halaman," begitu biasanya saya berkata pada diri sendiri. Begitu lelah datang, target itu terasa seperti beban, dan ujungnya buku kembali tertutup tanpa dibuka lagi esok harinya.

Malam itu, saya mencoba sesuatu yang berbeda. Saya ambil salah satu buku yang sudah lama mangkrak di meja, lalu berkata pada diri sendiri: bukan dua puluh halaman, cukup satu menit saja. Cukup membaca apa pun yang bisa saya baca dalam enam puluh detik itu, tanpa beban harus menyelesaikan satu bab penuh. Sesuatu yang terasa sepele, hampir seperti tidak melakukan apa-apa.

Yang menarik, satu menit itu jarang benar-benar berhenti di satu menit. Begitu saya mulai membaca, rasa enggan yang tadinya menghalangi justru perlahan menghilang, dan saya kerap melanjutkan tanpa sadar sampai beberapa halaman lebih. Ternyata bagian tersulit bukan soal membaca itu sendiri, melainkan soal memulainya. Selama ini saya selalu menunggu motivasi besar datang dulu sebelum bertindak, padahal yang sebenarnya saya butuhkan hanyalah langkah kecil yang cukup ringan untuk dilakukan, bahkan di saat rasa malas itu masih ada.

Saya pun mulai memahami bahwa Kaizen bekerja bukan dengan melawan rasa malas secara langsung, melainkan dengan menghindarinya lewat pintu samping. Target yang terlalu besar membuat otak kita menolak sebelum mencoba, sementara target yang kecil terasa terlalu sepele untuk ditolak. Dan dari titik kecil itulah, sesuatu yang lebih besar perlahan bisa tumbuh meski saya sendiri masih dalam proses membiasakannya, belum sepenuhnya konsisten setiap hari.

Pengalaman yang sama saya temukan ketika mencoba menulis. Selama ini, setiap kali ingin menulis, saya selalu membayangkan harus menghasilkan satu tulisan utuh dalam satu duduk lengkap dengan pembuka yang menarik, alur yang rapi, hingga penutup yang berkesan. Bayangan itu sendiri sudah cukup membuat saya menunda, bahkan sebelum kursor sempat menyentuh halaman kosong. Berapa banyak ide yang akhirnya menguap begitu saja, hanya karena saya menunggu waktu yang "tepat" dan kondisi yang "siap" untuk menulis dengan sempurna.

Dengan prinsip yang sama, saya mencoba menurunkan targetnya. Bukan satu tulisan utuh, cukup satu menit menulis apa saja yang ada di kepala tanpa peduli rapi atau tidak, tanpa peduli akan dibaca orang lain atau hanya tersimpan sebagai catatan pribadi. Anehnya, cara ini membuat halaman kosong yang dulu terasa menakutkan, kini terasa lebih ramah untuk didekati.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa Kaizen sudah mengubah saya menjadi pribadi yang rajin membaca dan menulis setiap hari tanpa henti. Masih ada hari-hari saya kembali menunda, masih ada buku yang tergeletak lebih lama dari seharusnya. Namun ada satu hal yang terasa berbeda: rasa malas itu tidak lagi terasa seperti tembok besar yang harus saya dobrak sekaligus. Ia lebih mirip pintu kecil yang ternyata bisa saya buka, sedikit demi sedikit, dengan satu menit yang sederhana.

Mungkin itulah inti dari prinsip ‘Kaizen’ yang sebenarnya, bukan soal seberapa besar perubahan yang bisa kita lakukan hari ini, melainkan seberapa kecil langkah yang berani kita ambil, agar besok kita masih punya alasan untuk melangkah lagi. Dan jika Anda yang membaca tulisan ini juga sedang berjuang dengan rasa malas yang sama, mungkin tidak perlu menunggu motivasi besar untuk datang. Cukup satu menit, dan lihat ke mana ia akan membawa Anda.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Goa Beloyot Simpan Lukisan Berusia 40.000 Tahun, Jadi Andalan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Prabowo Setuju Skema Pelatnas Multiyears untuk Pembinaan Atlet Jangka Panjang
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Alam Sutera Reality Gelar Audiensi dengan Metro TV, Jajaki Kolaborasi Strategis
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PLN UP3 Parepare Gandeng UMKM Lokal Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Golkar Nilai Jokowi Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode Patahkan Isu 2 Matahari
• 7 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.