Bisnis.com, MAKASSAR — PT Pegadaian (Persero) memperluas penetrasi pasar untuk produk gadai efek, dengan membidik para investor saham dan pemegang obligasi di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) dan sekitarnya.
Seperti diketahui, gadai efek adalah layanan pinjaman atau pembiayaan yang menggunakan aset surat berharga, seperti saham atau obligasi, sebagai jaminan. Biasa digunakan sebagai alternatif pendanaan jangka pendek bagi masyarakat yang membutuhkan likuiditas cepat, tanpa harus kehilangan momentum investasi atau melepas kepemilikan asetnya.
Unit Gadai Efek PT Pegadaian M. Hanafi Fauzi Seva mengatakan pihaknya menerapkan fleksibilitas plafon yang lebar guna menjaring berbagai segmen nasabah, baik retail maupun korporasi, utamanya di Makassar.
Batas pinjaman individu mulai dari Rp1 juta hingga maksimal Rp5 miliar. Sementara batas pinjaman korporasi maksimal hingga Rp20 miliar.
Hanafi menjelaskan, penentuan nilai pinjaman didasarkan pada real value atau nilai bersih aset pada saat pengajuan pinjaman dilakukan, bukan harga beli awal.
"Rasio agunan yang diterapkan berkisar dua kali lipat dari nilai pinjaman. Jadi, jika nasabah membutuhkan pinjaman sebesar Rp10 juta, nilai portofolio saham yang diagunkan idealnya berada di rentang Rp18 juta hingga Rp20 juta," jelasnya pada pelaksanaan BRI Consumer Expo di Makassar, Sabtu (20/6/2026).
Baca Juga
- Harga Buyback Emas Antam, UBS & Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini Sabtu 20 Juni 2026
- Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini Sabtu 20 Juni 2026
- Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Sabtu 20 Juni 2026
Untuk mempermudah aksesibilitas bagi para investor di Sulsel, Pegadaian telah melakukan integrasi sistem full online berkolaborasi dengan BRI Danareksa Sekuritas melalui aplikasi BRIGHTS. Melalui kerja sama seamless ini, nasabah tidak perlu lagi mendatangi kantor cabang atau mencetak dokumen fisik.
Proses penyaringan saham jaminan pun dilakukan secara otomatis oleh sistem. Adapun kriteria saham yang dapat diterima sebagai agunan saat ini adalah saham-saham yang masuk dalam indeks IDX80 dengan ketentuan batas potongan nilai maksimal sebesar 30%.
Sementara itu, menjawab tantangan volatilitas pasar saham yang kerap bergerak fluktuatif, Pegadaian tetap menerapkan mitigasi risiko melalui mekanisme margin call.
"Apabila harga saham jaminan turun secara signifikan hingga menyentuh batas tertentu, nasabah akan diminta melakukan penyesuaian. Opsi penyesuaian tersebut dapat berupa mencicil sebagian uang pinjaman atau menambah jumlah lot saham yang diagunkan agar nilai jaminan kembali ideal," ucap Hanafi.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total investor pasar modal di Sulsel terus mengalami lonjakan pesat. Pada posisi Maret 2026 jumlahnya telah mencapai 525.596 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 57,63% (year-on-year/yoy).
Investor reksa dana menjadi yang terbanyak menembus 617.794 SID, mencatatkan pertumbuhan sebesar 58,23% yoy. Kemudian disusul instrumen saham meningkat 47,47% yoy menjadi 199.671 SID dan Surat Berharga Negara (SBN) tumbuh 25,47% yoy menjadi 22.628 SID.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Moch. Muchlasin menjelaskan bahwa geliat pasar modal di Sulsel terus menunjukkan perkembangan positif karena didorong oleh penetrasi akses layanan investasi yang kian inklusif serta masifnya program literasi keuangan.
Pada akhirnya upaya-upaya yang dilakukan sejumlah stakeholder dalam memacu literasi, berdampak pada meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap investasi jangka panjang.
"Lompatan performa pasar modal ini menjadi indikator kuat bahwa produk investasi ini menjadi pilihan utama masyarakat urban hingga ke daerah. Tingginya pertumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat semakin percaya dengan investasi," papar Muchlasin.





