Pantau - Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance menegaskan bahwa tindakan militer terhadap Iran masih menjadi salah satu opsi yang dapat diambil Washington apabila Teheran tidak mengubah sikapnya dalam proses penyelesaian konflik dan negosiasi yang sedang berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan Vance dalam wawancara dengan CBN News yang dirilis pada Jumat (19/6), di tengah upaya kedua negara membangun kesepahaman terkait isu nuklir dan pencabutan sanksi.
“Tindakan militer tambahan selalu menjadi salah satu opsi. Kami selalu bisa melakukannya,” ungkap Vance.
AS Tetap Pertimbangkan Berbagai SkenarioVance menyatakan pemerintah Amerika Serikat akan terus mengevaluasi berbagai langkah yang tersedia, termasuk opsi militer, apabila Iran tidak menunjukkan perubahan sikap dalam proses negosiasi.
Pernyataan itu muncul setelah Iran dan Amerika Serikat mengonfirmasi penyusunan nota kesepahaman yang menjadi dasar menuju kesepakatan akhir antara kedua negara.
Pada 14 Juni 2026, kedua pihak menyatakan proses penyusunan dokumen telah selesai sebelum akhirnya ditandatangani secara jarak jauh pada 18 Juni 2026.
Nota Kesepahaman Jadi Dasar Negosiasi LanjutanDokumen tersebut memberikan waktu selama 60 hari bagi Iran dan Amerika Serikat untuk merundingkan kesepakatan final terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi yang diberlakukan Washington.
Selain itu, nota kesepahaman juga mengatur tenggat waktu bagi Amerika Serikat untuk mencabut blokade angkatan lautnya serta bagi Iran untuk memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Kesepakatan awal tersebut bertujuan mengakhiri konflik militer yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 dan membuka jalan bagi normalisasi hubungan kedua negara.
Meski proses diplomatik masih berjalan, pernyataan Vance menunjukkan bahwa Washington tetap mempertahankan opsi militer sebagai bagian dari strategi menghadapi perkembangan situasi dengan Iran.




