Jakarta (ANTARA) - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov memandang penilaian MSCI terhadap pasar modal Indonesia lebih tepat dibaca sebagai masukan untuk melanjutkan perbaikan yang sudah berjalan melalui agenda reformasi integritas.
Penilaian dari penyedia indeks global tersebut, ujar Abra, bukan sebagai sinyal bahwa daya tarik pasar modal Indonesia sedang mengalami penurunan secara fundamental.
“Artinya, agenda perbaikannya sudah ada, prosesnya sedang berlangsung, dan keputusan MSCI kali ini dapat menjadi momentum untuk mempercepat penyempurnaan tersebut," kata Abra dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Ia menilai sebagian besar aspek yang menjadi perhatian MSCI sebenarnya bukan isu baru. Berbagai langkah perbaikan terkait keterbukaan informasi, tata kelola pasar, perlindungan investor, dan penguatan infrastruktur pasar telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Abra, penilaian MSCI patut diapresiasi karena relatif sesuai dengan ekspektasi yang berkembang di kalangan investor, khususnya setelah muncul berbagai kekhawatiran dalam beberapa bulan terakhir terkait potensi perubahan penilaian terhadap pasar modal Indonesia.
Adapun indikator ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan, inflasi Mei 2026 berada pada level 3,08 persen, rasio kecukupan modal perbankan tetap berada di atas 25 persen, serta cadangan devisa pada akhir Mei 2026 mencapai 144,9 miliar dolar AS.
Baca juga: Pengamat: Status RI sebagai Emerging Market jaga kepercayaan investor
Baca juga: Indef: Ulasan MSCI pertegas pasar RI relevan bagi investor global
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dan sektor keuangan nasional masih terjaga di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda,” kata Abra.
Selain data ekonomi saat ini, Abra mengatakan bahwa investor juga memperhatikan arah kebijakan, kepastian regulasi, kualitas tata kelola, serta prospek investasi dalam jangka menengah dan panjang.
Karena itu, upaya memperkuat transparansi informasi dan meningkatkan kualitas pasar tetap perlu dilanjutkan agar kepercayaan investor terus tumbuh.
Dari penilaian MSCI, menurut Abra, pasar memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai area yang masih perlu diperkuat, sementara fondasi utama pasar modal Indonesia tetap dinilai cukup baik.
“Indonesia tidak sedang menghadapi persoalan yang mengubah status atau posisi pasarnya secara mendasar, melainkan tantangan untuk terus meningkatkan kualitas pasar yang sudah ada,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa penilaian MSCI kali ini lebih layak dipandang sebagai konfirmasi atas ekspektasi investor sekaligus dorongan untuk melanjutkan reformasi pasar.
“Dengan posisi Indonesia yang masih relatif kuat di kawasan dan berbagai perbaikan yang terus berjalan, alasan untuk tetap optimistis terhadap perkembangan pasar modal Indonesia ke depan masih sangat terbuka,” kata Abra.
Sebagai informasi, MSCI pada Jumat (19/6) pagi telah memberikan penilaian terhadap aksesibilitas pasar modal Indonesia dalam Global Market Accessibility Review 2026.
Secara umum, penilaian MSCI yang mencakup 18 indikator terhadap pasar Indonesia tidak mengalami banyak perubahan.
Namun demikian, terdapat penyesuaian pada indikator Information Flow (Arus Informasi) dan "Foreign Exchange Market Liberalization Level" yang turun dari sebelumnya "+" menjadi "-".
Baca juga: Pemerintah yakin RI bertahan di kategori "emerging market"
Baca juga: AEI: Ulasan MSCI momen perkuat kualitas pasar modal lebih kompetitif
Penilaian dari penyedia indeks global tersebut, ujar Abra, bukan sebagai sinyal bahwa daya tarik pasar modal Indonesia sedang mengalami penurunan secara fundamental.
“Artinya, agenda perbaikannya sudah ada, prosesnya sedang berlangsung, dan keputusan MSCI kali ini dapat menjadi momentum untuk mempercepat penyempurnaan tersebut," kata Abra dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Ia menilai sebagian besar aspek yang menjadi perhatian MSCI sebenarnya bukan isu baru. Berbagai langkah perbaikan terkait keterbukaan informasi, tata kelola pasar, perlindungan investor, dan penguatan infrastruktur pasar telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Abra, penilaian MSCI patut diapresiasi karena relatif sesuai dengan ekspektasi yang berkembang di kalangan investor, khususnya setelah muncul berbagai kekhawatiran dalam beberapa bulan terakhir terkait potensi perubahan penilaian terhadap pasar modal Indonesia.
Adapun indikator ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan, inflasi Mei 2026 berada pada level 3,08 persen, rasio kecukupan modal perbankan tetap berada di atas 25 persen, serta cadangan devisa pada akhir Mei 2026 mencapai 144,9 miliar dolar AS.
Baca juga: Pengamat: Status RI sebagai Emerging Market jaga kepercayaan investor
Baca juga: Indef: Ulasan MSCI pertegas pasar RI relevan bagi investor global
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dan sektor keuangan nasional masih terjaga di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda,” kata Abra.
Selain data ekonomi saat ini, Abra mengatakan bahwa investor juga memperhatikan arah kebijakan, kepastian regulasi, kualitas tata kelola, serta prospek investasi dalam jangka menengah dan panjang.
Karena itu, upaya memperkuat transparansi informasi dan meningkatkan kualitas pasar tetap perlu dilanjutkan agar kepercayaan investor terus tumbuh.
Dari penilaian MSCI, menurut Abra, pasar memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai area yang masih perlu diperkuat, sementara fondasi utama pasar modal Indonesia tetap dinilai cukup baik.
“Indonesia tidak sedang menghadapi persoalan yang mengubah status atau posisi pasarnya secara mendasar, melainkan tantangan untuk terus meningkatkan kualitas pasar yang sudah ada,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa penilaian MSCI kali ini lebih layak dipandang sebagai konfirmasi atas ekspektasi investor sekaligus dorongan untuk melanjutkan reformasi pasar.
“Dengan posisi Indonesia yang masih relatif kuat di kawasan dan berbagai perbaikan yang terus berjalan, alasan untuk tetap optimistis terhadap perkembangan pasar modal Indonesia ke depan masih sangat terbuka,” kata Abra.
Sebagai informasi, MSCI pada Jumat (19/6) pagi telah memberikan penilaian terhadap aksesibilitas pasar modal Indonesia dalam Global Market Accessibility Review 2026.
Secara umum, penilaian MSCI yang mencakup 18 indikator terhadap pasar Indonesia tidak mengalami banyak perubahan.
Namun demikian, terdapat penyesuaian pada indikator Information Flow (Arus Informasi) dan "Foreign Exchange Market Liberalization Level" yang turun dari sebelumnya "+" menjadi "-".
Baca juga: Pemerintah yakin RI bertahan di kategori "emerging market"
Baca juga: AEI: Ulasan MSCI momen perkuat kualitas pasar modal lebih kompetitif





