REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ondel-ondel menjadi salah satu ikon yang paling melekat dengan memori kolektif Jakarta. Sayangnya, dalam beberapa dekade terakhir, warga terbiasa melihat sepasang boneka raksasa ini berjalan gontai di lampu merah atau gang-gang sempit, mengasongkan kaleng kosong demi sekeping koin.
Nilai sakral dan filosofisnya perlahan luntur, tergerus oleh kerasnya tuntutan ekonomi jalanan. Namun, sebuah langkah sedang disiapkan untuk memulihkan "martabat" sang ikon budaya.
- Anne Hathaway Hamil Anak Ketiga pada Usia 43 tahun, Seberapa Aman? Ini Kata Dokter
- Belajar dari Kasus Penyekapan di Bandung, Kenali Tanda Hubungan Mulai Nggak Sehat
- Ariana Grande Menyalurkan Bantuan untuk Anak-Anak Gaza
Menjelang peringatan lima abad atau 500 tahun Jakarta pada 2027, sebuah visi besar dicanangkan untuk membawa kebudayaan Betawi naik kelas ke panggung dunia. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berkomitmen untuk mengembalikan simbol-simbol budaya lokal ke tempat yang semestinya.
Pramono mengatakan, perhatian terhadap budaya Betawi merupakan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta yang menempatkan budaya Betawi sebagai kultur utama ibu kota. Dengan landasan regulasi tersebut, pembenahan secara struktural dan kultural mulai dilakukan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Fokus utama yang paling menyita perhatian adalah penyelamatan citra ondel-ondel itu sendiri. Melarangnya menjadi alat mengais rezeki di jalanan adalah langkah awal yang penuh tantangan, mengingat hal tersebut berkaitan erat dengan urusan isi perut sebagian warga.
"Saya ingin Betawi ini bisa bertarung secara internasional. Karena itu, secara pribadi sebagai gubernur, saya melarang ondel-ondel menjadi cara untuk mencari nafkah dengan mengamen. Padahal, ondel-ondel memiliki nilai filosofis yang luar biasa," ujar Pramono saat memberikan sambutan pada Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi 2026 di Plaza Monas, Jakarta Pusat, Jumat (19/6/2026) malam.
Rencana besar ini tidak berhenti pada narasi pelarangan semata. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memahami betul bahwa melarang tanpa memberikan panggung alternatif yang layak hanya akan mematikan kreativitas. Oleh karena itu, sebuah proyek kolosal yang mempertemukan tradisi luhur dengan estetika modern sedang digodok.
Pramono menyebut, pada perayaan 500 tahun Jakarta tahun depan, Pemprov DKI juga akan menghadirkan 500 ondel-ondel dengan wajah baru hasil rancangan para desainer papan atas.
"Dalam rangka 500 tahun nanti, saya akan menampilkan 500 ondel-ondel yang dibuat oleh desainer-desainer top, yang akan memberikan wajah baru ondel-ondel Jakarta," kata dia.
Bayangkan sebuah parade akbar di mana 500 ondel-ondel berbaris megah, menampilkan detail keindahan tekstil, warna, dan struktur yang dikerjakan oleh tangan-tangan kreatif terbaik bangsa. Sentuhan para desainer ternama ini diproyeksikan mampu menjembatani nilai historis ondel-ondel dengan selera global, tanpa kehilangan ruh aslinya yang sarat akan makna penolak bala dan simbol kegembiraan masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat memantik pandangan baru, baik dari warga lokal maupun wisatawan mancanegara, bahwa ondel-ondel adalah sebuah karya seni adiluhung yang layak dipajang di galeri internasional atau festival budaya kelas dunia.




