Setelah Iran, Trump Alihkan Fokus ke Program Nuklir Korea Utara

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut akan kembali memusatkan perhatian pada isu nuklir Korea Utara setelah Washington mencapai kesepakatan terkait Iran.

Dikutip melalui Aljazeera, Sabtu (20/6/2026), sinyal tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan dimulainya kembali diplomasi antara Washington dan Pyongyang yang selama beberapa tahun terakhir mengalami kebuntuan.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengungkapkan, Trump menyampaikan secara langsung keinginannya untuk kembali menangani masalah Korea Utara saat pertemuan makan malam para pemimpin negara G7 pada Jumat (20/6/2026).

Menurut Lee, Trump menilai saat ini merupakan momentum yang tepat untuk kembali membahas program nuklir Pyongyang.

“Telah tiba waktunya untuk memperhatikan masalah Korea Utara,” kata Lee menirukan pernyataan Trump dalam konferensi pers.

Dalam pertemuan tersebut, Lee juga menyampaikan kepada Trump bahwa efektivitas sanksi terhadap Korea Utara semakin berkurang, terutama setelah hubungan militer Pyongyang dan Moskow semakin erat. Menurut Lee, dukungan Rusia telah memberikan keuntungan strategi bagi rezim Kim Jong Un.

“Bahkan bantuan kecil dari Rusia sudah sangat membantu Korea Utara,” ujar Lee.

Perkembangan geopolitik di Semenanjung Korea belakangan memang menunjukkan perubahan yang signifikan. Kim Jong Un mempererat hubungan dengan Rusia dengan mengirimkan pasukan dan amunisi untuk mendukung perang di Ukraina.

Pada saat yang sama, Pyongyang juga meningkatkan hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Dalam sejumlah pertemuan tingkat tinggi terbaru, isu denuklirisasi Korea Utara bahkan tidak lagi menjadi fokus utama, sesuatu yang oleh sejumlah analis dipandang sebagai bentuk penerimaan diam-diam terhadap status nuklir Pyongyang.

Korea Utara telah menyatakan dirinya sebagai negara nuklir yang "tidak dapat diubah" sejak kegagalan perundingan antara Trump dan Kim di Hanoi pada tahun 2019.

Sejak saat itu, Pyongyang terus meningkatkan kapasitas persenjataannya, termasuk dengan membangun fasilitas baru untuk memproduksi bahan bakar senjata nuklir.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump tercatat tiga kali bertemu Kim Jong Un dalam upaya mencapai kesepakatan denuklirisasi. Meski hubungan pribadi keduanya sempat mencair, termasuk ketika Trump menyatakan dirinya dan Kim 'jatuh cinta', diplomasi tersebut tidak menghasilkan kemajuan yang konkret.

Upaya Trump untuk kembali membuka dialog juga belum menghasilkan hasil. Tahun lalu, Trump menyatakan dirinya '100%' terbuka untuk kembali bertemu Kim. Namun, hingga kini, tawaran tersebut belum mendapat tanggapan dari Pyongyang.

Pada Sabtu (20/6/2026), Trump bahkan mengunggah foto lama pertemuannya dengan Kim di Singapura pada 2018 tanpa menyertakan keterangan apa pun, memicu spekulasi mengenai kemungkinan dimulainya kembali diplomasi AS-Korea Utara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wanita di Bekasi Bawa Kabur Motor Ibu Kandung dan Ancam Jual Anak
• 3 jam laludetik.com
thumb
Kurang fokus di akhir laga lawan Pelita Jaya jadi evaluasi Hornbills
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
5 Berita Terpopuler: Ada Angin Segar, Seluruh PNS & PPPK Harus Tahu, Presiden Prabowo Sudah Diminta Turun Tangan
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Internal Portugal Memanas, Pacar Joao Neves dan Georgina Rodriguez Saling Semprot di Medsos Usai Laga Perdana
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Polisi Tangkap 4 Orang Terkait Kasus Penemuan Dua Mayat Remaja di Selokan Bekasi
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.