Badan Urusan Kebudayaan Jepang membentuk sebuah konsorsium yang melibatkan penerbit, penerjemah, dan perusahaan distribusi untuk mendorong ekspansi manga (komik) Jepang ke pasar global sekaligus meningkatkan peredaran edisi resmi di luar negeri.
Dikutip dari The Mainichi, Sabtu (20/6), dalam pertemuan perdana yang digelar pada Kamis (18/6) para peserta konsorsium membahas berbagai tantangan dalam memperluas distribusi manga edisi resmi di pasar internasional dan menyepakati rencana untuk memperkuat promosi di luar negeri.
Konsorsium tersebut juga akan mendiskusikan pengembangan platform digital distribusi manga Jepang yang dapat memuat berbagai judul dari sejumlah penerbit. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan penjualan konten penerbitan yang berfokus pada manga hingga mencapai 1 triliun yen, sekitar USD 6,2 miliar atau Rp 110 triliun (kurs Rp 17.804) pada 2033.
Pemerintah Jepang telah menetapkan industri konten, termasuk manga, anime, gim dan film sebagai salah satu dari 17 sektor strategis yang ditargetkan menarik investasi besar dari sektor publik maupun swasta. Karena manga kerap menjadi sumber cerita bagi berbagai karya kreatif lainnya, medium ini dianggap sebagai fondasi penting daya saing industri konten Jepang.
Pada 2022, penjualan manga Jepang di luar negeri mencapai sekitar 320 miliar yen atau sekitar USD 1,99 miliar. Namun, kerugian akibat pembajakan di luar Jepang diperkirakan mencapai 2,6 triliun yen atau sekitar USD 16,13 miliar per tahun. Karena itu, perluasan distribusi edisi resmi di pasar internasional menjadi tantangan utama yang harus diatasi.
Konsorsium tersebut berencana mengeksplorasi metode penerjemahan yang lebih sesuai untuk manga, termasuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif guna mempercepat penyebaran edisi resmi.
Selain itu, karena regulasi terkait konten seksual dan berbagai bentuk penggambaran lainnya berbeda di setiap negara atau wilayah, serta Uni Eropa mewajibkan aksesibilitas bagi pembaca dengan gangguan penglihatan atau kesulitan membaca, para anggota akan mengumpulkan berbagai studi kasus internasional untuk menyusun respons yang tepat.
Badan Kebudayaan Jepang Ingin Menyebarkan Manga ke Seluruh DuniaMeski badan tersebut mempertimbangkan kemungkinan pembentukan platform nasional terpadu, proses diskusinya diperkirakan tidak akan mudah. Menurut sejumlah pihak yang terlibat, industri manga saat ini belum memiliki layanan platform besar yang sebanding dengan Netflix di sektor film dan serial televisi.
Sebagian pejabat pemerintah mendukung pembentukan sistem berlangganan berbasis platform nasional terpadu. Namun, sejumlah penerbit lebih memilih mempertahankan platform masing-masing demi mendukung strategi lintas media dan pengaturan pembagian keuntungan yang sudah berjalan.
Badan Urusan Kebudayaan Jepang berencana melanjutkan pembahasan secara hati-hati dan menargetkan kesimpulan akhir pada tahun fiskal 2028.
Upaya memperluas pasar manga ke luar negeri sebenarnya pernah dilakukan sebelumnya. Pada awal 2010-an, sejumlah penerbit meluncurkan portal manga berbahasa Inggris. Namun, platform tersebut akhirnya ditutup karena keterbatasan jumlah judul yang tersedia.
Melalui konsorsium baru ini, pemerintah dan industri berharap dapat menyediakan lebih banyak karya melalui peningkatan aktivitas penerjemahan serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap budaya dan regulasi di negara-negara tujuan.
“Kami ingin mendukung, sebagai seluruh pemerintah, sebuah mekanisme yang memungkinkan manga Jepang dibagikan kepada dunia dan para kreator memperoleh imbalan dari mereka yang menikmatinya. Dengan mempertimbangkan metode distribusi generasi berikutnya, kami akan bekerja sama melalui kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta,” ucap Komisaris Badan Urusan Kebudayaan Jepang, Gakuji Ito, dalam pertemuan pada Kamis (18/6).





