Sekolah Rakyat Bawa Tukang Las Punya Impian ke Negeri Sakura

detik.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Aroma besi terbakar dari ujung stang las pernah menjadi dunia sehari-hari bagi Siswa kelas 2 SMP Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo, Aldo Riski Saputra. Namun, Aldo kini mulai menata kembali kehidupannya.

Meski baru berusia 16 tahun, Aldo sudah terbiasa dengan dunia kerja. Ia terampil mengolah besi untuk membuat pagar, rel, kanopi, hingga rak makanan. Namun, di balik keterampilannya, ia pernah menghadapi masa yang cukup sulit, termasuk salah pergaulan, sebelum akhirnya memutuskan untuk memperbaiki diri dan fokus pada masa depannya.

Dua tahun lalu, saat duduk di kelas 2 SMPN 2 Sampung, Ponorogo, langkah Aldo sempat goyah. Lingkungan pergaulan yang salah membuatnya sering membolos dan melanggar aturan sekolah. Akumulasi poin pelanggaran memaksanya harus keluar dari sekolah formal.

"Waktu itu salah pergaulan. Ikut-ikut teman yang nggak teratur, nongkrong, merokok," ungkap Aldo dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).

Putus sekolah di usia belia sempat membuat Aldo kebingungan menentukan arah. Dalam kondisi tersebut, ia memutuskan untuk bekerja. Selama hampir enam bulan, ia bekerja di bengkel las milik tetangga, sebelum kemudian merantau ke Mojokerto dan Malang untuk membantu pemasangan banner.

Pekerjaan yang dijalaninya cukup menantang dan berisiko. Tanpa alat pengaman mata yang memadai, Aldo belajar mengelas secara otodidak.

"Sering kecolongan (percikan api las). Sampai mata bengkak dan enggak bisa melihat. Ada tiga kali lebih kayak begitu," ujarnya.

Meski menghadapi risiko dalam pekerjaannya, Aldo menunjukkan kemampuan yang cukup baik. Dalam waktu singkat, ia bisa membuat berbagai struktur besi, termasuk teknik trellis yang lebih rumit.

Secara finansial, ia mulai mandiri. Dari pekerjaan borongan membuat pagar selama satu minggu, ia memperoleh sekitar Rp600 ribu. Untuk pembuatan rak makanan yang selesai dalam dua hari, ia mendapat sekitar Rp250 ribu. Ia juga pernah ikut saudaranya bekerja keliling memasang banner di jalan.

Bagi anak remaja, memegang uang ratusan ribu dari keringat sendiri tentu terasa menggiurkan. Apalagi sang ayah yang bekerja sebagai tukang bangunan harus memikirkan tiga anak lelaki yang masih aktif sekolah. Namun, Aldo tahu ini bukan akhir dari jalannya.

Titik Awal Meraih Masa Depan

Perubahan hidup Aldo dimulai ketika salah satu saudaranya memberi informasi tentang Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo, sebuah lembaga yang membuka kesempatan belajar bagi anak-anak yang putus sekolah. Setelah mempertimbangkan hal tersebut, Aldo memutuskan untuk pulang dan mendaftar.

Kembali ke bangku sekolah berarti Aldo harus merelakan dompetnya kosong. Tidak ada lagi uang ratusan ribu hasil borongan ngelas. Kini, ia kembali menjadi siswa kelas 2 SMP di SRT 5 Ponorogo.

"Rasanya ya beda, biasanya pegang uang sekarang enggak. Tapi di sini semua sudah dipenuhi. Makan, alat mandi, perlengkapan, semua komplit. Kayak ada yang menjaga," ucap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Saat ditanya alasannya rela meninggalkan penghasilan demi kembali belajar, jawaban Aldo sederhana. "Mau perbaiki masa depan," ungkapnya.

Ia menyadari keahliannya akan jauh lebih kuat jika ditopang oleh pendidikan resmi. Aldo tidak ingin selamanya menjadi pekerja kasar serabutan tanpa arah yang jelas.

Bermimpi ke Negeri Sakura

Di SRT 5 Ponorogo, Aldo perlahan menata kembali hidupnya. Kebiasaan buruk merokok dan membolos sudah ia tinggalkan. Ia kini dikenal sebagai siswa yang aktif, menyukai pelajaran IPS dan olahraga, khususnya bola voli dan badminton. Aldo bahkan sempat terpilih masuk dalam kontingen Jambore Nasional (Jamnas) di Cibubur, meski takdir berkata lain karena ia terkendala batasan usia di menit-menit terakhir.

Keahlian mengelas Aldo pun tidak akan layu di sekolah ini. Pihak sekolah, melalui kepala sekolah, berencana membuatkan bengkel las khusus di belakang gudang agar Aldo bisa terus mengasah bakatnya, sekaligus menularkan ilmu tersebut kepada teman-temannya.

"Ingin lanjut SMA, terus pengen sekolah bahasa. Belajar Bahasa Jepang," katanya

Aldo memahami Jepang membutuhkan banyak tenaga kerja terampil di sektor pengelasan dan pertanian. Modal ijazah sekolah, sertifikat, dan kemahiran las bawah laut (underwater welding) yang ingin ia pelajari nanti, Jepang bukan lagi sekadar mimpi di kepalanya.

Meski mimpinya membumbung tinggi hingga ke negeri seberang, motivasi terbesar Aldo tetaplah rumah sederhananya di Ponorogo. Dari percikan api las hingga buku pelajaran di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo, Aldo membuktikan berani berbalik arah dari jalan yang salah adalah langkah pertama menuju masa depan yang lebih cerah.

"Cita-cita saya ingin menyenangkan kedua orang tua saja. Bisa memberangkatkan haji," pungkasnya.




(prf/ega)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertamina Berkah, Tebar Kebahagiaan untuk 17.300 Anak Yatim dan Dhuafa di Seluruh Indonesia
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Kenapa Harga Telur Ayam Ukuran Besar Lebih Murah? Ini Penjelasan Pakar IPB
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Polisi Bekuk Pencuri Motor di Kayuringin Bekasi, 1 Orang Masih DPO
• 5 jam laludetik.com
thumb
Polda Sultra Membekuk Dua Pengedar Narkoba Jaringan Antardaerah, Sita Sabu Lebih dari 3,2 Kilogram
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Ganti Oli Mesin Patokannya Kilometer atau Hitungan Bulan?
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.