Jelang Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026, sebanyak 13 ulama berkumpul Pesantren Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri pada malam ini. Para alim ulama tersebut mengeluarkan seruan terkait pelaksanaan kegiatan tersebut.
Hadir dalam pertemuan tersebut PP Ploso dan Mustasyar PBNU KH. Nurul Huda Jazuli, PP Lirboyo dan Mustasyar PBNU KH. Anwar Manshur, PP. Lirboyo dan Rais Syuriyah PBNU KH. A. Kafabihi Mahrus, PP An Nawawi Tanara Banten yang juga Mustasyar PBNU KH. Ma'ruf Amin.
Selain itu, PP. Al-Tsaqafah Jakarta dan Mustasyar PBNU KH. Said Aqil Siroj, PP Wali Songo Situbondo KH. R. Muhammad Khalil As'ad, PP. Al Anwar Sarang dan Mustasyar PBNU KH. Abdullah Ubab Maimoen, PP. Al-Kautsar Medan dan Syuriah PBNU KH. Ali Akbar Marbun,
Baca juga: PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
Baca Juga:Niat Puasa Dzulhijjah Sekaligus Puasa Senin Kamis, Teks Arab dan ArtinyaPP. Al-Itqan Tlogosari dan Rais Syuriyah PWNU Jateng KH. Ubaidillah Shodaqoh, Rais Syuriyah PWNU KaltimKH. Ali Kholil, PP. Amanatul Ummah yang juga Ketum Pergunu PBNU KH. Asep Saifuddin Chalim, PP. Qotrotul Falah dan Rais Syuriah PWNU Banten KH. Ah. Syatibi Hambali, dan Rais Syuriyah PWNU DIY KH. Mas'ud Masduqi. Juru Bicara Forum tersebut KH Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar dan KH Fahim Royani atau Gus Fahim menjelaskan, forum tersebut berlangsung dengan penuh kekeluargaan, ukhuwah Islamiyah, dan tanggung jawab kejam’iyahan.
"Setelah mencermati berbagai perkembangan menjelang penyelenggaraan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, serta dengan memohon pertolongan Allah SWT demi menjaga khittah, marwah, persatuan, dan keberlangsungan peran Nahdlatul Ulama para kiai utama berkumpul di sini," kata Gus Fahim, Sabtu (20/6/2026).
Baca Juga:Kejagung Lelang Harley Kasus TPPU Judol Laku Rp901 JutaLihat video: Duduki Kursi Ketum PBNU Lagi, Gus Yahya Angkat BicaraMenurut dia, hasil pertemuan tersebut menghasilkan tiga poin seruan. Pertama, para masyayikh berharap dan memohon agar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama diselenggarakan dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab, serta tidak membahas maupun menetapkan materi-materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan historis, kultural, dan spiritual antara Nahdlatul Ulama dengan para masyayikh dan pondok pesantren.
Para masyayikh meminta agar pengaturan mengenai syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) tetap menjaga karakter AHWA sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, dan pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu usulan penambahan syarat calon anggota AHWA harus pengurus syuriyah dan didasarkan representasi kewilayahan harus dibatalkan. Demikian juga, usulan pengubahan larangan rangkap jabatan politik juga harus dibatalkan.
Baca Juga:Pria Penganiaya Perempuan Petugas SPBU di Makassar Ditangkap PolisiKedua, para masyayikh memandang bahwa pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama, pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan yang menjadi fondasi utama jam’iyah. Oleh karena itu, para masyayikh berharap agar Muktamar Nahdlatul Ulama 2026 diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, tradisi, serta mata rantai keilmuan yang selama ini menjadi sumber kekuatan Nahdlatul Ulama dalam mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.Ketiga, para masyayikh menyerukan kepada seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, dan seluruh unsur Nahdlatul Ulama yang terlibat dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga ketertiban, akhlak, adab musyawarah, serta mengedepankan persatuan dan kesatuan jam’iyah.
"Para masyayikh meyakini bahwa penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan," katanya.
"Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Nahdlatul Ulama, mempersatukan hati seluruh warganya, membimbing para pemimpinnya, serta melimpahkan keberkahan kepada para ulama, masyayikh, santri, dan seluruh pengabdi jam’iyah," sambungnya.
#daerah




