13 Kiai Berkumpul di Ponpes Al Falah Ploso, Serukan Muktamar NU Digelar di Pesantren

rctiplus.com
1 jam lalu
Cover Berita
13 Kiai Berkumpul di Ponpes Al Falah Ploso, Serukan Muktamar NU Digelar di PesantrenNasional | sindonews | Sabtu, 20 Juni 2026 - 21:52Dengarkan Berita

Jelang Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026, sebanyak 13 ulama berkumpul Pesantren Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri pada malam ini. Para alim ulama tersebut mengeluarkan seruan terkait pelaksanaan kegiatan tersebut.

Hadir dalam pertemuan tersebut PP Ploso dan Mustasyar PBNU KH. Nurul Huda Jazuli, PP Lirboyo dan Mustasyar PBNU KH. Anwar Manshur, PP. Lirboyo dan Rais Syuriyah PBNU ⁠KH. A. Kafabihi Mahrus, PP An Nawawi Tanara Banten yang juga Mustasyar PBNU KH. Ma'ruf Amin.

Selain itu, PP. Al-Tsaqafah Jakarta dan Mustasyar PBNU KH. Said Aqil Siroj, PP Wali Songo Situbondo KH. R. Muhammad Khalil As'ad, PP. Al Anwar Sarang dan Mustasyar PBNU KH. Abdullah Ubab Maimoen, PP. Al-Kautsar Medan dan Syuriah PBNU⁠ KH. Ali Akbar Marbun,

Baca juga: PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang

Baca Juga:Niat Puasa Dzulhijjah Sekaligus Puasa Senin Kamis, Teks Arab dan Artinya

PP. Al-Itqan Tlogosari dan Rais Syuriyah PWNU Jateng KH. Ubaidillah Shodaqoh, Rais Syuriyah PWNU Kaltim⁠KH. Ali Kholil, PP. Amanatul Ummah yang juga Ketum Pergunu PBNU KH. Asep Saifuddin Chalim, PP. Qotrotul Falah dan Rais Syuriah PWNU Banten KH. Ah. Syatibi Hambali, dan Rais Syuriyah PWNU DIY KH. Mas'ud Masduqi. Juru Bicara Forum tersebut KH Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar dan KH Fahim Royani atau Gus Fahim menjelaskan, forum tersebut berlangsung dengan penuh kekeluargaan, ukhuwah Islamiyah, dan tanggung jawab kejam’iyahan.

"Setelah mencermati berbagai perkembangan menjelang penyelenggaraan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, serta dengan memohon pertolongan Allah SWT demi menjaga khittah, marwah, persatuan, dan keberlangsungan peran Nahdlatul Ulama para kiai utama berkumpul di sini," kata Gus Fahim, Sabtu (20/6/2026).

Baca Juga:Kejagung Lelang Harley Kasus TPPU Judol Laku Rp901 Juta

Lihat video: Duduki Kursi Ketum PBNU Lagi, Gus Yahya Angkat BicaraMenurut dia, hasil pertemuan tersebut menghasilkan tiga poin seruan. Pertama, para masyayikh berharap dan memohon agar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama diselenggarakan dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab, serta tidak membahas maupun menetapkan materi-materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan historis, kultural, dan spiritual antara Nahdlatul Ulama dengan para masyayikh dan pondok pesantren.

Para masyayikh meminta agar pengaturan mengenai syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) tetap menjaga karakter AHWA sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, dan pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu usulan penambahan syarat calon anggota AHWA harus pengurus syuriyah dan didasarkan representasi kewilayahan harus dibatalkan. Demikian juga, usulan pengubahan larangan rangkap jabatan politik juga harus dibatalkan.

Baca Juga:Pria Penganiaya Perempuan Petugas SPBU di Makassar Ditangkap Polisi

Kedua, para masyayikh memandang bahwa pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama, pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan yang menjadi fondasi utama jam’iyah. Oleh karena itu, para masyayikh berharap agar Muktamar Nahdlatul Ulama 2026 diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, tradisi, serta mata rantai keilmuan yang selama ini menjadi sumber kekuatan Nahdlatul Ulama dalam mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.Ketiga, para masyayikh menyerukan kepada seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, dan seluruh unsur Nahdlatul Ulama yang terlibat dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga ketertiban, akhlak, adab musyawarah, serta mengedepankan persatuan dan kesatuan jam’iyah.

"Para masyayikh meyakini bahwa penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan," katanya.

"Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Nahdlatul Ulama, mempersatukan hati seluruh warganya, membimbing para pemimpinnya, serta melimpahkan keberkahan kepada para ulama, masyayikh, santri, dan seluruh pengabdi jam’iyah," sambungnya.

#daerah

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Geram Lihat Sarwendah Pacaran di Depan Anak, Pihak Ruben Onsu Sentil Giorgio Antonio: Nggak Kenal Malu!
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Polres Kepulauan Seribu Donor Darah dan Berbagi ke Ojol-Nelayan Sambut HUT Bhayangkara
• 10 jam laludetik.com
thumb
Ketika Kenyang Menjadi Gaya Hidup
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Pelatih Australia Heran Timnya Tumbang dari AS di Piala Dunia 2026: Kami Terlihat Lesu
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Roy Suryo-Dokter Tifa Ditahan, Din: Sungguh Kezaliman yang Nyata
• 7 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.