Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanas setelah pemimpin AS itu melontarkan pernyataan kontroversial yang mengeklaim Meloni memohon untuk berfoto dengannya dalam sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7. Meloni dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menyebut cerita yang disampaikan Trump sebagai karangan belaka.
Perselisihan terbaru ini terjadi hanya beberapa bulan setelah kedua pemimpin berupaya memperbaiki hubungan yang sempat retak akibat perbedaan pandangan mengenai perang AS-Israel melawan Iran.
Dalam beberapa hari terakhir, Meloni dan Trump tampak berusaha menghangatkan kembali hubungan mereka melalui sejumlah pertemuan bilateral di sela-sela KTT G7 yang berlangsung di Évian, Prancis. Namun upaya tersebut kembali terganggu setelah Trump mengeluarkan komentar yang memicu kontroversi di Italia.
Dalam sebuah wawancara singkat dengan stasiun televisi Italia La7, yang versi sulih suaranya kemudian ditayangkan jaringan televisi Italia pada Jumat, Trump berbicara mengenai Meloni dengan nada meremehkan.
"Dia mungkin senang saya berbicara dengannya. Saya tidak harus berbicara dengannya. Dia memohon kepada saya untuk berfoto dengannya. Dia sangat menginginkan foto bersama saya. Saya sebenarnya tidak akan melakukannya, tetapi saya merasa kasihan padanya," kata Trump.
Pernyataan Trump langsung memicu reaksi keras di Italia. Meloni merespons melalui sebuah video yang diunggah di Instagram dengan keterangan bertuliskan "Italia dan saya tidak pernah memohon".
Dalam video tersebut, Meloni mengatakan komentar Trump tidak dapat dibiarkan tanpa tanggapan. "Ada beberapa hal yang pantas mendapatkan respons segera," ujar Meloni.
"Pernyataan Donald Trump sepenuhnya dibuat-buat," katanya.
Meloni mengaku terkejut dengan sikap Trump terhadap negara-negara sekutu AS.
"Terus terang, saya terkejut. Saya tidak tahu mengapa presiden Amerika Serikat bersikap seperti ini terhadap sekutu-sekutunya. Ini bukan pertama kalinya hal itu terjadi, saya hanya bisa mengatakan sangat disayangkan bahwa dia tidak menunjukkan keteguhan yang sama terhadap musuh-musuh Barat."
Adapun hubungan antara Trump dan Meloni mulai memburuk pada April lalu karena dua isu utama.
Pertama, Italia menolak mendukung perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran. Kedua, Trump melontarkan kritik keras terhadap Paus Leo setelah pemimpin Gereja Katolik itu mengecam perang tersebut.
Sebelum perselisihan itu muncul, Meloni dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Trump.
Kedekatan keduanya banyak didasarkan pada retorika nasionalisme yang sama-sama mereka usung. Bahkan Meloni menjadi satu-satunya pemimpin Eropa yang diundang menghadiri pelantikan Trump sebagai Presiden AS
Sementara itu, Mantan Perdana Menteri Italia sekaligus pemimpin partai oposisi Gerakan Lima Bintang, Giuseppe Conte, mengatakan negaranya tidak layak diperlakukan seperti yang dilakukan Trump.
"Italia tidak pantas mendapati dirinya dipermalukan secara terang-terangan seperti ini," kata Conte.
Reaksi lebih keras datang dari Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani. Sebagai bentuk protes, Tajani mengumumkan pembatalan kunjungannya ke AS yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Dalam unggahan di media sosial X, Tajani menegaskan bahwa ucapan Trump tidak hanya menyerang Meloni, tetapi juga menghina seluruh bangsa Italia.
"Kata-kata Presiden Trump yang serius dan menghina terhadap Perdana Menteri Giorgia menghina seluruh Italia," tulis Tajani.
Kritik terhadap Trump juga datang dari Giovanbattista Fazzolari, Wakil Sekretaris Negara pada Kantor Perdana Menteri Italia dan salah satu orang kepercayaan Meloni. Dalam sebuah pernyataan resmi, Fazzolari mempertanyakan apakah tindakan Trump dilakukan secara sengaja atau karena ketidakmampuan diplomatik.
"Tidak jelas apakah karena kesengajaan atau ketidakcakapan, dia sedang merusak hubungan bersejarah antara Amerika Serikat dan Eropa."
Menurut Fazzolari, berbagai ledakan emosi dan komentar yang tidak pantas dari Trump telah menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap citra Amerika Serikat di Eropa.
"Dengan luapan emosinya yang tidak pantas, dia telah berhasil melakukan sesuatu yang tidak mudah, yaitu membuat Amerika Serikat tidak disukai di seluruh benua Eropa, merugikan bukan hanya Eropa tetapi terutama Amerika Serikat."
(luc/luc) Add as a preferred
source on Google



