Jakarta (ANTARA) - Petinju Ryan Garner melanjutkan perburuan juara dunia kelas bulu (58,9 kg) World Boxing Council (WBC) dengan mengalahkan Michael Magnesi untuk menjadi juara sementara (interim) di Stadion St Mary's, Southampton, Inggris, Sabtu (20/6) waktu setempat.
"Jika bukan karena Southampton, ini tidak akan pernah terjadi," kata Ryan Garder, dikutip dari DAZN, Minggu.
Sejak bel ronde pertama dibunyikan, kedua petinju langsung memperlihatkan intensitas tinggi. Garner, yang tampil di hadapan publik tuan rumah, berusaha mengambil inisiatif serangan dengan terus bergerak maju dan menekan lawannya.
Baca juga: Mayer dan Cameron naik ring untuk penyatuan tiga sabuk juara dunia
Baca juga: Juara WBC Ryan Garcia siap bertanggung jawab lawan siapa pun
Sementara Magnesi tidak memilih bermain aman. Petinju asal Italia itu justru menyambut tantangan dengan meladeni pertukaran pukulan dari jarak dekat sehingga membuat pertarungan berlangsung sengit.
Dalam banyak kesempatan, Magnesi terpaksa mundur dan bertahan di dekat tali ring akibat tekanan yang terus diberikan "The Piranha".
Petinju Inggris itu beberapa kali berhasil melepaskan kombinasi pukulan ke arah kepala dan badan lawannya, memanfaatkan kecepatan tangan serta akurasi yang menjadi salah satu keunggulannya.
Ketika pertarungan memasuki jarak menengah, Garner terlihat lebih efektif dalam memilih momen menyerang dan lebih bersih dalam mendaratkan pukulan dibandingkan Magnesi.
Pertarungan juga diwarnai sejumlah duel fisik yang keras. Kedua petinju beberapa kali bertarung dalam jarak sangat dekat hingga kepala mereka saling menempel saat berusaha mencari celah untuk melepaskan pukulan pendek.
Situasi tersebut membuat laga berlangsung kasar dan penuh adu tenaga, sehingga wasit beberapa kali harus turun tangan untuk memisahkan keduanya sekaligus memberikan peringatan agar pertarungan tetap berjalan sesuai aturan.
Memasuki ronde-ronde penentuan, Garner tetap menjaga tempo serangannya dan tidak memberi kesempatan bagi lawannya untuk berkembang. Ketika bel akhir ronde ke-12 berbunyi, ketiga juri memberikan kemenangan mutlak (unanimous decision) kepada Garner dengan skor 116-112, 118-110, dan 119-109.
Hasil tersebut menjadi pencapaian penting dalam perjalanan karier Garner menuju gelar juara dunia penuh WBC. Gelar interim yang kini berada di tangannya membuka peluang lebih besar untuk menghadapi juara dunia WBC kelas super bulu pada masa mendatang.
Selain meraih sabuk juara interim, Garner berhasil mempertahankan rekor sempurnanya di ring profesional. Petinju berusia 28 tahun itu kini mencatatkan 20 kemenangan tanpa kekalahan, dengan separuh di antaranya diraih melalui kemenangan knockout (KO).
Di sisi lain, Magnesi yang memperlihatkan ketangguhan, keberanian, dan daya tahan, harus pulang dengan kekalahan yang membuat rekornya menjadi 26 kemenangan (12 KO) dan tiga kekalahan sepanjang karier profesionalnya.
Baca juga: Pemegang tiga sabuk Katie Taylor hadapi Pili sebagai laga perpisahan
Baca juga: Ryad Merhy gulingkan Kevin Lerena untuk kuasai kelas bridge WBC
"Jika bukan karena Southampton, ini tidak akan pernah terjadi," kata Ryan Garder, dikutip dari DAZN, Minggu.
Sejak bel ronde pertama dibunyikan, kedua petinju langsung memperlihatkan intensitas tinggi. Garner, yang tampil di hadapan publik tuan rumah, berusaha mengambil inisiatif serangan dengan terus bergerak maju dan menekan lawannya.
Baca juga: Mayer dan Cameron naik ring untuk penyatuan tiga sabuk juara dunia
Baca juga: Juara WBC Ryan Garcia siap bertanggung jawab lawan siapa pun
Sementara Magnesi tidak memilih bermain aman. Petinju asal Italia itu justru menyambut tantangan dengan meladeni pertukaran pukulan dari jarak dekat sehingga membuat pertarungan berlangsung sengit.
Dalam banyak kesempatan, Magnesi terpaksa mundur dan bertahan di dekat tali ring akibat tekanan yang terus diberikan "The Piranha".
Petinju Inggris itu beberapa kali berhasil melepaskan kombinasi pukulan ke arah kepala dan badan lawannya, memanfaatkan kecepatan tangan serta akurasi yang menjadi salah satu keunggulannya.
Ketika pertarungan memasuki jarak menengah, Garner terlihat lebih efektif dalam memilih momen menyerang dan lebih bersih dalam mendaratkan pukulan dibandingkan Magnesi.
Pertarungan juga diwarnai sejumlah duel fisik yang keras. Kedua petinju beberapa kali bertarung dalam jarak sangat dekat hingga kepala mereka saling menempel saat berusaha mencari celah untuk melepaskan pukulan pendek.
Situasi tersebut membuat laga berlangsung kasar dan penuh adu tenaga, sehingga wasit beberapa kali harus turun tangan untuk memisahkan keduanya sekaligus memberikan peringatan agar pertarungan tetap berjalan sesuai aturan.
Memasuki ronde-ronde penentuan, Garner tetap menjaga tempo serangannya dan tidak memberi kesempatan bagi lawannya untuk berkembang. Ketika bel akhir ronde ke-12 berbunyi, ketiga juri memberikan kemenangan mutlak (unanimous decision) kepada Garner dengan skor 116-112, 118-110, dan 119-109.
Hasil tersebut menjadi pencapaian penting dalam perjalanan karier Garner menuju gelar juara dunia penuh WBC. Gelar interim yang kini berada di tangannya membuka peluang lebih besar untuk menghadapi juara dunia WBC kelas super bulu pada masa mendatang.
Selain meraih sabuk juara interim, Garner berhasil mempertahankan rekor sempurnanya di ring profesional. Petinju berusia 28 tahun itu kini mencatatkan 20 kemenangan tanpa kekalahan, dengan separuh di antaranya diraih melalui kemenangan knockout (KO).
Di sisi lain, Magnesi yang memperlihatkan ketangguhan, keberanian, dan daya tahan, harus pulang dengan kekalahan yang membuat rekornya menjadi 26 kemenangan (12 KO) dan tiga kekalahan sepanjang karier profesionalnya.
Baca juga: Pemegang tiga sabuk Katie Taylor hadapi Pili sebagai laga perpisahan
Baca juga: Ryad Merhy gulingkan Kevin Lerena untuk kuasai kelas bridge WBC





