JAKARTA, KOMPAS - Penataan sisi timur Jalan HR Rasuna Said rampung jelang ulang tahun Jakarta ke-499. Tiang monorel mangkrak kini berganti trotoar lengkap dengan pohon peneduh, bebas kabel udara, serta lajur sepeda, umum, dan Transjakarta.
Pasukan kuning dari Dinas Bina Marga Jakarta berkejaran dengan waktu dalam menuntaskan penataan jalan tersebut. Pekerjaan berlangsung dari 14 Januari 2026 setelah pemotongan tiang monorel mangkrak sejak era Gubernur Sutiyoso atau Bang Yos.
Sisi timur Jalan HR Rasuna Said sepanjang 3,5 kilometer ditata agar sama seperti sisi baratnya. Jalur pedestrian diperlebar 4-7 meter sesuai kondisi lajur jalan. Saluran air juga diperbesar dari 80 cm menjadi 120 cm agar jalan bebas genangan saat hujan.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto menyanjung penataan sisi timur Jalan HR Rasuna Said yang terletak di seberang kantor lembaga antirasuah itu. Sebab, selama ini pejalan kaki harus melewati halang rintang di ruas tersebut.
"Ranjau dari ujung sampai ujung. Kelihatan semacam besi jebakan, kira-kira seperti itu. Tapi dengan penataan yang sudah dilakukan, sekarang tampil beda," ujar Setyo pada Minggu (21/6/2026).
Setyo hadir menemani Gubernur Jakarta Pramono Anung dan jajarannya, serta Bang Yos untuk meresmikan penataan sisi timur Jalan HR Rasuna Said di dekat Stasiun LRT Jabodebek Setiabudi.
Indri (40), warga Pasar Manggis, Jakarta Selatan,njuga memuji wajah terkini kawasan tersebut. Kesan semrawut berganti lega seiring hilangnya tiang monorel mangkrak.
"Nggak sia-sia perjalanan saya agak memutar selama penataan jalan ini. Hasilnya sebanding, sesuai yang diharapkan," ujar Indri.
Ia berharap penataan dan peresmian jalan tersebut bukan semata karena momentum hari ulang tahun Jakarta pada 22 Juni esok. Fasilitas serupa bisa diperbanyak ke ruas-ruas jalan lain sehingga semua warga bisa mendapatkan kenyamanan yang sama.
"Jadi suka oke. Tinggal ditingkatkan lagi. Kalau jalan kaki nyaman, aksesnya gampang, orang-orang jadi beralih ke transportasi umum," kata Indri.
Sisi timur Jalan HR Rasuna Said ditata sesuai konsep complete streets. Istilah ini dalam Panduan Desain Fasilitas Pejalan Kaki: DKI Jakarta 2017-2022 oleh Institute for Transportation Development Policy (ITDP) Indonesia merujuk pada jalan yang mengakomodasi berbagai pengguna jalan, berbagai usia, dan beragam kemampuan.
Jalan yang dimaksud pun harus aman, nyaman, dan desainnya sesuai dengan kebutuhan beragam kelompok. Dalam perwujudan complete streets, pola pikir penggunaan ruang jalan menempatkan ruang pejalan kaki terlebih dahulu sebelum jalur kendaraan pribadi.
Kepala Dinas Bina Marga Jakarta Heru Suwondo menyatakan bahwa penataan yang dilakukan sudah sesuai konsep complete street. Sebagai contoh, trotoar dilengkapi bangku untuk beristirahat sejenak, kabel jaringan utilitas dimasukan ke dalam tanah, dan trotoar sudah terhubung dengan halte di sekitarnya.
Gubernur Jakarta Pramono Anung juga mengutarakan hal serupa. Penataan sisi timur Jalan HR Rasuna Said dilakukan menyeluruh. Trotoarnya dilengkapi pohon sebagai peneduh, bukan hanya menjadi aksesori.
"Kali Cideng Atas juga ditata, turapnya diperbaiki supaya wajah Jakarta jadi lebih baik," tutur Pramono.
Kali Cideng Atas mengalir sepanjang 6,29 km dari Jalan Duren Tiga Raya sampai ke Kanal Banjir Barat. Kali ini sering kali menimbulkan banjir di kawasan hulu dan hilir akibat tingginya debit aliran.
Bantaran kalinya pun tak luput dari masalah. Pada beberapa segmen memiliki tebing yang curam dan berpotensi longsor, tanggul eksisting kurang tinggi, dan segmen lainnya terjadi penyempitan alur.
Oleh karena itu, perlu perkuatan tanggul sehingga dapat menahan dan menampung aliran dari limpasan debit banjir saat terjadi hujan ekstrem. Pembangunan perkuatan tanggul kali di sisi kiri dan kanan rencananya sepanjang 2.892 meter.
Dalam kesempatan itu, Pemprov Jakarta dan KPK turut meresmikan penamaan baru Halte Transjakarta Setiabudi menjadi Halte Setiabudi Integritas. Salah satu tujuannya untuk wadah kampanye antikorupsi di ruang publik.
Setyo mengaku kerap berganti moda angkutan umum. Ia kadang naik KRL, LRT, MRT atau Transjakarta hingga suatu ketika muncul ide kampanye antikorupsi di halte.
"Akhirnya muncul nama Halte Integritas. Saya yakin ini bukan sekadar nama, bukan hanya untuk naik-turun penumpang, bukan sekadar dilewati, tetapi setidaknya menunjukkan identitas dan bisa menjadi sebuah memori kolektif," ucap Setyo.
Pramono sependapat. Halte Setiabudi Integritas bukan sekadar perubahan papan nama, tetapi pesan bahwa perjuangan melawan korupsi adalah gerakan bersama. Pemprov Jakarta ingin memastikan nilai-nilai integritas terus menggema serta tertanam di benak setiap warga.





