KUPANG, KOMPAS - Pelayanan bahan bakar minyak bersubsidi jenis Pertalite di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, berangsur membaik. Stok Pertalite di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum yang sebelumnya sering kosong kini mulai tersedia. Warga berharap tidak ada kelangkaan di waktu mendatang.
Pantauan Kompas selama Sabtu (20/6/2026) hingga Minggu (21/6) hari ini, antraen di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tidak lagi sepadat beberapa hari sebelumnya. SPBU dimaksudkan adalah Naikoten, Oepura, Oebobo, dan Oesapa. Letak SPBU ini strategis sehingga banyak dikunjungi warga.
Jalur pengisian Pertalite dibuka beberapa lajur untuk mempercepat pelayanan. Pelayanan untuk Pertalite tetap dibuka selama jam operasional SPBU. Tersedia pula jalur khusus untuk pengisian Pertamax yang nyaris tanpa antrean.
"Sekarang sudah lancar, apalagi sudah masuk masa liburan anak sekolah sehingga tidak banyak kendaraan yang isi BBM. Pertalite selalu tersedia," kata salah satu petugas di SPBU kawasan Naikoten.
Pekan lalu, di SPBU itu tidak melayani penjualan Pertalite pada pagi hari selama beberapa hari. Petugas memasang papan pengumuman bahwa stok Pertalite kosong lantaran sedang dalam pengiriman dari Pertamina.
Pengendara yang hendak mengisi langsung pulang dan mencari Pertalite eceran dengan harga Rp 12.000 per liter. Harga Pertalite di SPBU Rp 10.000 per liter. Ada pula yang terpaksa membeli BBM nonsubsidi Pertamax dengan harga Rp 16.250 per liter.
Kelancaran pasokan Pertalite disambut gembira oleh masyarakat. "Semoga lancar terus. Kami sudah bisa beroperasi kembali tanpa takut Pertalite akan habis," kata Arnold (45), pengemudi mobil bak terbuka di Kupang. Setiap hari ia melayani angkutan barang.
Serial Artikel
Elpiji Mahal dan Minyak Tanah Langka, Warga Kupang Kembali Pakai Kayu Bakar
Harga elpiji yang melonjak dan minyak tanah yang langka memaksa sebagian warga Kupang kembali menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kupang kini sering kehabisan Pertalite. Warga juga kesulitan mendapatkan minyak tanah. "SPBU di mana-mana yang kami datangi tidak jual Pertalite karena alasan habis. Kami tidak tahu mau cari di mana," kata Maxi (40), sopir angkutan rute Amarasi, Kabupaten Kupang ke Kota Kupang pada Rabu (17/6/2026).
Setiap hari Maxi mengangkut ibu-ibu yang membawa hasil kebun dari kampung ke Kota Kupang. Kebutuhan bahan bakar per hari paling sedikit 10 liter. Dengan harga Pertalite Rp 10.000 per liter, harga yang dibayar Rp 100.000. Ia menggunakan mobil bak terbuka yang dipasangi tenda.
Namun kini, tiba di SPBU, para pengendara diarahkan untuk membeli BBM nonsubsidi jenis Pertamax. Padahal, beberapa hari lalu harga jual Pertamax dinaikkan oleh pemerintah dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Artinya, dengan uang Rp 100.000, Maxi hanya mendapatkan 6 liter Pertamax.
Ada opsi untuk menaikkan tarif angkutan penumpang dari yang berlaku saat ini yakni Rp 25.000. Maxi tidak mau mengambil pilihan tersebut. "Masyarakat sudah susah, kalau sampai naik lagi, hidup mereka semakin menderita," katanya.
Ahad Rahedi, Area Manager, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga wilayah Jawa Timur Bali dan Nusa Tenggara melalui keterangan tertulis, Senin lalu, mengatakan, stok Pertalite di Kupang aman dan mencukupi. Terkait SPBU yang kehabisan stok, terminal BBM sudah mengirimkan BBM ke seluruh SPBU Kota Kupang.
Ia menjamin pasokan Pertalite dalam kondisi tersedia. Masyarakat diimbau tetap membeli sesuai kebutuhan dan tidak panic buying. Adapun rata-rata konsumsi harian di NTT saat ini sekitar 892.000 liter per hari.
"Ketahanan stok Pertalite per hari ini yaitu selama 10 hari ke depan. Dengan catatan, stok bersifat dinamis. Berkala ada suplai dari kapal dan kilang serta terminal BBM beroperasi setiap hari," kata Ahad.
Serial Artikel
Pertalite Langka, Angkutan Perdesaan di NTT Berhenti Beroperasi
Kelangkaan Pertalite di Kupang mengganggu angkutan barang dan penumpang dari desa. Warga terpaksa membeli Pertamax yang harganya jauh lebih mahal.




