Direktur Intelijen AS Tulsi Gabbard Melontarkan Tuduhan Mengejutkan Menjelang Lengser : Fauci Disebut Mendanai Laboratorium Wuhan

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Tulsi Gabbard,  pada Jumat (19 Juni), mempublikasikan sejumlah dokumen dan catatan komunikasi yang sebelumnya belum pernah diungkap ke publik. Dalam dokumen tersebut, ia menuduh mantan Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS (NIAID), Dr. Anthony Fauci, menggunakan dana para pembayar pajak untuk mendukung penelitian di Institut Virologi Wuhan di Tiongkok.

Ia juga menuduh Fauci mempengaruhi penilaian intelijen mengenai asal-usul pandemi COVID-19 serta memberikan kesaksian palsu di hadapan Kongres. Pengungkapan ini segera menarik perhatian luas dan kembali memicu perdebatan mengenai asal-usul virus COVID-19.

Menurut Gabbard, dokumen dan komunikasi yang baru dipublikasikan menunjukkan bahwa Fauci menggunakan dana pembayar pajak Amerika Serikat senilai jutaan dolar untuk mendanai penelitian “gain-of-function” (peningkatan fungsi virus) terkait virus corona di Institut Virologi Wuhan.

Gabbard juga menuduh Fauci telah memengaruhi proses penilaian intelijen mengenai asal-usul virus dengan meremehkan teori kebocoran laboratorium, serta memberikan pernyataan yang tidak benar ketika bersaksi di bawah sumpah di Kongres pada tahun 2024.

“Strategi untuk menutupi kebenaran sepenuhnya berasal dari buku pedoman deep state: para pemimpin yang dipolitisasi dan mementingkan diri sendiri seperti Dr. Fauci menutupi tindakan yang tidak pantas dan penyalahgunaan kekuasaan mereka sendiri, memanipulasi intelijen, berbohong kepada Kongres, serta melemahkan kewenangan presiden dengan membatasi akses terhadap informasi penting yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional. Sudah saatnya rakyat Amerika mengetahui kebenaran,” kata Gabbard. 

Senator AS Rand Paul segera membagikan pernyataan tersebut dan mengatakan bahwa dirinya telah beberapa kali merujuk Fauci ke Departemen Kehakiman AS dengan permintaan agar dilakukan penuntutan pidana atas dugaan kebohongan yang disampaikannya, namun hingga kini belum membuahkan hasil. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Direktur Gabbard karena telah mengungkap informasi tersebut.

Menurut Gabbard, isi komunikasi yang dipublikasikan itu secara langsung bertentangan dengan kesaksian Fauci di bawah sumpah di Kongres.

Ia juga menyatakan: “Kami menerima sejumlah laporan dari para pelapor (whistleblower) yang menyebutkan bahwa para analis intelijen yang mempertanyakan kesimpulan Fauci mengenai asal-usul COVID menghadapi ancaman, dikucilkan, dan mengalami hambatan serius dalam karier mereka.”

Gabbard menambahkan bahwa pandemi COVID-19 telah menyebabkan penderitaan dan kerugian yang sangat besar bagi Amerika Serikat maupun dunia. Setelah bertahun-tahun dipenuhi kebohongan, penyensoran, dan upaya penutupan informasi, menurutnya rakyat Amerika berhak memperoleh transparansi, mengetahui kebenaran, dan melihat adanya pertanggungjawaban atas berbagai tindakan yang terjadi. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aturan Pengetatan Outsourcing Bakal Diterbitkan Awal Juli 2026
• 8 menit lalukumparan.com
thumb
Indonesia Masuk Tren Lansia, Kemenko PMK Siapkan Ruang Pemberdayaan
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jelang Duel Menghadapi Swedia Pada Pekan Kedua Piala Dunia 2026, Ronald Koeman Minta Anak Asuhnya Tak Remehkan Lawan
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Sebut Israel Langgar Kesepakatan dengan AS
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Basarnas Pos SAR Sukabumi Evakuasi Korban Tenggelam Muara Pasir Putih, Satu Ditemukan Meninggal dan Satu Hilang
• 23 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.