Jakarta, CNBC Indonesia - El Niño yang diprediksi menjadi terkuat dalam 75 tahun terakhir sudah membuat para petani khawatir akan dampaknya, di mana salah satunya yakni petani kopi di Vietnam.
Pusat Prakiraan Hidro-Meteorologi Nasional Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup Vietnam memperkirakan El Niño akan terus menguat hingga semester kedua 2026 dan berpotensi berlanjut hingga awal 2027.
"El Niño telah resmi terbentuk di wilayah Pasifik khatulistiwa tengah dan diperkirakan akan terus menguat hingga paruh kedua 2026, berpotensi hingga awal 2027," terang Pusat Prakiraan Hidro-Meteorologi Nasional pada konferensi pers Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup Vietnam, dikutip dari VNE Express, Minggu (21/6/2026).
Lembaga tersebut mengungkapkan suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 naik hingga 0,5 derajat celsius di atas rata-rata pada Mei 2026 dan sekitar 0,7 derajat celsius pada awal Juni 2026, yang menegaskan bahwa peristiwa tersebut telah terjadi.
Lembaga tersebut juga memperkirakan kemungkinan terjadinya El Niño yang sangat kuat sebesar 60-65%, naik dari 20% pada April 2026 dan 37% pada Mei 2026.
"Peristiwa sekuat itu akan sebanding dengan El Niño 2015-2016, dan mungkin lebih kuat," kata Mai Van Khiem, Direktur Pusat Prakiraan Hidro-Meteorologi Nasional, dilansir dari VNE Express.
Dia mengatakan peristiwa itu dianggap sebagai salah satu yang terkuat sejak 1950, atau setara dengan El Niño besar periode 1982-1983 dan 1997-1998.
Pihaknya menambahkan dampak ekonomi dari fenomena El Niño sudah dirasakan langsung oleh masyarakat di Dataran Tinggi Tengah Vietnam. Badan tersebut memperingatkan bahwa wilayah tersebut menghadapi kekurangan air irigasi untuk tanaman industri, terutama kopi, selama musim kemarau 2026-2027.
Vietnam menjadi negara dengan pemasok robusta terbesar di dunia. Departemen Pertanian AS melaporkan biji kopi yang menjadi dasar sebagian besar campuran kopi instan, espresso, dan robusta menyumbang sekitar 95% dari produksi kopi negara tersebut.
Robusta mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade pada 2024 dan awal 2025 setelah kekeringan menghancurkan tanaman di negara-negara pesaing, dengan harga berjangka London mencapai lebih dari US$5.800 per ton.
Kemudian harga turun menjadi sekitar US$3.470 pada April 2026, karena para pedagang memperkirakan panen kopi Brasil yang memecahkan rekor dan surplus global pertama dalam empat tahun. Kekeringan parah di wilayah penghasil kopi Vietnam akan merusak ekspektasi tersebut.
Jerman, pembeli kopi Vietnam terbesar di Uni Eropa, dan para pengolah kopi di seluruh dunia akan merasakan dampak dari tekanan apa pun.
Selain kopi, El Niño yang sangat kuat akan membawa suhu di atas rata-rata, lebih sedikit gelombang dingin, dan defisit curah hujan yang meluas, terutama di wilayah tengah, Dataran Tinggi Tengah, dan selatan.
Suhu rata-rata pada bulan-bulan terakhir 2026 diperkirakan 0,5 hingga 1,5 derajat Celcius lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang, dengan beberapa daerah bahkan 1 hingga 2 derajat Celcius lebih tinggi dari Oktober hingga Desember.
Curah hujan bisa berkurang 25-50%, paling tajam di sepanjang pantai selatan-tengah, meningkatkan risiko kekeringan, kekurangan air, dan intrusi air asin di Delta Mekong hingga awal tahun 2027.
"El Niño tidak hanya meningkatkan risiko panas, kekeringan, kekurangan air, dan intrusi air asin, tetapi juga membawa hujan lebat, banjir bandang, tanah longsor, dan badai dahsyat," kata Dang Thanh Mai dari Badan Hidro-Meteorologi Nasional.
El Niño di 2026 bisa menjadi yang terbesar dalam 75 tahun terakhir?El Nino tahun ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam 75 tahun terakhir dengan kenaikan suhu laut yang dapat melampaui rekor historis.
Fenomena ini diperkirakan akan meningkatkan suhu global sekaligus memicu cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir, gelombang panas, dan kebakaran hutan di berbagai belahan dunia.
Afrika bagian selatan, kawasan Sahel, Amerika Tengah, Karibia, dan sebagian Asia menjadi wilayah yang paling rentan terhadap dampaknya.
Risiko tersebut semakin besar karena banyak negara saat ini juga menghadapi krisis pangan, konflik geopolitik, dan gangguan pasokan pupuk akibat perang di Timur Tengah.
Ratusan tahun lalu, para nelayan Peru menyadari bahwa setiap beberapa tahun sekali ikan teri (anchovy) di Samudra Pasifik ekuatorial tiba-tiba menghilang. Karena fenomena itu terjadi menjelang Natal, mereka menamainya berdasarkan El Niño Jesus-"Sang Bayi Kristus".
Kini fenomena yang dikenal sebagai El Niño diakui sebagai pola iklim berulang yang memengaruhi cuaca di seluruh dunia.
Pada 11 Juni, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat mengumumkan bahwa El Niño baru telah dimulai. Dan kali ini, dampaknya berpotensi sangat besar.
El Niño dipicu oleh perubahan pola angin di atas Pasifik ekuatorial yang menarik massa air permukaan lebih hangat dari biasanya ke wilayah tersebut.
Kekuatan El Niño diukur dari seberapa besar kenaikan suhu air laut. Kenaikan lebih dari 2°C di atas rata-rata jangka panjang sudah dikategorikan sebagai El Niño kuat.
Sebagian besar model prakiraan iklim dunia memperkirakan suhu permukaan laut akan meningkat lebih dari 2,5°C sepanjang sisa tahun ini hingga beberapa bulan pertama 2027, bahkan berpotensi melampaui 3°C.
Jika terjadi, ini akan menjadi yang terkuat dalam 75 tahun catatan pengamatan modern. Rekor sebelumnya dipegang oleh El Niño 1982-1983 dengan kenaikan suhu laut mencapai 2,5°C.
Luasnya Samudra Pasifik dan keterhubungan sistem cuaca global membuat setiap El Niño memicu redistribusi panas dan kelembapan dalam skala besar di seluruh dunia.
Salah satu dampak utamanya adalah meningkatnya suhu global. El Niño memang bukan disebabkan oleh perubahan iklim, tetapi keduanya saling memperkuat.
El Niño kuat pada 1997-1998 menjadikan tahun 1998 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat saat itu, dengan suhu rata-rata hampir 1°C di atas tingkat pra-industri.
Rekor tersebut kembali terpecahkan setelah El Niño kuat 2015-2016, ketika suhu global pada 2016 melampaui 1°C di atas rata-rata pra-industri.
Saat ini, rekor tahun terpanas dipegang oleh 2024 dengan suhu global mencapai 1,6°C di atas tingkat pra-industri. Para ilmuwan iklim memperkirakan tahun 2027 bisa menjadi lebih panas lagi.
Dampak El Niño terhadap berbagai negara dan benua sangat beragam. El Niño 1997-1998 dan 2015-2016 menyebabkan gangguan besar di Afrika bagian timur dan selatan, Amerika Tengah, serta Oseania.
Kekeringan merusak lahan pertanian dan padang penggembalaan, menyebabkan jutaan orang menghadapi kelaparan dan memaksa banyak penduduk bermigrasi untuk mencari sumber pangan.
Dampak serupa berpotensi kembali terjadi kali ini. Pada 9 Juni, Food and Agriculture Organization (FAO) PBB memperingatkan bahwa penduduk Afrika bagian selatan dan kawasan Sahel, wilayah semi-kering yang membentang di selatan Gurun Sahara, menghadapi risiko paling tinggi.
El Niño sebelumnya pada 2023-2024, ketika suhu laut mencapai puncak 1,5°C di atas normal, dikaitkan dengan kekeringan terburuk dalam lebih dari satu abad di Afrika bagian selatan.
Di Afrika Timur, FAO memperingatkan Somalia dapat menghadapi pukulan ganda berupa kekeringan hingga Oktober yang kemudian disusul hujan lebat hingga Desember.
Kondisi ini tidak selalu menjadi kabar baik. Setelah periode kekeringan panjang, tanah yang sangat kering sulit menyerap air sehingga hujan deras justru dapat memicu banjir besar.
Amerika Tengah, kawasan Karibia, dan sebagian Asia juga menghadapi risiko kekeringan
El Niño umumnya membuat Indonesia, Australia, India, Afrika Selatan, dan sebagian Amerika Tengah menjadi lebih kering, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, dan gangguan produksi pangan. Sebaliknya, beberapa wilayah seperti pantai barat Amerika Selatan, Afrika Timur, serta sebagian Amerika Utara dan China cenderung menerima curah hujan lebih tinggi dari normal.
Dampak tersebut biasanya berlangsung selama beberapa bulan hingga lebih dari setahun tergantung kekuatan El Niño.
Banyak wilayah tersebut saat ini sudah berada dalam kondisi rentan akibat konflik bersenjata dan krisis pangan yang telah berlangsung sebelumnya.
Perang Iran dan penutupan Selat Hormuz menyebabkan pasokan pupuk menjadi langka pada saat banyak petani membutuhkannya untuk musim tanam berikutnya. Pembukaan kembali selat yang diumumkan Presiden Donald Trump pada 14 Juni dinilai terlambat untuk mengatasi kebutuhan mendesak tersebut.
Komisi Eropa bahkan memperingatkan potensi bencana kemanusiaan di sejumlah negara Afrika seperti Sudan, Somalia, Sudan Selatan, dan Chad, serta di Ekuador, Venezuela, dan Haiti di kawasan Amerika.
Meski demikian, dampak El Niño masih dapat dikurangi melalui berbagai langkah mitigasi, seperti menanam benih yang tahan kekeringan, menyiapkan cadangan pakan ternak, serta menyimpan persediaan air. Namun para ahli menegaskan, waktu untuk memulai persiapan adalah sekarang.
BMKG Beri PeringatanBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga September 2026.
Kondisi ini perlu diantisipasi sejak dini guna menjaga ketersediaan air, kesehatan masyarakat, serta meminimalkan dampak terhadap berbagai sektor strategis seperti pertanian, energi, dan lingkungan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, puncak musim kemarau akan mulai dirasakan di sejumlah wilayah pada Juli 2026, mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26% wilayah Indonesia. Intensitas kemarau diperkirakan semakin meluas pada Agustus dengan menjangkau 369 ZOM atau 48,84% luas daratan nasional.
Sementara itu, pada September 2026 puncak kemarau masih akan berlangsung di 169 ZOM atau sekitar 25,41% wilayah Indonesia. Dengan sebaran kemarau yang semakin luas pada Agustus hingga September, BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi potensi kekeringan dan gangguan aktivitas ekonomi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/luc) Add as a preferredsource on Google




