JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Penasihat Khusus Presiden Republik Indonesia bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal menemukan potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ribuan buruh di sejumlah perusahaan di Jawa Timur hingga Bandung.
Fenomena ini diketahui setelah ia melakukan kunjungan kerja bersama Kementerian Ketenagakerjaan ke tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jakarta.
"Ada empat perusahaan atau empat atau lima perusahaan yang saya temukan dalam kunjungan yang langsung saya datang ke perusahaan tersebut yang berpotensi mengalami PHK," kata Said Iqbal dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Baca juga: Porsche Siapkan PHK 1.900 Pekerja, Rampungkan Negosiasi Juli 2026
Ia mengungkapkan, potensi itu tercipta akibat fluktuasi kurs rupiah terhadap dollar AS dan dampak perang antara AS-Iran yang mempengaruhi harga minyak dunia.
Menurut Said, kenaikan itu turut mempengaruhi produksi dari perusahaan-perusahaan berorientasi ekspor maupun perusahaan yang membeli bahan baku impor.
"Perusahaan-perusahaan yang bergerak di kedua situasi inilah yang terdampak akibat perang tersebut. Perusahaan Indonesia yang berorientasi ekspor seperti sepatu, garmen, karena permintaan barang di luar negeri menurun akibat perang, situasi perang, maka orientasi perusahaan ini pun produksinya menurun," ucap Said.
"Sebaliknya, perusahaan-perusahaan di Indonesia yang bahan bakunya impor, dia mengalami lonjakan ongkos produksi karena harga bahan bakunya juga melonjak," imbuhnya.
Baca juga: Mengapa Prabowo Tunjuk Said Iqbal Jadi Penasihat Khusus?
Said memerinci, perusahaan pertama yang ia temui di Jawa Timur adalah PT Pakarin dengan potensi PHK mencapai 2.500 karyawan.
Saat ini kata dia, hanya tersisa seperlima pabrik PT Pakarin yang masih beroperasi.
Karena berhenti beroperasi, pasar tradisional yang berada di dekat perusahaan dan bergantung pada buruh-buruh PT Pakarin pun mengalami penurunan omzet.
"Begitu perusahaan sekarang empat per lima tutup, 80 persen berarti, 80 persen tutup, buruhnya enggak ada lagi pendapatan, pasar itu juga tutup. Jadi ini mempengaruhi ekonomi dari di sekitar perusahaan," jelas Said.
Baca juga: Ratusan Pekerja di Sulsel Terancam PHK, Dinas Tenaga Kerja Sebut Masih Proses Mediasi
Masih di Jawa Timur, Said menemukan dua perusahaan komponen otomotif yang bernasib serupa.





