Sering Membentak Anak Sama Bahayanya dengan Kekerasan Fisik, Moms!

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Banyak orang tua mungkin menganggap bentakan, hinaan, atau kata-kata yang merendahkan anak sebagai bentuk disiplin yang wajar. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa luka akibat kekerasan verbal bisa bertahan jauh lebih lama daripada yang terlihat.

Sebuah studi yang dipimpin oleh Liverpool John Moores University dan dipublikasikan dalam jurnal BMJ Open menemukan bahwa kekerasan verbal pada masa kanak-kanak memiliki dampak terhadap kesehatan mental saat dewasa yang hampir sama besarnya dengan kekerasan fisik.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa meski kasus kekerasan fisik terhadap anak cenderung menurun, kekerasan verbal justru semakin meningkat.

Kekerasan Verbal dan Fisik Sama-sama Berdampak pada Kesehatan Mental Anak di Masa Depan

Penelitian ini menganalisis data lebih dari 20.000 orang dewasa di Inggris dan Wales yang lahir sejak tahun 1950-an. Para peneliti menelusuri pengalaman masa kecil mereka, termasuk apakah pernah mengalami kekerasan fisik maupun kekerasan verbal, lalu mengaitkannya dengan kondisi kesehatan mental saat dewasa.

Hasilnya menunjukkan bahwa baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal sama-sama meningkatkan risiko seseorang mengalami kesejahteraan mental yang rendah ketika dewasa.

Orang yang pernah mengalami kekerasan fisik saat kecil memiliki risiko sekitar 52% lebih tinggi mengalami kesehatan mental yang buruk. Sementara itu, mereka yang mengalami kekerasan verbal memiliki risiko 64% lebih tinggi.

Risiko tersebut bahkan menjadi lebih besar apabila seorang anak mengalami kedua bentuk kekerasan sekaligus.

Kekerasan Verbal Bisa Jadi Sumber Stres Beracun bagi Anak

Para peneliti menjelaskan bahwa kekerasan verbal bukan sekadar menyakiti perasaan anak sesaat.

Sama seperti kekerasan fisik, kekerasan verbal dapat menjadi sumber toxic stress atau stres beracun yang memengaruhi perkembangan otak dan sistem biologis anak. Dampaknya dapat berlangsung hingga bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut terjadi.

Dalam jangka panjang, pengalaman ini dapat meningkatkan risiko:

* Gangguan kecemasan.

* Depresi.

* Penyalahgunaan alkohol atau narkoba.

* Perilaku berisiko.

* Perilaku agresif atau kekerasan.

* Penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan diabetes.

Tidak Terlihat, tetapi Dampaknya Nyata

Salah satu alasan kekerasan verbal sering luput dari perhatian adalah karena tidak meninggalkan bekas fisik.

Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa dampaknya terhadap kehidupan sosial dan emosional seseorang sangat nyata.

Misalnya, dibandingkan orang yang tidak pernah mengalami kekerasan, mereka yang mengalami kekerasan verbal saat kecil lebih sering mengaku jarang merasa dekat dengan orang lain ketika dewasa. Mereka juga lebih berisiko merasa tidak optimistis, sulit rileks, serta kurang mampu menghadapi masalah sehari-hari.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Antusias Gowes Meningkat, Ratusan Pesepeda Ramaikan Northwest Funbike Festival Citraland
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pihak Sarwendah Klaim Rumah yang Digunakan Giorgio Antonio Endorse Sudah Jadi Miliknya, Ini Kata Kuasa Hukum Ruben Onsu
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Siklon Tropis Mekkhala Picu Pertumbuhan Awan Hujan di Indonesia
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi di Sorong Selatan Tewas Terlilit Bendera di Leher saat Rayakan Kemenangan Brasil
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Raja Charles Bakal Jadi Raja Inggris Pertama Ungkap Tagihan Pajak Pribadi
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.