Saat Pintar Secara Akademik Tak Cukup Jadi Bekal untuk Jalani Hidup

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Bekal menjalani hidup, apalagi di tengah dunia yang berubah cepat ini, tak cukup hanya mengandalkan prestasi akademik. Untuk itu, pilihan bekerja atau menempuh pendidikan di perguruan tinggi tak lagi harus dibedakan, bahwa yang satu lebih baik daripada yang lain. Keduanya perlu sama-sama dihargai.

Apa pun pilihan yang diambil, yang perlu dipastikan adalah siswa dapat tangguh dan percaya diri dalam menjalani hidupnya. Untuk itu, siswa perlu dibekali keterampilan nonteknis atau soft skills, selain akademik.

Apresiasi terhadap pilihan para siswa itu antara lain ditunjukkan oleh SMAN 13 Jakarta kepada para siswanya yang memilih bekerja seusai lulus. Penghargaan itu diberikan secara setara, layaknya penghargaan yang diberikan kepada siswa yang memilih melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

“SMAN 13 Jakarta akan selalu mensupport jalan masa depan peserta didik yang beragam, mulai dari PTN, PTS, kedinasan, hingga dunia kerja. Apa pun bidang yang ditekuni, tetaplah  menjadi manusia yang bermanfaat dan bertanggung jawab,” demikian ucapan untuk menunjukkan penghargaan yang disampaian di akun resmi SMAN 13 Jakarta di Instagram.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik di SMA Negeri 13 Jakarta Sumardiansyah Perdana Kusuma mengatakan, meskipun SMA Negeri 13 Jakarta adalah sekolah unggulan di Jakarta Utara, tetapi latar belakang ekonomi siswa sangat beragam. Ada siswa berkebutuhan khusus, kaum marginal, kemampuan akademik rendah, hingga siswa pintar.

Baca JugaKeterampilan Nonkognitif, Kunci Tersembunyi Kesuksesan Akademik

“Filosofi pendidikan menekankan, bahwa pendidikan itu harus adil dan memanusiakan peserta didik. Kami ingin memberikan perspektif baru bagi guru dan peserta didik, bahwa kesuksesan itu bukan semata-mata bagi yang diterima di PTN atau kedinasan. Karena itu, kami mengubah cara sekolah mengapresiasi siswa, mengapresiasi pencapaian semua siswa, yang diterima di PTN, PTS, kedinasan, termasuk yang langsung bekerja,” kata Sumardiansyah, pekan lalu.

Menurut Sumardiansyah, sejak tahun lalu, sekolah memperkuat kurikulum yang dapat menyiapkan siswa dalam tiga sisi atau triple track. Artinya, sekolah tidak hanya menyiapkan pendidikan yang memampukan siswa berhasil secara akademik. Softskills bagi siswa untuk tetap tangguh dan percaya diri dengan jalan hidup mereka, juga dikuatkan.

Bekal akademik perlu dilengkapi kesiapan mental siswa untuk menghadapi perubahan dunia kerja masa depan.

Salah satunya, ada pelatihan bagi siswa dari keluarga tidak mampu untuk magang di dunia usaha. Pembelajaran tetap dapat dijalankan secara daring oleh guru.

“Siswa yang lulus, lalu langsung bekerja dulu, bukan berarti tidak mau kuliah. Mereka memilih jalan untuk gap year (bekerja lebih dahulu) supaya bisa membiayai kuliah meskipun ekonomi keluarga terbatas. Mereka ini bukan berarti anak yang kalah sukses dari yang diterima di PTN. Sekolah harus belajar mengapresiasi semua anak,” kata Sumardiansyah.

Dalam menghadapi dunia yang berubah, Ika Widyarini, psikolog dan dosen Departemen Psikologi Universitas Brawijaya, ini mengatakan, bekal akademik perlu dilengkapi kesiapan mental siswa untuk menghadapi perubahan dunia kerja masa depan. Perubahan dunia kerja membuat ukuran keberhasilan generasi muda tidak lagi hanya dilihat dari capaian akademik.

Hal itu disampaikan Ika dalam forum webinar bertajuk “Mempersiapkan Generasi Adaptif di Dunia Kerja” pada Sabtu (20/6/2026) yang digelar oleh Komunitas Guru Sekolah Belajar (KGSB) dan Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya (UB). Acara itu diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang terdiri atas guru, tenaga kependidikan, orangtua, siswa, serta masyarakat umum.

Menurut Ika, banyak kemampuan teknis yang dapat terus dipelajari sesuai perkembangan zaman. Namun, kemampuan menghadapi perubahan, membangun relasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan membutuhkan proses pembentukan sejak dini.

“Ketika berbicara tentang masa depan anak, sebagian besar orangtua masih fokus pada satu pertanyaan bagaimana agar anak berprestasi secara akademik. Padahal, dunia kerja hari ini berubah jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya,” jelas Ika.

Ajakan ubah sudut pandang

Ika mengajak orangtua dan pendidik untuk mengubah sudut pandang. “Pertanyaan yang lebih relevan saat ini bukan hanya ‘Apakah anak saya pintar?’, tetapi ‘Apakah anak saya siap menghadapi perubahan?’ Karena kemampuan teknis dapat dipelajari kapan saja, tetapi kemampuan beradaptasi, bekerja sama, berkomunikasi, dan menghadapi ketidakpastian membutuhkan proses pembentukan yang panjang,” lanjutnya.

Ika menjelaskan, sekolah dan perguruan tinggi memberikan bekal pengetahuan serta kompetensi akademik. Namun, terdapat kemampuan penting yang menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, yaitu soft skills.

Baca JugaPendidikan Jiwa Merdeka

Kemampuan seperti komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, manajemen diri, hingga kemampuan memecahkan masalah menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan seseorang dalam lingkungan profesional. “Dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang pintar. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu mengelola dirinya, bekerja dengan orang lain, dan menemukan solusi ketika menghadapi situasi yang tidak selalu memiliki jawaban pasti,” ujar Ika.

Kemampuan tersebut tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pengalaman sehari-hari, interaksi sosial, serta pola pendampingan yang tepat. Salah satu pendekatan yang penting adalah pola mentoring dalam mendampingi anak.

Ika mengatakan, pola pendampingan tradisional sering kali membuat orangtua atau pendidik langsung memberikan solusi ketika anak menghadapi masalah. Padahal, dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, anak perlu dilatih untuk berpikir dan mengambil keputusan.

Melalui pendekatan mentoring, anak didorong untuk memahami proses, bukan hanya mengejar hasil akhir.

“Seorang mentor tidak selalu memberi jawaban. Mentor membantu anak berpikir. Mentor menciptakan ruang aman untuk mencoba, gagal, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Tujuannya bukan menciptakan anak yang selalu benar, tetapi anak yang mampu belajar dari kesalahan,” ujar Ika.

Melalui pendekatan mentoring, anak didorong untuk memahami proses, bukan hanya mengejar hasil akhir. Ika menjelaskan terdapat empat pilar utama yang perlu dikembangkan untuk membangun generasi siap menghadapi masa depan.

Pertama, komunikasi dan kemampuan interpersonal. Anak perlu belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, memahami perbedaan karakter, serta membangun empati. Kemampuan komunikasi menjadi salah satu fondasi penting karena hampir seluruh profesi membutuhkan interaksi dengan manusia.

Kedua, kerja sama tim dan kepemimpinan. Dunia kerja modern membutuhkan individu yang mampu berkolaborasi, berbagi peran, menyelesaikan konflik, serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

Ketiga, manajemen diri dan etos kerja. Anak perlu memahami pentingnya mengatur waktu, menentukan prioritas, mengelola tanggung jawab, serta memiliki kegigihan ketika menghadapi tantangan.

Menurut Ika, fase sulit dalam belajar merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan mental. “Orang yang berhasil bukan mereka yang tidak pernah gagal. Melainkan mereka yang mampu bangkit setelah gagal,” ujarnya.

Keempat, pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset). Kemampuan ini bukan hanya berkaitan dengan membangun bisnis, tetapi juga kemampuan melihat peluang, menciptakan solusi, berinovasi, dan berani mengambil risiko yang terukur. “Dunia masa depan membutuhkan individu yang tidak hanya menunggu instruksi, tetapi mampu menemukan jalan ketika petunjuk belum tersedia,” ungkap Dr. Ika.

“Masa depan anak tidak hanya dibentuk oleh apa yang dipelajari di sekolah, tetapi juga oleh pengalaman, percakapan, serta pendampingan yang mereka terima dalam keseharian. Menjadi mentor bukan berarti menjadi orangtua atau pendidik yang sempurna, tetapi hadir untuk mendampingi, mendengarkan, mengajukan pertanyaan, serta memberi ruang bagi anak untuk tumbuh,” papar Ika.

Baca JugaBenahi Mutu Pendidikan dengan Menerapkan Pola Pikir Bertumbuh

Di acara webinar itu, Koordinator Program dan Pelatihan Komunitas Guru Sekolah Belajar (KGSB), Riki M Iskandar, pun menyampaikan, bahwa perkembangan zaman menuntut adanya perubahan cara pandang dalam proses pendidikan. Sekolah memiliki peran penting dalam membangun fondasi pengetahuan. Namun, pendidikan di sekolah juga perlu memberi ruang bagi pengembangan karakter dan keterampilan nonteknis yang akan menjadi bekal anak menghadapi masa depan.

“Perubahan yang terjadi begitu cepat menuntut generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berbagai keterampilan nonteknis atau soft skills yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan dan dunia kerja, khususnya di era Society 5.0,” ujar Riki.

Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kreatif, mengelola diri, hingga menghadapi ketidakpastian merupakan keterampilan yang perlu dibangun sejak dini.

Adapun era Society 5.0 menuntut adanya penggunaan ilmu pengetahuan modern, baik itu kecerdasan buatan maupun robot, untuk kepentingan manusia dengan tujuan agar manusia dapat hidup dengan nyaman.

Untuk itu, Riki menyebutkan, kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kreatif, mengelola diri, hingga menghadapi ketidakpastian merupakan keterampilan yang perlu dibangun sejak dini. Keterampilan ini dibangun melalui proses pendampingan atau mentoring yang tepat.

Oleh karena itu, tuntutan saat ini adalah, “Jadilah mentor hari ini, untuk melahirkan pemimpin masa depan esok hari,”. Pesan itu menjadi penutup webinar yang mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mempersiapkan generasi yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi perubahan zaman. 

 

 

 

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mewah & Elegan: Menilik Gaun Pengantin Dua Lipa Lansiran Chanel Haute Couture
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Piala Dunia 2026: Messi Selamat dari Kartu Merah, Federasi Aljazair Protes Keras FIFA
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Said Iqbal Temukan Potensi PHK Ribuan Buruh di Jatim hingga Bandung
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Lumat Swedia 5-1, Duet Brobbey-Gakpo Samai Rekor Legendaris Robben-Van Persie di Piala Dunia 2014
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Pengadilan Cegat Istri PM Spanyol ke Luar Negeri karena Dugaan Korupsi
• 15 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.