Volatilitas Saham BOLA Kala Bali Bintang Sejahtera Jual Anak Usaha

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Manajemen PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. (BOLA) buka suara terkait dengan lonjakan dan penurunan tajam harga saham emiten pemilik klub sepak bola Bali United tersebut.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait dengan volatilitas transaksi saham BOLA, Corporate Secretary Bali Bintang Sejahtera Yohanes Ade Bunian Moniaga menjelaskan bahwa perseroan tidak memiliki informasi atau fakta material yang belum disampaikan kepada publik.

“Perseroan tidak memiliki informasi atau fakta material sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 31/POJK.04/2015 yang belum kami laporkan kepada Bursa Efek Indonesia maupun Otoritas Jasa Keuangan,” kata Yohanes dikutip Minggu (21/6/2026).

Hanya saja, dia mengungkapkan bahwa BOLA saat ini tengah menjalani proses penjualan salah satu anak usaha tidak langsung (indirect subsidiary).

“Perseroan sedang dalam proses penjualan Indirect Subsidiary, akan tetapi menurut perseroan, hal ini tidak termasuk sebagai transaksi material sesuai dengan POJK No 17/POJK.04/2020. Proses ini juga masih menunggu persetujuan dari OJK dalam waktu yang tidak bisa ditentukan oleh perseroan,” ujarnya.

Dia juga menegaskan bahwa perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material lain yang dapat mempengaruhi nilai efek atau keputusan investasi pemodal sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi BEI.

Yohanes menekankan bahwa Bali Bintang Sejahtera telah menyampaikan seluruh informasi penting kepada BEI dan OJK sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sebagai gambaran, harga saham BOLA tercatat stagnan pada perdagangan Jumat (19/6/2026). Dibuka dengan harga Rp160 per lembar, saham BOLA kembali ditutup di level Rp160 per saham, naik 1,27% dari penutupan hari sebelumnya di level Rp158 per lembar.

Sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD) 2026, saham BOLA tercatat turun 9,60% dan dalam 6 bulan terakhir juga melemah 8,57%, dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp960 miliar.

Dalam rentang waktu 23 Juni 2025 hingga 19 Juni 2026, harga tertinggi saham BOLA berada di level Rp226 per lembar pada 28 Agustus 2025, sedangkan level terendahnya Rp92 per lembar pada pada 23 Juni 2025.

Volatilitas tinggi saham BOLA terpantau terjadi pada 22 April 2026 dari level Rp188 per saham, kemudian terus turun hingga pada 8 Juni 2026 bertengger di level Rp115 per saham.

Dari sisi kinerja, pada kuartal I/2026 Bali Bintang Sejahtera tercatat meraup pendapatan sebesar Rp77,86 miliar, tumbuh 28,82% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp60,44 miliar.

Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan beban operasional yang meningkat 17,30% pada kuartal I/2026 menjadi Rp83,09 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp70,83 miliar, sehingga rugi sebelum pajak melonjak 264,57% menjadi Rp102,86 miliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp28,22 miliar.

---

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cara Mencegah Jalan Ambles di Jakarta Berulang, Tak Cukup Hanya Menambal Ulang
• 8 jam lalukompas.com
thumb
DPR Soroti Platform Mantab dan Dashboard Investasi BP Batam, Sebut Bisa Jadi Contoh Nasional
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Pembicaraan Iran-AS Akan Digelar pada Minggu, Lebanon Jadi Isu Utama
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Dishub DKI Tegaskan Motor Ojol Diangkut Diminta Tebusan Rp 250 Ribu Hoax
• 1 jam laludetik.com
thumb
Pihak Sarwendah Yakin Menang soal Gugatan Hak Asuh Anak
• 9 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.