Analis sosial politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menyebut mahasiswa turun ke jalan bukan karena senior. Jadi, masuknya para aktivis ke pemerintahan tidak akan serta-merta membuat mahasiswa diam melihat kondisi sosial ekonom negara ini.
"Elite kan berpikir kalau semua aktivis jadi pejabat nanti tidak ada lagi yang demonstrasi. Mahasiswa itu demonstrasi bukan karena senior. Jadi, tidak bisa mengendalikan aktivis senior lalu mahasiswa di bawah dengan mudah diam," ujar Ubedilan dalam siniar atau podcast To The Point Aja yang tayang di YouTube SindoNews, dikutip Minggu (21/6/2026).
Menurut Ubedilah, mahasiswa demonstrasi karena adanya ide dan konteks sosial politik. "Jadi, kalaupun senior mengatakan jangan demo, tetapi secara sosial ekonomi mereka bilang orang tua saya menderita kok, gimana saya nggak bergerak, UKT naik kok, macam-macam."
Baca Juga: Ubedilah Badrun Bongkar Upaya Pembelahan Gerakan Mahasiswa
Baca Juga:Sopir Taksi Green SM Ditetapkan Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi TimurUbedilah mengatakan, setiap zaman pasti ada anak muda yang merespons apa yang mereka alami. "Dari zaman Jokowi, semua aktivis direkrut, tapi demo terus terjadi. Ini sekarang lebih parah, dari kubu Jokowi masuk kabinet juga aktivisnya, dari Prabowo para aktivis masuk juga, kelompok kanan maupun kiri," jelasnya.Menurut Ubedilah yang pada 1996 membidani lahirnya Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ), masuknya sejumlah aktivis seperti Budiman Sudjatmiko, Nusron Wahid, M Jumhur Hidayat, dan Said Iqbal ke barisan pemerintah, ternyata tidak membuat mahasiswa diam.
"Saya yakin mereka berpikir dengan aktivis banyak direkrut di kekuasaan itu supaya mahasiswa diam, ternyata hipotesa itu salah, keliru. Yang terjadi kan kemudian tidak (diam), bahkan mahasiswa terus bergerak. Mahasiswa paham bahwa negara ini sedang sakit," ujarnya.
#nasional




