Kisah Nenek Sania Buruh Cuci ke Tanah Suci: Antara Utang dan Harapan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkap kisah mengharukan seorang jemaah haji asal Serdang Bedagai, Sumatera Utara, yang harus menanggung utang demi mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji.

Perempuan tersebut adalah Sania (72), seorang janda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci dan tinggal menumpang di rumah anaknya. Dahnil mengatakan dirinya mengunjungi langsung kediaman Sania untuk melihat kondisi jemaah haji yang baru saja pulang dari Tanah Suci.

"Hari ini, saya berkunjung ke rumah salah satu jemaah haji 2026 di Serdang Bedagai. Nek Sania namanya," kata Dahnil dalam keterangan yang dibagikan kepada Media Center Haji (MCH) 2026, Minggu (21/6).

"Nek Sania adalah jemaah haji yang berangkat haji tahun 2026, beliau adalah buruh cuci," sambungnya.

Dahnil menjelaskan, Sania mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada 2014 menggunakan uang pemberian anak-anaknya.

Pada 2026, panggilan untuk berangkat akhirnya datang. Namun, untuk melunasi biaya perjalanan haji, Sania harus berutang kepada sejumlah pihak.

"Akhirnya, beliau berangkat haji tahun ini, dan utangan tersebut," ujar Dahnil.

Menurut Dahnil, Kemenhaj mendata kondisi para jemaah haji dan menemukan cukup banyak kasus serupa yang dialami Sania.

"Mungkin bagi banyak orang, ngapain sih sampai utang? Ngapain sih memaksakan diri bila tak mampu secara material?" ujar Dahnil.

"Pikiran banyak orang tersebut tak salah. Benar secara syariat, karena haji disyaratkan bagi yang mampu," sambungnya.

Namun, kata Dahnil, fenomena tersebut mencerminkan spirit keberagamaan khas Indonesia. Bagi sebagian orang, ibadah haji dipandang sebagai puncak penyempurnaan spiritual. Karena itu, maknanya tidak selalu dipahami semata-mata dari aspek syariat, tetapi juga dari sisi hakikat hingga makrifat.

Menurutnya, tidak semua aspek spiritualitas dapat dijelaskan secara rasional. Ada dimensi batiniah yang sulit diterangkan, sebagaimana cinta yang kerap tidak dapat dirasionalisasi.

"Maka ada ungkapan "Cinta itu Buta". Mahabatullah, kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT diekspresikan seorang Nek Sania dengan memaksakan diri agar mampu naik haji," ucapnya.

"Saya sering menyebutnya, ada orang yang mampu naik haji tapi ada juga berusaha dan memampukan diri naik haji sehingga semua upaya halal dilakukan meskipun secara syariat kewajiban mereka telah gugur sejatinya. Namun, cinta kepada Allah dan Nabinya tidak bisa direduksir dengan sekadar rasionalitas syariat," sambungnya.

Atas arahan Presiden Prabowo, lanjut Dahnil, Kemenhaj kini mendata jemaah-jemaah haji yang memiliki kondisi serupa dengan Sania.

"Agar bebannya diringankan, agar utangnya terbayarkan," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perebutkan 2 Ribu Posisi, 100 Ribu Orang Serbu Program Padat Karya Jakarta
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Chongqing Cultural Cyberpunk Tourism: Antara Gemerlap Kota dan Realitas Lokal
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Kuasa Hukum Jokowi Bantah Tekan Roy Suryo untuk Restorative Justice: Kita Ingin Segera Disidangkan
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditahan di Rutan Polda Metro Malam Ini, Besok Dilimpahkan ke Jaksa
• 38 menit lalurctiplus.com
thumb
Iran Tutup Selat Hormuz dan Ancam Langkah Lanjutan, AS Bantah Kendali Teheran
• 11 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.