HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Minat masyarakat Kota Makassar terhadap investasi dan pasar modal menunjukkan tren yang terus meningkat. Hal tersebut terlihat dari tingginya antusiasme pengunjung pada sesi edukasi investasi dalam gelaran BRI Consumer Expo 2026 yang berlangsung di Main Atrium Trans Studio Mall Makassar, 19–21 Juni 2026.
Di tengah keramaian pengunjung yang memadati pusat perbelanjaan, area talkshow pasar modal tampak dipenuhi peserta dari berbagai kalangan. Tidak hanya masyarakat umum, mahasiswa hingga generasi muda juga terlihat antusias mengikuti materi mengenai investasi yang aman dan tepat, khususnya bagi pemula.
BRI Consumer Expo 2026 tidak hanya menghadirkan beragam promo perbankan, seperti suku bunga KPR BRI mulai 1,75 persen dan hiburan dari penyanyi Keisha Levronka, tetapi juga menyediakan ruang edukasi bagi masyarakat melalui sesi pasar modal yang menghadirkan praktisi dan analis investasi.
Technical Analyst PT BRI Danareksa Sekuritas, Reza Deafanda, mengatakan minat masyarakat Makassar terhadap edukasi investasi terbilang tinggi. Hal itu terlihat dari jumlah peserta yang memenuhi lokasi talkshow hingga seluruh kursi yang disediakan terisi penuh.
Menurut Reza, masyarakat yang ingin memulai investasi maupun trading tidak perlu ragu untuk mencoba. Namun, ia menekankan pentingnya memahami risiko dan mengenali instrumen investasi yang dipilih.
“Investasi itu proses belajar. Tidak perlu takut memulai, tetapi harus dibarengi dengan pemahaman dan praktik secara langsung atau learning by doing,” ujarnya.
Ia juga menilai peluang pemulihan pasar saham masih terbuka meskipun sebelumnya mengalami tekanan cukup signifikan. Sejumlah faktor global dan domestik, kata dia, mulai memberikan sinyal positif terhadap potensi penguatan pasar, termasuk peluang rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Sementara itu, Head Department of Customer Engagement Analyst PT BRI Danareksa Sekuritas, Chori Agung Ramadhani, menegaskan bahwa investasi saat ini dapat diakses oleh siapa saja, termasuk masyarakat yang baru mengenal pasar modal. Menurutnya, investor pemula perlu memperhatikan tiga hal penting sebelum membeli saham, yaitu memahami produk atau bisnis perusahaan, memperhatikan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, serta memastikan saham memiliki tingkat likuiditas yang baik.
“Jangan hanya ikut tren. Pahami dulu perusahaan yang dipilih dan bagaimana prospek bisnisnya,” katanya.
Tingginya antusiasme juga datang dari kalangan mahasiswa. Salah seorang peserta, Faikraya Andalasia, mengaku tertarik mengikuti Edufest BRI 2026 karena ingin memahami pengaruh isu geopolitik dan politik terhadap pergerakan pasar modal.
Mahasiswa semester empat Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Makassar itu mengaku telah berinvestasi di reksa dana sejak kelas tiga SMP. Meski belum mencoba investasi saham, ia mulai tertarik karena semakin mudahnya akses melalui berbagai aplikasi investasi.
“Saya berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk meningkatkan literasi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda,” ulasnya.
Ekonom Universitas Muhammadiyah Makassar, Abdul Muttalib, menilai meningkatnya minat masyarakat Makassar terhadap investasi merupakan indikator positif yang menunjukkan adanya perubahan perilaku ekonomi masyarakat. Menurutnya, masyarakat kini mulai bergeser dari pola konsumsi jangka pendek menuju pola pengelolaan keuangan yang lebih berorientasi pada perencanaan masa depan.
Namun, peningkatan jumlah investor baru, terutama dari kalangan generasi muda, menurutnya perlu dibaca secara lebih kritis. Tingginya minat masyarakat masuk ke pasar modal tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat pemahaman investasi yang memadai.
“Fenomena tersebut dapat menjadi peluang besar bagi penguatan ekonomi masyarakat. Akan tetapi pada saat yang sama juga menyimpan risiko apabila keputusan investasi dilakukan hanya karena tren media sosial, pengaruh lingkungan, atau dorongan fear of missing out (FOMO),” ulasnya.
Ia menilai saat ini akses masyarakat terhadap instrumen investasi memang semakin terbuka. Berbagai platform digital telah membuat masyarakat dapat berinvestasi hanya dengan modal yang relatif kecil. Kondisi tersebut menjadi perkembangan yang baik dari sisi inklusi keuangan. Akan tetapi, kemudahan akses perlu diimbangi dengan kemampuan memahami karakter produk investasi, tingkat risiko, dan mekanisme pasar.
Menurut Muttalib, investor pemula sering kali terlalu fokus pada potensi keuntungan yang tinggi tanpa memahami kemungkinan terjadinya fluktuasi pasar. Padahal, dalam investasi terdapat prinsip dasar yang harus dipahami bahwa semakin besar potensi imbal hasil, semakin besar pula risiko yang harus dihadapi.
Ia juga menekankan pentingnya literasi keuangan yang berkelanjutan. Edukasi tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan sesaat, melainkan perlu menjadi proses yang berkesinambungan melalui kampus, lembaga keuangan, komunitas, hingga institusi pendidikan. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi investor yang aktif secara jumlah, tetapi juga memiliki kualitas pengambilan keputusan yang baik.
Lebih lanjut, Muttalib menilai meningkatnya jumlah investor di daerah dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian lokal. Ketika masyarakat mulai memiliki kesadaran untuk menempatkan dana pada instrumen yang produktif, hal itu dapat mendorong perputaran modal, memperkuat pasar keuangan, dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Target utamanya bukan sekadar menambah jumlah investor, tetapi menciptakan masyarakat yang cerdas secara finansial dan mampu mengambil keputusan ekonomi secara rasional,” bebernya. (edo)





