Bisnis.com, JAKARTA— Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) menilai dominasi Shopee dan TikTok Shop di pasar e-commerce Indonesia tidak hanya ditopang oleh faktor harga, tetapi juga kemampuan keduanya dalam merebut perhatian pengguna melalui konten dan hiburan digital.
Ketua Umum Idiec Tesar Sandikapura mengatakan perilaku konsumen saat ini telah berubah. Pengguna tidak lagi sekadar membuka aplikasi untuk berbelanja, tetapi juga mencari hiburan, konten, serta rekomendasi produk.
Menurutnya, TikTok Shop dan Shopee memiliki keunggulan karena mampu menggabungkan aktivitas belanja dengan video pendek, live shopping, program afiliasi, hingga berbagai promosi yang mendorong keterlibatan pengguna.
“Untuk mengejar ketertinggalan, Lazada dan Blibli tidak bisa hanya mengandalkan diskon. Mereka perlu memiliki pembeda yang jelas dan memperkuat ekosistem konten agar pengguna punya alasan untuk datang dan berbelanja,” kata Tesar kepada Bisnis, Minggu (21/6/2026).
Tesar menilai persaingan e-commerce saat ini bukan lagi semata-mata memperebutkan daya beli konsumen, melainkan waktu dan perhatian mereka.
"Sederhananya, yang diperebutkan sekarang bukan lagi dompet konsumen, melainkan waktu dan perhatian mereka. TikTok Shop dan Shopee saat ini lebih unggul di keduanya,” ujarnya.
Baca Juga
- Tenggat Singkat Seller Shopee-TikTok Shop Cs Urus NIB
- Persaingan Shopee-TikTok Shop Makin Ketat, idEA: Bukan Lagi Soal Promo dan Harga
- Kementerian UMKM Minta Pedagang Shopee-TikTok Shop Cs Segera Urus NIB
Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan mengatakan pergeseran pangsa pasar mencerminkan ketatnya persaingan di industri e-commerce, di mana setiap platform memiliki strategi, segmen pengguna, dan proposisi nilai yang berbeda.
“Data pangsa pasar tersebut pada dasarnya menggambarkan dinamika persaingan yang sangat kompetitif di industri e-commerce,” kata Budi kepada Bisnis.
Dia menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan industri banyak didorong oleh hadirnya live commerce, video commerce, program afiliasi, integrasi konten dan transaksi, serta berbagai program promosi.
Di sisi lain, konsumen Indonesia kini semakin beragam dan cenderung menggunakan lebih dari satu platform sesuai kebutuhan. Karena itu, perubahan pangsa pasar tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tertentu, melainkan merupakan kombinasi dari inovasi produk, pengalaman pengguna, variasi layanan, strategi promosi, kekuatan ekosistem, serta preferensi konsumen yang terus berkembang.
Ke depan, Budi menilai persaingan akan semakin ditentukan oleh kemampuan platform dalam menghadirkan nilai tambah bagi pengguna, baik dari sisi penjual maupun konsumen.
“Ini bisa berupa pengalaman belanja yang lebih baik, dukungan terhadap UMKM, penguatan logistik dan pembayaran, pemanfaatan teknologi, hingga kemampuan mengintegrasikan berbagai kanal perdagangan digital,” katanya.
Dia menambahkan bahwa kompetisi yang sehat akan memberikan dampak positif bagi perkembangan ekosistem digital. Menurutnya, seluruh pelaku industri, termasuk Lazada, Blibli, Shopee, TikTok Shop, dan platform lainnya, terus berinovasi untuk menjawab kebutuhan pasar.
“Tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua platform. Yang paling penting adalah bagaimana setiap platform terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen yang berubah, mendukung pertumbuhan penjual dan UMKM, serta membangun keunggulan yang relevan dan berkelanjutan di tengah persaingan yang semakin dinamis,” ujar Budi.
Berdasarkan laporan E-Commerce in Southeast Asia 2026 yang dirilis Momentum Works, Shopee menjadi pemimpin pasar e-commerce Indonesia dengan pangsa pasar 54% pada 2025, naik dari 46% pada 2024.
Sementara itu, gabungan TikTok Shop dan Tokopedia menempati posisi kedua dengan pangsa pasar 38%. Dengan demikian, kedua pemain tersebut menguasai sekitar 92% nilai transaksi kotor atau gross merchandise value (GMV) e-commerce Indonesia.
Laporan tersebut juga mencatat GMV e-commerce Indonesia mencapai US$57,7 miliar atau sekitar Rp999,4 triliun pada 2025, meningkat dibandingkan US$56,5 miliar atau sekitar Rp978,6 triliun pada 2024.
Di tengah dominasi dua pemain terbesar tersebut, pangsa pasar sejumlah platform lain terus menyusut. Lazada menguasai 6% pasar e-commerce Indonesia pada 2025, turun dari 7% pada tahun sebelumnya. Adapun Blibli memiliki pangsa pasar 3%, lebih rendah dibandingkan 4% pada 2024.
Sementara itu, Bukalapak yang pada 2024 masih menyumbang sekitar 10% GMV e-commerce nasional tidak lagi tercantum dalam daftar pemain utama pada 2025.





