Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya kenaikan pada jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, akan memberikan andil terhadap peningkatan inflasi nasional.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menuturkan bahwa saat ini terdapat sejumlah faktor risiko inflasi yang mencuat dan menjadi perhatian bank sentral. Tantangan utama berasal dari rambatan global berupa transmisi harga minyak dan komoditas ke dalam negeri, atau yang lazim disebut sebagai imported inflation.
Faktor rambatan global tersebut secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti yang tercermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru-baru ini.
Adapun, PT Pertamina Patra Niaga resmi mengerek harga Pertamax dari sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, efektif per 10 Juni 2026. Sejalan dengan itu, harga Pertamax Green 95 (RON 95) juga mengalami penyesuaian dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
"Untuk sementara, hitungan kami kurang lebih dia [kenaikan harga Pertamax] berkontribusi sekitar 0,25% kepada inflasi," ungkap Aida dalam pengumuman hasil RDG Juni 2026, dikutip Minggu (21/6/2026).
Selain tekanan imported inflation, Aida menggarisbawahi faktor risiko kedua yang tengah diwaspadai adalah potensi gangguan cuaca. Fenomena El Nino diperkirakan akan melanda Indonesia pada periode akhir Juni hingga Oktober atau November mendatang.
Baca Juga
- Bos BI Ramal The Fed Bakal Kerek Suku Bunga Akibat Inflasi di AS
- Inflasi AS Masih Lampaui 2%, Ketua The Fed Janji Wujudkan Stabilitas Harga
- Berpacu Menahan Dampak Inflasi Medis
Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memberikan tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food). Meski demikian, BI menilai risiko dari sisi hulu pertanian, seperti lonjakan harga pupuk, dapat diredam karena kapasitas produksi pupuk domestik dinilai masih sangat mencukupi.
Oleh sebab itu, BI mengonfirmasi bahwa laju inflasi memang mulai menunjukkan tren peningkatan. Akan tetapi, Aida memastikan bahwa proyeksi inflasi tetap terjangkar dalam rentang sasaran yang ditetapkan oleh bank sentral dan pemerintah.
"Memang proyeksi inflasi ini mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5% plus minus 1%. Jadi paling tinggi kita 3,5%, ini masih dalam target tersebut," tegasnya.
Sebagai langkah mitigasi, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak. Terkait stabilitas harga volatile food, langkah antisipasi difokuskan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang dikoordinasikan secara intensif bersama pemerintah daerah di seluruh Indonesia guna memastikan ketersediaan pasokan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan bahwa otoritas moneter juga memilih kembali menaikkan suku bunga acuan alias BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% pada rapat dewan gubernur (RDG) BI edisi Juni 2026 demi salah satunya menjaga inflasi tetap terkendali.
"Itulah sebagai salah satu pertimbangan kenapa kita menaikkan BI Rate, yaitu sebagai langkah forward looking, pre-emptive, untuk memastikan inflasi dalam dua tahun ke depan, 2026—2027, dari global tadi tetap terkendali dalan sasaran 2,5±1%," ujar Perry pada kesempatan yang sama.





