VIVA – Kasus penyekapan dan penganiayaan yang dialami oleh wanita berinisial YTR (29) menjadi perhatian publik.
Pasalnya, korban telah disekap oleh kekasihnya berinisial TH selama tiga tahun hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi kritis di kamar kost di wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
YTR yang merupakan warga asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini mendapatkan luka serius di sekujur tubuhnya.
Diduga korban mendapatkan penganiayaan berupa pukulan, pembacokan, dan penyiksaan oleh pelaku.
Akibatnya, kondisi korban mengalami infeksi berat di kepala, mata yang kehilangan fungsi penglihatan, hingga tubuh penuh dengan luka bakar serta luka tusuk yang dalam.
Sayangnya, pelaku penyekapan yang merupakan kekasihnya berinisial TH melarikan diri dan polisi masih melakukan pengejaran.
Kasus ini menjadi perhatian publik, salah satu pihak yang turut menyoroti yaitu anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Atalia Praratya.
Atalia Praratya merasakan duka mendalam sekaligus geram atas kasus ini, bahkan dirinya telah menjenguk korban di rumah sakit.
Ia menyaksikan kondisi korban yang tubuhnya telah hancur akibat penganiayaan yang dilakukan pelaku.
Namun, ibu dua anak ini mengaku heran dan mempertanyakan kepedulian masyarakat mengapa penyekapan yang telah berlangsung selama tiga tahun di permukiman padat bisa terjadi.
“Bagaimana mungkin penyekapan sekeji ini bisa berlangsung selama tiga tahun di tengah permukiman padat? Di area kost pula,” ungkap Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya.
- Instagram @ataliapr
Dirinya sangat menyayangkan ketidakpekaan sosial di lingkungan sekitar. Padahal tanda-tanda kecurigaan sudah sangat nyata.
“Saya sangat menyayangkan ketidakpekaan sosial di lingkungan sekitar. Tetangga kost sering mendengar benturan keras dari dalam kamar. Penjaga kost juga melihat korban dipapah dalam kondisi lemah sejak Maret 2026 dan pintu selalu dikunci dari luar,” jelas Atalia.
“Apakah tanda-tanda kejanggalan yang terang benderang seperti ini didiamkan? Ketidakpedulian kita adalah ruang nyaman bagi para pelaku kejahatan. Apakah fungsi social polishing telah mati?” sambungnya.
Atalia menegur keras kepada masyarakat untuk tidak lagi abai ketika ada seseorang yang mengalami penganiayaan.





