Oleh : Marsuki*
Sesuai data terakhir BPS, ada fakta menarik yang perlu elaborasi analisis terkait dengan tren pertumbuhan ekonomi Sulsel. Bisa dikatakan cukup baik, 6,88 persen di tengah ketatnya tekanan makroekonomi global yang telah memicu volatilitas depresiasi rupiah.
Kurs sempat menyentuh batas psikologis Rp18.000/dolar AS. Syukur kini trennya mulai menguat setelah ada kontrak perdamaian perang antara AS-Iran, bersamaan dengan agresifnya otoritas moneter, fiskal, dan OJK mengambil langkah-langkah strategis untuk mempengaruhi perilaku para pelaku ekonomi di pasar uang atau modal tidak membawa sumber daya keuangannya keluar.
Tercatat oleh BPS bahwa data kuartal I 2026, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel mampu tumbuh mencapai 6,88 persen (yoy) lebih tinggi dari periode sebelumnya. Sehingga posisi Sulsel secara nasional masuk pada urutan ke-6 nasional.
Sulsel berarti bisa menjadi jangkar utama perekonomian di Pulau Sulawesi karena kontribusinya mencapai 43,54 persen. Jika ditelusuri dengan seksama, ada beberapa faktor penentu sehingga perekonomian Sulsel mampu berselancar cukup lincah di antara kondisi tren volatilitas nilai tukar yang terdepresiasi.
Pertama, dalam kasus perekonomian daerah berbasis komoditas pertanian unggulan, di antaranya Sulsel, bisa dikatakan bahwa nilai tukar yang terdepresiasi mempunyai efek transmisi pada dua sisi (double-edged sword). Di satu sisi berarti ada insentif eksportir komoditas, karena dengan pelemahan rupiah pada dasarnya memberikan berkah tersendiri (windfall effect) bagi pada sektor-sektor berorientasi ekspor.
Sektor perikanan, seperti telur ikan terbang yang menembus pasar China dan sektor pertanian/perkebunan bisa memperoleh keuntungan nilai tukar saat mengonversi pendapatan valasnya ke rupiah. Tetapi di sisi lain, ada masalah tekanan pada sektor industri pengolahan, karena ada sisi negatif pada industri pengolahan, sebab umumnya tingkat ketergantungannya pada input impor.
Di antaranya, bahan baku pakan ternak atau mesin pengolahan yang langsung berdampak pada tekanan biaya, akibat inflasi impor (imported inflation). Syukur, untuk kasus Sulsel, efeknya relatif terbatas karena struktur industrinya masih didominasi oleh hilirisasi pada sektor pangan lokal yang masih kurang komponen impornya.
Kedua, walaupun kinerja ekonomi eksternal berfluktuasi cukup tidak menentu, syukur motor kinerja utama pertumbuhan ekonomi Sulsel masih bisa didorong oleh sektor konsumsi domestik sebagai penyumbang terbesar pada PDRB Sulsel. Ini dimungkinkan, karena daya beli rakyat kebanyakan tampaknya masih bisa terjaga, karena inflasi inti relatif terkendali di dalam sasaran target kebijakan otoritas, 2,5 ±1 persen.
Hal ini berkat koordinasi ketat dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Kemudian pasokan pangan yang aman dari sentra-sentra produksi lokal seperti Sidrap dan Maros sehingga mampu dijaga ekspektasi inflasi dari masyarakat bisa stabil.
Perdagangan dalam negeri antardaerah, baik antarkabupaten di Sulsel, bahkan antarprovinsi di KTI masih berjalan lancar. Misalnya, Sidrap mampu memasok puluhan ribu rak telur ke luar provinsi, yang mengompensasi perlambatan permintaan di beberapa sektor padat modal.
Ketiga, pada dasarnya sumber utama pertumbuhan Sulsel secara wilayah atau sektoral tidak hanya terpusat di Kota Makassar atau sektor tertentu saja, namun didukung oleh beberapa kabupaten dan sektor unggulan di Sulsel yang terjaga.
Di antaranya, Selayar bisa tumbuh tinggi, 9,83 persen sebagai dampak akselerasi pada sektor perikanan tangkap dan pariwisata bahari. Kemudian, Maros, bisa tumbuh 9,54 persen, dampak dari peran konektivitas logistik, belanja pemerintah, dan industri semen yang terus berperan.
Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi Sulsel tetap didukung secara penuh dari sektor pertanian dalam arti luas, dengan pertumbuhan terus meningkat, 17,81 persen, akibat kondisi cuaca yang kondusif mendukung swasembada pangan daerah. Kemudian pertumbuhan tertinggi, sektor administrasi pemerintahan, 20,56 persen.
Serta peran sektor transportasi dan pergudangan, mampu tumbuh 11,43 persen, karena Sulsel sebagai hub logistik di KTI. Sektor pertambangan konstruksi, meskipun tren perannya melambat akibat tekanan volatilitas harga mineral global dan biaya operasional akibat depresiasi rupiah yang tidak menentu, tampaknya tetap mempunyai prospek signifikan sebagai penyumbang pertumbuhan PDRB Sulsel ke depannya.
Keempat, meski pertumbuhan Sulsel secara kuantitatif memang cukup menggembirakan, relatif tinggi, secara struktural dan umum masalah utama yang dihadapi Sulsel, yaitu persoalan terkait dengan tingkat efisiensi investasi yang masih rendah, atau ICOR (Incremental Capital Output Ratio) yang tinggi.
Itu karena kualitas penyerapan modal di Sulsel sangat rendah. Walaupun memang pola ICOR ini sebenarnya secara nasional juga masih tinggi, karena masih lebih tinggi dibanding, Malaysia dan Vietnam. Artinya, setiap unit pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan Sulsel memerlukan investasi modal fisik yang relatif besar, atau dengan kata lain, efisiensi investasi domestik belum sepenuhnya optimal akibat beberapa hambatan struktural, biaya transportasi atau biaya logistik.
Dampaknya, pertumbuhan yang tinggi menjadi kurang inklusif, gagal menetes secara optimal ke lapisan pelaku ekonomi Masyarakat kebanyakan (UMKM). Terakhir, secara keseluruhan, dengan memperhatikan informasi kuantitatif tersebut diatas maka dapat dikatakan bahwa tren ekonomi Sulsel saat ini berada dalam fase resiliensi agresif.
Kuatnya peran dan basis ketahanan pangan domestik dan ketergantungan yang rendah pada barang modal impor membuat wilayah ini mampu meminimalkan transmisi risiko volatilitas nilai tukar yang tidak menentu yang sedang melanda pasar keuangan global dan nasional.
Walaupun demikian, kondisi pertumbuhan tinggi sebenarnya hanya menjadi target sementara yang perlu diusahakan agar perekonomian Sulsel tidak terjebak dalam krisis yang mungkin terjadi, karena yang terpenting kedepannya adalah bagaimana mengupayakan nilai pertumbuhan tersebut benar-benar bisa dinikmati oleh masyarakat kebanyakan, secara adil dan merata, jadi bukan hanya dinikmati oleh segelintir pelaku ekonomi besar saja. (*)
*Guru Besar FEB Unhas





