jpnn.com - JAKARTA - Agresi Israel ke Lebanon menjadi ganjalan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Darmansjah Djumala mengatakan kesepakatan damai yang sempat terbangun antara Amerika Serikat dan Iran telah terganjal agresi Israel ke Lebanon.
BACA JUGA: Pernyataan Terbaru Trump Pasca-Penandatanganan Kesepakatan Damai AS â Iran
Menurut dia, kesepakatan damai AS-Iran itu memberikan secercah harapan baru bagi terciptanya perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
Namun, dia mengatakan jangan terlalu banyak berharap damai segera terwujud, karena ada ganjalan Israel yang terus melakukan agresi ke Lebanon.
BACA JUGA: AS: Iran tidak Mengendalikan Selat Hormuz
"Meskipun AS dan Iran sudah menyetujui kesepakatan damai, prospeknya di Timur Tengah masih diragukan," kata Darmansjah dalam keterangan di Jakarta, Minggu (21/6).
Mantan Duta Besar RI untuk Austria dan PBB itu mengatakan bahwa setelah bertahun-tahun terjebak dalam siklus konfrontasi, sanksi, dan ancaman militer, AS-Iran akhirnya menunjukkan kesediaan untuk menempuh jalur diplomasi sebagai instrumen penyelesaian konflik.
BACA JUGA: IRGC Siap Perang Lagi Jika AS-Israel Kembali Menyerang Iran
Menurut dia, penandatanganan nota kesepahaman itu memiliki arti strategis untuk menurunkan ketegangan antara Washington dan Teheran. Ketegangan itu selama ini menjadi salah satu sumber utama instabilitas kawasan.
Darmnsjah mengatakan keberhasilan implementasi MoU akan memperkuat kembali diplomasi dan negosiasi sebagai mekanisme utama dalam menyelesaikan sengketa internasional.
Selain itu, ujar dia, terciptanya hubungan yang lebih konstruktif antara AS dan Iran, berpotensi mendorong stabilitas politik dan keamanan di kawasan Teluk dan Timur Tengah secara lebih luas.
Namun, dia mengungkapkan optimisme damai AS-Iran kini menghadapi ujian serius karena serangan militer Israel di Lebanon selatan terjadi lagi hanya berselang dua hari setelah kesepakatan disetujui.
Bagi Iran, dia mengatakan agresi Israel tidak hanya sebagai ancaman terhadap sekutunya di kawasan, tetapi juga upaya mempertahankan politik konfrontasi dan menghambat proses normalisasi hubungan AS dan Iran.
Menurut dia, eskalasi di Lebanon selatan dapat memicu reaksi berantai karena Iran kemungkinan akan menghadapi tekanan domestik maupun regional untuk meningkatkan dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.
Pada saat yang sama, kata Darmansjah, AS sebagai sekutu utama Israel akan berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, AS ingin menjaga komitmen dengan Iran, tetapi di sisi lain harus tetap mempertahankan dukungan strategis kepada Israel.
Maka dari itu, dia menilai keberhasilan kesepakatan AS-Iran sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak untuk menyelaraskan peredaan eskalasi di Selat Hormuz dengan penghentian agresi Israel di Lebanon.
Di sisi lain, AS juga perlu memainkan peran yang lebih aktif dalam menahan eskalasi militer Israel agar tidak merusak proses diplomasi yang sedang berlangsung. Pasalnya, dia menekankan perdamaian di Timur Tengah tidak bisa dibangun hanya melalui kesepakatan bilateral semata.
"Perdamaian membutuhkan lingkungan regional yang kondusif, pengendalian eskalasi, dan komitmen semua pihak untuk mengedepankan diplomasi dibandingkan penggunaan kekuatan militer," kata Darmansjah. (antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi




