Komunitas musisi dan pecinta jazz bersemangat menghadirkan edisi ketujuh Tanjung Perak Surabaya Jazz pada Minggu (28/6/2026), di Surabaya Expo Center atau Subec yang notabene bekas Taman Hiburan Remaja.
Festival musik diadakan di Subec dengan tujuan menarik animo penonton lebih besar. Selain itu, menguatkan peran kolaborasi lintas genre atau semangat inklusivitas bermusik melalui festival jazz tahunan sejak 2019 tersebut.
Di edisi ketujuh, musisi Tanah Air yang akan tampil sebagai bintang tamu ialah Mahalini, Nadin Amizah, HIVI, Sal Priadi, dan Fiersa Besari. Selain itu, talenta luar biasa dari Surabaya Raya antara lain Desy Agustina, Drizzly, The Skuy, Celia Noreen & Her Band, Branta, Iroel Maulana, dan Sempat Berempat.
Menurut Promotor Tanjung Perak Surabaya Jazz 2026 Sinyo Devara, edisi ketujuh ini diharapkan kian menguatkan festival sehingga bisa merebut hati dan mendapat tempat dalam masyarakat. Pemilihan Subec dan bintang tamu lintas genre untuk memperluas jangkauan dan menjadi agenda even tahunan yang dinanti pecinta jazz.
”Kami berharap festival dapat dihadiri 12.000-13.000 penonton,” ujar Sinyo dalam jumpa pers di Omah Kurasi, Surabaya, Minggu (21/6/2026) petang.
Para bintang tamu berkomitmen untuk membawakan setidaknya dua lagu bernuansa jazz. Menurut Sinyo, itu akan menjadi pengalaman unik bagi musisi dan pecinta musik. Hanya dengan menghadirkan penampil non-jazz untuk bermain jazz akan memberikan ”pengetahuan” bagi fan dan pecinta jazz bagaimana komposisi itu disajikan melalui dimensi berbeda.
CEO Tanjung Perak Surabaya Jazz Indah Kurnia menyatakan, pembelian tiket festival terus bergerak mendekati target 12.000-13.000. Sepekan sebelum even, sejumlah hotel di sekitar Subec, Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya, melaporkan telah penuh dipesan.
”Artinya, berdampak terhadap ekonomi kota,” ujar Indah, anggota DPR dari PDI-P. Di sisi lain, Subec adalah salah satu aset Pemerintah Kota Surabaya untuk kegiatan pariwisata, seni, budaya, sosial, dan ekonomi. Pemanfaatan eks THR yang bersejarah untuk festival musik sudah mulai lazim sekaligus dalam rangka masih memeriahkan 733 Tahun Surabaya yang diperingati pada 31 Mei 2026.
Indah, inisiator dan pembina komunitas Surabaya Pahlawan Jazz, melanjutkan, slogan festival tak lepas dari semangat Jazz’no Suroboyo yang merupakan bahasa Arekan untuk men-jazz-kan ibu kota Jatim berpopulasi 3,1 juta jiwa ini.
”Kami berharap dapat menjadikannya even jazz nasional dari Surabaya,” ujar Indah. Bumi Pahlawan pernah ”melahirkan” maestro jazz antara lain Bubi Chen, Maryono, Jack Lesmana, Mus Mujiono, dan Karim Suweileh.
Saksofonis dan Ketua Surabaya Pahlawan Jazz FX Boy menambahkan, kehadiran artis lintas genre dalam festival jazz adalah keniscayaan. Festival akan mati jika seluruh reportoar menampilkan musisi jazz mainstrem atau standar.
”Pecinta jazz mainstream tak akan datang ke festival tetapi ke klub-klub jazz,” ujar Boy yang juga anggota Surabaya All Star dari mendiang Bubi Chen. Klub dan jazz mainstream lebih bersifat personal bahkan eksklusif. Ini seolah bertentangan dengan esensi jazz itu sendiri yang inklusif karena spontan, bebas, tetapi bertanggungjawab.
Inklusivitas berarti merangkul atau terbuka sehingga festival jazz yang menghadirkan musisi pop, klasik, latin, ska, rock akan menjadi sarana penting bagi pecinta musik memperluas pengetahuan lintas genre. Boy bermimpi dapat menghadirkan Rhoma Irama sekaligus barisan penggemar Raja Dangdut untuk mencoba bermain jazz.
Boy menegaskan, jazz adalah harta karun tak terhingga seperti sumur inspirasi yang tak akan kering bagi musisi. Memainkan jazz dengan spontan, bebas, dan bertanggungjawab meskipun misalnya muncul ”kekeliruan” justru menguatkan kenyataan bahwa musisi adalah manusia.
Desy Agustina mengatakan, tak sabar tampil bersama seluruh anggota band yang perempuan. Komposisi yang dibawakan termasuk karya-karya sendiri secara swing, samba, bossa, fusion, pop, dan rock. ”Sebenarnya, cita-cita saya ini menjadi rocker tetapi enggak kesampaian hahaha,” ujar sang vokalis.
Adapun Branta mengatakan, merasa terhormat dapat tampil perdana. Meskipun lahir dan besar di Surabaya, solois groovy pop 90-an ini lama merantau ke Jakarta dan bermain dari klub-klub di Ibu Kota. ”Musisi itu selalu berkembang dengan mencari genre yang pas. Saya tertantang dan ingin sekali bermain dengan nuansa jazz,” ujarnya.
FX Artika dari Sempat Berempat mengatakan, kelompok mereka lahir dari C26 Jazz Club (Medokan Ayu Blok C Nomor 26). Band swing fusion ini justru mulai dikenal publik pecinta jazz di Surabaya ketika bermain di Tanjung Perak Jazz 2019.
”Setelah dua tahun absen, kami tentu amat bahagia diajak untuk pentas lagi,” kata Artika, kibordis Sempat Berempat.
Yasir Amrullah dari MLD Spot Surabaya, sponsor utama even, berharap Tanjung Perak Surabaya Jazz 2026 menguatkan eksistensi dan ekosistem genre musik ini di Bumi Pahlawan. Semakin banyak festival musik termasuk jazz akan mengembalikan posisi Surabaya yang pernah dikenal sebagai motor industri musik nasional.
Dari penyelenggara, festival ini diadakan pertama kali oleh Surabaya Pahlawan Jazz dan Surabaya Entertainer Club dengan nama Tanjung Perak Jazz pada 2019. Jenama Tanjung Perak digunakan sebagai identitas even asli Surabaya mengingat lagu amat populer berjudul Tanjung Perak.
Di edisi perdana 2019, even diadakan di The Central Mall Gunawangsa Tidar. Tahun berikutnya tertunda akibat pandemi Covid-19 meskipun masih ada sesi-sesi jamming dengan pembatasan. Pada 2021, even diadakan di Surabaya North Quay Pelabuhan Tanjung Perak dan KRI Dewaruci yang sandar di dermaga Komando Armada 2 (Komando Armada RI Kawasan Timur).
Kurun 2022-2024, Tanjung Perak Jazz masih diadakan di Surabaya North Quay yang terbatas untuk 800-900 orang. Tahun lalu, untuk meluaskan cakupan dengan kapasitas sampai 2.000 orang, even diadakan di Museum Pusat TNI Angkatan Laut Jelesveva Jayamahe.
Tahun ini, jenama menggunakan Tanjung Perak Surabaya Jazz untuk menegaskan kepemilikan even dari ibu kota Jatim tersebut. ”Perlu ditambahkan Surabaya karena memang dilahirkan dan ditumbuhkan dari sini sebagai persembahan bagi seluruh pecinta jazz,” ujar FX Boy.





