Jajaran tokoh Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menggelar silaturahmi kebangsaan dengan Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, di Gedung Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (22/6).
Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu dihadiri sejumlah tokoh lintas agama, akademisi, dan pegiat masyarakat sipil. Suasana diskusi berlangsung hangat dengan membahas berbagai persoalan kebangsaan, kondisi sosial kemasyarakatan, hingga perkembangan pemerintahan saat ini.
Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan pertemuan tersebut merupakan bagian dari agenda Gerakan Nurani Bangsa untuk bersilaturahmi dengan para tokoh bangsa yang pernah mengemban amanah sebagai kepala negara maupun wakil kepala negara.
"Ini sebenarnya pertemuan yang sudah cukup lama dirancang karena GNB memiliki agenda mengunjungi tokoh-tokoh bangsa. Pada tahun lalu kami pernah mengunjungi Bapak SBY, Bapak Jusuf Kalla, dan Bapak KH Ma’ruf Amin. Alhamdulillah, dengan Ibu Megawati bisa dilaksanakan hari ini," kata Lukman kepada wartawan usai pertemuan.
Menurut Lukman, selain menjaga silaturahmi, pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk saling bertukar pandangan mengenai berbagai persoalan kebangsaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Ia mengibaratkan dialog tersebut sebagai pertemuan antara orang tua dan anak yang sama-sama memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa.
"Seperti selayaknya pertemuan antara orang tua dengan anaknya, atau dengan sesama mereka yang pernah mendapatkan amanah untuk mengemban roda pemerintahan dalam menjaga dan merawat kehidupan kebangsaan kita," ujarnya.
Sementara Ignatius Kardinal Suharyo menjelaskan filosofi Gerakan Nurani Bangsa yang menempatkan dialog dan pertukaran gagasan sebagai cara untuk menjaga kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial.
"Gerakan ini menamakan diri Gerakan Nurani Bangsa. Nurani itu bisa tumpul kalau tidak pernah diasah. Oleh karena itu, kalau kami berkumpul, berdiskusi, bertukar gagasan, itu harapannya nurani kami di dalam Gerakan Nurani Bangsa ini sendiri menjadi semakin tajam dan jernih," kata Kardinal Suharyo.
Menurut dia, nurani yang jernih diperlukan agar para tokoh bangsa dapat melihat berbagai persoalan secara objektif dan mengedepankan kepentingan publik.
"Sehingga kita bisa melihat realitas dengan baik dan benar. Tidak dengan emosi, tidak dengan kepentingan, tetapi sungguh-sungguh murni untuk kepentingan bangsa kita," ujarnya.
Lukman menambahkan, sejumlah isu aktual yang berkembang di masyarakat dan menjadi perhatian publik juga ikut dibahas dalam pertemuan tersebut. Sebagai kelompok yang banyak menerima aspirasi masyarakat, GNB merasa perlu mengkonfirmasi berbagai informasi dan pandangan kepada Megawati yang memiliki pengalaman panjang di dunia politik.
"Kami di GNB menerima banyak masukan dari masyarakat. Karena itu kami perlu mengkonfirmasi apakah informasi-informasi yang kami miliki ini juga dimiliki oleh Ibu Megawati selaku tokoh yang memang sudah memiliki asam garam pengalaman yang sangat panjang dalam hidup di dunia politik ini," pungkasnya.
Selain Lukman Hakim Saifuddin dan Kardinal Suharyo, pertemuan itu juga dihadiri Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Alissa Q. Wahid, Pendeta Gomar Gultom, Romo Franz Magnis Suseno SJ, Karlina R. Supelli, Laode M. Syarif, Beka Ulung Hapsara, Andi Widjajanto, Francisia Seda, serta Yanuar Nugroho.





