HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Isu lingkungan dan keterbatasan ruang hidup di kawasan perkotaan menjadi inspirasi utama dalam pameran tunggal seni instalasi bertajuk Roots yang digelar mahasiswa Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM), Rezky Herdian Eka Ariesta. Pameran tersebut resmi dibuka di Galeri Colli Pakue FSD UNM, Senin (22/6/2026).
Melalui karya-karya instalasi yang dipamerkan, Rezky mengajak pengunjung melihat perjuangan akar pohon dalam mencari ruang hidup di tengah pembangunan kota yang semakin padat dan terstruktur.
Pameran dibuka langsung oleh Dekan FSD UNM, Dr. Andi Ihsan, S.Sn., M.Pd., serta dihadiri Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain, dosen, mahasiswa, media partner, dan sejumlah tamu undangan.
Mengusung tema Roots atau akar, pameran ini merupakan hasil riset yang dilakukan Rezky mengenai hubungan antara manusia dan akar pohon dalam lanskap perkotaan. Menurutnya, akar tidak hanya berfungsi sebagai penopang kehidupan pohon, tetapi juga menjadi simbol keteguhan dan kemampuan beradaptasi di tengah berbagai keterbatasan.
“Pameran saya yang berjudul Roots adalah hasil riset tentang bagaimana hubungan antara akar pohon dan manusia dalam landscape perkotaan. Saya menceritakan gerakan rahasia akar yang mencari jalan, menggambarkan perjuangan, adaptasi, dan keteguhan alam dalam menghadapi keterbatasan ruang yang terstruktur dan padat,” ujar Rezky.
Ia menjelaskan, proses penciptaan karya dimulai sejak Februari 2026 melalui pengumpulan data, observasi lapangan, dan penelusuran berbagai referensi yang berkaitan dengan tema lingkungan.
Memasuki Maret, proses produksi karya dilakukan secara intensif hingga seluruh instalasi rampung pada awal Juni.
Menurut Rezky, tantangan terbesar dalam menyelenggarakan pameran tunggal tersebut adalah ukuran karya yang relatif besar serta kebutuhan eksplorasi teknis yang cukup panjang.
“Karya saya berukuran besar sehingga membutuhkan bantuan banyak orang. Selain itu, ada beberapa teknis yang cukup rumit sehingga membutuhkan eksplorasi yang panjang untuk menemukan bentuk yang saya inginkan,” katanya.
Meski menghadapi berbagai kendala, ia mengaku puas karena berhasil merealisasikan konsep yang telah dirancang sejak awal. Melalui pameran ini, Rezky berharap dapat memberikan inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani menghadirkan karya yang lahir dari riset dan gagasan yang kuat.
Ia juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa mahasiswa seni tidak hanya menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan yang relevan dengan persoalan sosial dan lingkungan.
“Harapan saya teman-teman di Fakultas Seni dan Desain bisa terinspirasi dengan pameran tunggal ini. Untuk masyarakat luar kampus, saya ingin mereka mengetahui bahwa mahasiswa FSD juga mampu menghasilkan karya-karya instalasi yang serius dan memiliki konsep,” tuturnya.
Apresiasi Keberanian MahasiswaKetua Jurusan Seni Rupa dan Desain FSD UNM, Dr. Irfan Kadir, S.Pd., M.Ds., memberikan apresiasi atas keberanian Rezky menyelenggarakan pameran tunggal secara mandiri. Menurutnya, langkah tersebut patut diapresiasi karena saat ini pameran bukan lagi menjadi kewajiban dalam mata kuliah Studi Khusus.
Ia menilai tema akar yang diangkat memiliki pesan kuat tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan di tengah pesatnya pembangunan perkotaan.
“Ini sebuah karya yang luar biasa. Mahasiswanya juga punya nyali karena sebenarnya mata kuliah Studi Khusus tidak lagi mewajibkan pameran, tetapi Rizky memilih membuat pameran tunggal. Mudah-mudahan ini menjadi contoh yang baik bagi mahasiswa lainnya,” ujarnya.
Irfan juga menyoroti penggunaan media instalasi yang dipadukan dengan teknologi sebagai bentuk keberanian mahasiswa dalam mengeksplorasi medium seni yang lebih kontemporer.
Karya Seni Berbasis RisetSementara itu, Dekan FSD UNM, Dr. Andi Ihsan, S.Sn., M.Pd., menyebut pameran Roots menjadi contoh bagaimana karya seni di lingkungan akademik seharusnya dibangun melalui proses penelitian, observasi, dan pemikiran konseptual yang matang.
Menurutnya, seorang akademisi seni tidak cukup hanya menghasilkan karya yang indah secara visual, tetapi juga harus mampu menghadirkan pesan dan dampak yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Saya sangat salut terhadap Rizky. Ini bukan kewajiban, tetapi lahir dari inisiatif sendiri. Sebagai akademisi, kita tidak hanya menghasilkan karya yang estetis, tetapi juga harus didukung oleh hasil observasi, pengamatan, dan konsep yang kuat sehingga karya tersebut memiliki dampak terhadap masyarakat maupun lingkungan,” katanya.
Ia berharap pameran serupa dapat terus berkembang di lingkungan FSD UNM sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian menyampaikan gagasan melalui karya seni.
Melalui Roots, persoalan yang kerap luput dari perhatian masyarakat berhasil diangkat ke ruang pamer. Akar pohon yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan tanah justru menjadi simbol ketahanan hidup, sebuah refleksi yang relevan di tengah kota-kota yang terus bertumbuh dan semakin menyempitkan ruang bagi alam.





