Bisnis.com, DENPASAR – Pemerintah Kabupaten Buleleng melakukan penataan kawasan titik nol Singaraja untuk menghidupkan pariwisata bekas Ibukota Sunda Kecil tersebut.
Sebagaimana diketahui, pada masa pemerintahan kolonial Belanda hingga awal Kemerdekaan, Singaraja merupakan pusat pemerintahan Provinsi Sunda Kecil yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Dengan anggaran Rp25 miliar, Pemkab Buleleng menata kawasan kantor Bupati, DPRD, tugu singa, memperluas trotoar pejalan kaki, hingga restorasi gedung peninggalan Belanda.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menjelaskan penataan Kawasan Heritage Titik Nol Singaraja tidak hanya menghadirkan ruang publik baru bagi masyarakat, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali jejak sejarah Kota Singaraja sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan pada masanya.
Menurut Sutjidra, meski masih terdapat beberapa pekerjaan penyelesaian akhir, kawasan tersebut sudah dapat dimanfaatkan masyarakat pada waktu-waktu tertentu, khususnya sore hingga malam hari setelah aktivitas pembangunan selesai dilakukan.
"Kawasan ini menyimpan banyak jejak sejarah yang sengaja kita hidupkan kembali melalui penataan kawasan heritage. Jadi yang kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," jelas Sutjidra, Senin (22/6/2026).
Baca Juga
- Investasi Rp30 Miliar, Bos Krisna Oleh-Oleh Bangun Wisata Hutan Bambu dan Kampung UMKM di Buleleng
- Bank Indonesia Dorong Hilirisasi Pertanian di Buleleng
- Buleleng Mulai Realisasikan Program Makan Bergizi Gratis
Ia menjelaskan, Singaraja memiliki posisi penting dalam sejarah Bali karena pernah menjadi ibu kota Sunda Kecil dan pusat pemerintahan pada zamannya. Melalui konsep heritage, identitas tersebut dihadirkan kembali agar dapat dinikmati sekaligus dipelajari oleh masyarakat maupun wisatawan.
Selain memperkuat nilai sejarah, penataan kawasan juga diharapkan menjadi penggerak aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Kehadiran ruang terbuka yang nyaman dinilai mampu menciptakan interaksi sosial yang lebih hidup sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.
"Kami ingin kawasan ini menjadi ruang bersama bagi masyarakat. Tempat untuk beraktivitas, berinteraksi, menikmati suasana kota, sekaligus mengenal sejarah daerahnya sendiri," kata dia.
Sutjidra menambahkan, pemerintah daerah akan terus melakukan penyempurnaan kawasan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat dan mampu menjadi salah satu daya tarik wisata baru di Bali Utara.





