Rahasia Kebahagiaan Menurut Aristoteles : 7 Cara Praktis yang Masih Relevan Hingga Sekarang

erabaru.net
9 jam lalu
Cover Berita
Cara meraih kebahagiaan tanpa harus bergabung dengan sekte atau membeli lampu garam Himalaya

Nicole James

Masalah dengan kebahagiaan adalah bahwa semua orang tampaknya berusaha menjualnya kepada Anda. Kebahagiaan hadir dalam begitu banyak kemasan: botol, retret, jurnal, aplikasi, celana linen, bubuk kolagen, lilin Skandinavia, hingga porsi sangat kecil kubis fermentasi. Kebahagiaan telah berubah menjadi layanan berlangganan dengan tambahan latihan pernapasan sebagai fitur opsional.

Aristoteles, yang hidup sebelum munculnya influencer gaya hidup sehat dan karena itu memiliki keuntungan yang tidak adil, mungkin akan memandang banyak hal tersebut dengan curiga. Baginya, kebahagiaan bukanlah sensasi menggebu-gebu saat menemukan tempat parkir tepat di depan supermarket atau mengetahui keju favorit sedang diskon 50 persen.

Kebahagiaan, menurut Aristoteles, adalah eudaimonia, yang berarti berkembang secara optimal sebagai manusia (flourishing), meskipun istilah itu sayangnya tidak terdengar semenarik ketika diteriakkan di sebuah studio yoga.

Pandangannya cukup merepotkan. Dalam pemahaman ini, kebahagiaan adalah keseluruhan kehidupan yang dijalani dengan baik, dan kecil kemungkinan dapat dicapai hanya dengan berendam di bak mandi air hangat sambil menikmati segelas anggur.

Ini mungkin sedikit mengecewakan, mengingat banyak dari kita lebih suka jika kebahagiaan tersedia dalam bentuk pil dan dapat diklaim melalui asuransi kesehatan.

Namun, di antara pemikiran Aristoteles dan buku The Happiness Trap, terdapat panduan yang cukup masuk akal untuk menjalani hidup yang baik. Berikut tujuh cara untuk menjadi lebih bahagia, atau setidaknya tidak terlalu bingung menghadapi kehidupan.

1. Berhenti Berharap Kebahagiaan Selalu Terasa Menyenangkan

Inilah pengkhianatan besar pertama: kebahagiaan bisa saja melibatkan ketidaknyamanan.

Aristoteles akan mengatakan bahwa kehidupan yang bahagia adalah kehidupan yang mengembangkan kapasitas terbaik dalam diri manusia: keberanian, disiplin, kemurahan hati, kejujuran, dan ketekunan. Tidak satu pun dari hal-hal tersebut yang terasa senikmat rebahan di sofa sambil makan keripik kentang dengan pakaian santai.

The Happiness Trap menyampaikan gagasan serupa. Pikiran dan perasaan yang menyakitkan adalah bukti bahwa kita masih hidup. Meskipun hidup sering kali terasa berantakan, itulah syarat dasar untuk pertumbuhan pribadi.

Mitos besar zaman modern adalah keyakinan bahwa hidup yang baik harus selalu terasa menyenangkan. Padahal tidak realistis.

Hubungan yang bermakna memang membawa cinta, tetapi juga perdebatan tentang cara menyusun piring di mesin pencuci piring. Anak-anak membawa kebahagiaan, tetapi juga mengajarkan bahwa seorang manusia bisa kehilangan satu sepatu sambil tetap berdiri di ruang tamu Anda.

Kegembiraan selalu datang bersama “bagasi emosional”. Kebahagiaan sering kali membawa koper penuh kekhawatiran dan setidaknya satu kantong perlengkapan mandi yang bocor.

2. Cari Tahu Apa yang Benar-Benar Anda Hargai

Aristoteles ingin mengetahui pribadi seperti apa yang sedang Anda bentuk. The Happiness Trap juga mengajukan pertanyaan serupa.

Buku itu mengajak kita bertanya: apa yang ingin diperjuangkan hidup kita, selain sekadar membalas email dan sesekali membeli mangkuk hias dengan harapan masalah penyimpanan barang akhirnya terselesaikan?

Tujuan memberi kita sesuatu untuk dicapai: menerbitkan buku, mendapatkan pekerjaan impian, menurunkan berat badan, atau akhirnya merapikan lemari bawah wastafel sebelum berubah menjadi kawasan rawa yang dilindungi.

Nilai-nilai memberi arah bagi tujuan tersebut. Nilai adalah komitmen yang lebih dalam seperti kreativitas, keberanian, kebaikan hati, kejujuran, rasa ingin tahu, pelayanan, dan cinta.

Tujuan dapat dicentang setelah tercapai. Namun nilai harus dijalani setiap hari.

Kebaikan hati, sayangnya, bukan prestasi sekali jadi. Ia membutuhkan pilihan yang berulang-ulang, meskipun tidak sempurna—baik saat terjebak kemacetan, saat makan malam keluarga, di sekolah, di tempat kerja, maupun di kampus.

3. Latih Kebajikan Seperti Pemanah yang Masih Canggung

Menurut Aristoteles, kebajikan dibangun melalui kebiasaan.

Keberanian hanya tumbuh jika kita melakukan tindakan-tindakan berani.

Di sinilah Aristoteles menjadi sangat praktis. Karakter terbentuk melalui pengulangan dalam kehidupan sehari-hari, dan kesabaran tumbuh ketika kita menahan dorongan untuk melempar printer keluar jendela, meskipun printer tersebut tampaknya memang pantas menerimanya.

Kuncinya adalah latihan.

Seperti seorang pemanah yang masih canggung tetapi terus membaik karena terus membidik sasaran, kita menjadi lebih baik dengan terus kembali mencoba. Kadang kita meleset, lalu memperbaiki posisi, menggerutu pelan, dan membidik lagi.

4. Temukan Jalan Tengah yang Bijaksana, Bukan Sekadar Sikap Serba Tanggung

Konsep terkenal Aristoteles tentang “jalan tengah emas” (golden mean) sering disalahpahami sebagai ajakan untuk bersikap moderat dalam segala hal.

Padahal maksudnya adalah menemukan keseimbangan yang bijaksana di antara dua ekstrem yang sama-sama merusak.

Keberanian berada di antara pengecut dan nekat.

Namun, keseimbangan itu bersifat pribadi.

Apa yang dianggap berani bagi seseorang mungkin merupakan hal biasa bagi orang lain. Seseorang yang pemalu dan berani melakukan satu panggilan telepon sulit mungkin menunjukkan keberanian yang lebih besar daripada seorang ekstrover percaya diri yang berbicara di depan ribuan orang.

Aristoteles memahami bahwa manusia tidak hadir dalam satu ukuran emosional yang sama.

5. Berhenti Bergulat dengan Setiap Pikiran Seolah Itu Penyusup Berbahaya

Salah satu gagasan paling berguna dalam The Happiness Trap adalah bahwa pikiran hanyalah peristiwa mental.

Sebagian bermanfaat, sebagian lagi konyol.

Kesalahan yang sering kita lakukan adalah menganggap bahwa kita harus mengalahkan setiap pikiran negatif sebelum bisa menjalani hidup dengan baik.

“Aku tidak berguna.”

“Ini pasti gagal.”

“Semua orang menganggapku bodoh.”

Pikiran manusia memproduksi kalimat-kalimat seperti itu dengan ketekunan yang luar biasa.

Acceptance and Commitment Therapy (ACT), yang menjadi dasar The Happiness Trap, menawarkan pendekatan lain.

Sadari pikiran itu. Beri nama. Biarkan ia ada.

Lalu tetap bertindak sesuai nilai-nilai Anda.

Anda tidak harus memenangkan perdebatan dengan pikiran sendiri sebelum mulai bergerak. Anda bisa membawanya ikut serta, mengomel di kursi belakang, sementara Anda tetap mengemudi menuju hal-hal yang penting.

6. Pilih Makna daripada Sekadar Suasana Hati

Jika Aristoteles dan The Happiness Trap bertemu dalam sebuah jamuan makan malam, mereka kemungkinan akan sepakat dalam satu hal:

Kehidupan yang baik dibangun di atas tindakan yang bermakna.

Kesenangan tentu menyenangkan. Tidak ada orang waras yang menentang kesenangan.

Aristoteles bukanlah seseorang yang berdiri di Yunani kuno sambil menolak buah zaitun dan berkata, “Tidak, terima kasih. Saya sedang berkembang secara optimal.”

Namun kesenangan semata terlalu rapuh untuk menopang seluruh kehidupan.

Hewan mencari kenyamanan dan kepuasan. Manusia, makhluk yang sering kali rumit, juga mencari tujuan hidup.

Kehidupan yang bermakna mungkin mencakup mengoreksi tugas, merawat kerabat yang sulit, tetap bekerja dengan tekun, menulis bab yang melelahkan, meminta maaf dengan tulus, atau memulai kembali setelah gagal.

Hal-hal itulah yang membuat hidup menjadi lebih dalam dan benar-benar menjadi milik Anda.

7. Terus Melangkah Saat Terjatuh dari “Kuda Filsafat”

Rahasia terakhir adalah yang paling tidak glamor: komitmen untuk kembali mencoba.

Baik Aristoteles maupun The Happiness Trap memahami bahwa pembentukan karakter membutuhkan waktu.

Komitmen berarti menyadari bahwa Anda telah tersesat di semak-semak emosi, lalu dengan tenang kembali ke jalur yang benar.

Anda tidak akan selalu hidup sesuai nilai-nilai yang diyakini.

Misalnya, Anda mungkin memakan cokelat darurat sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi.

Itu membuat Anda menjadi manusia, dan menjadi manusia adalah kondisi kronis yang hingga kini belum ditemukan obatnya.

Kebahagiaan bukanlah keadaan yang tetap. Ia adalah arah perjalanan.

Kebahagiaan adalah praktik berkelanjutan untuk hidup dengan tujuan dan keberanian.

Aristoteles memberi kita perspektif jangka panjang: jadilah pribadi yang kehidupannya, ketika dilihat secara utuh, memiliki bentuk, makna, dan nilai.

Sementara The Happiness Trap menawarkan metode sehari-hari: terimalah cuaca yang kacau di dalam pikiran Anda, lalu tetap bergerak menuju hal-hal yang benar-benar penting.

Dan itu cukup menenangkan.

Pada akhirnya, kebahagiaan adalah tentang membidik, meleset, mengumpat pelan, memperbaiki pegangan, lalu membidik kembali.

Nicole James adalah jurnalis lepas untuk The Epoch Times yang berbasis di Australia. Ia merupakan penulis cerita pendek pemenang penghargaan, jurnalis, kolumnis, dan editor. Karyanya telah dimuat di berbagai surat kabar, termasuk The Sydney Morning Herald, Sun-Herald, The Australian, The Sunday Times, dan The Sunday Telegraph. Ia meraih gelar Sarjana Komunikasi dengan konsentrasi jurnalisme serta dua gelar pascasarjana, salah satunya di bidang penulisan kreatif.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Akan Komunikasi ke Pengelola SPPG yang Protes MBG Dihentikan Saat Libur Sekolah
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Kementerian ESDM Dukung Inovasi CNG Clustering, PGN Perluas Akses Gas Bumi untuk Rumah Tangga di Yogyakarta
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ditinggal Pemilik, Mobil Parkir di Minimarket Bogor Tiba-tiba Terbakar
• 2 jam laludetik.com
thumb
Suami Bunuh Istri Siri di Jakbar, Terungkap dari Celetukan Anak
• 3 jam laludetik.com
thumb
Festival Anak Pancasila 2026 Digelar di Tangerang Selatan untuk Perkuat Karakter Kebangsaan Sejak Dini
• 20 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.