Barang Impor Dinilai Tekan Pasar UMKM, Pelaku Usaha Enggan Ambil Kredit Bank

pantau.com
10 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Asosiasi Industri UMKM Indonesia (AKUMANDIRI) menilai pasar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) semakin tertekan akibat membanjirnya produk impor yang dijual dengan harga lebih murah sehingga banyak pelaku usaha memilih menghindari pembiayaan perbankan.

Ketua Umum AKUMANDIRI Hermawati Setyorinny mengatakan menurunnya pangsa pasar membuat UMKM lebih berhati-hati dalam mengambil pinjaman karena risiko gagal bayar semakin besar.

"Kenapa UMKM mengambil pembiayaan bank, karena memang marketnya itu berkurang," ungkap Hermawati.

Menurutnya, pelaku UMKM kini harus bersaing langsung dengan produk impor yang memiliki harga lebih rendah dibandingkan barang produksi dalam negeri.

Produk Impor Dinilai Jadi Tantangan Terbesar

Hermawati menyebut laju masuknya barang impor terus meningkat dari tahun ke tahun tanpa adanya pembatasan yang memadai terhadap produk yang juga diproduksi oleh UMKM lokal.

"Laju produk impor yang masuk ke Indonesia terus bertambah besar selama ini. Tidak ada pencegahan atau rem barang-barang impor yang memang UMKM memproduksi," ujarnya.

Ia berharap pemerintah memberikan perlindungan lebih besar kepada UMKM agar tidak harus bersaing secara langsung dengan produk impor berbiaya produksi rendah.

"Kalau di luar negeri itu produk impor yang masuk harganya lebih mahal daripada produk lokal," katanya.

Selain tekanan dari produk impor, Hermawati menilai pelaku UMKM masih menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh pembiayaan usaha.

UMKM Lebih Pilih Dana Pribadi

Hermawati menyoroti masih adanya kendala dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang menurutnya di lapangan kerap tetap mensyaratkan agunan meski secara aturan tidak diwajibkan untuk kategori tertentu.

Ia juga menilai besaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi faktor lain yang membebani pengembangan usaha UMKM.

"Selain itu PPN juga cukup tinggi dan ini menjadi salah satu pemicu lainnya," ungkapnya.

Sebelumnya, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengungkapkan sebanyak 88 persen pelaku UMKM informal masih mengandalkan dana pribadi untuk membiayai usaha mereka.

Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani mengatakan hanya 12 persen pelaku UMKM yang memanfaatkan sumber pendanaan eksternal, termasuk kredit perbankan.

Menurut hasil survei Perbanas, dari kelompok yang menggunakan dana eksternal, sebanyak 49 persen berasal dari perbankan, 9 persen dari teman atau kerabat, 32 persen dari lembaga pembiayaan mikro, dan 11 persen dari sumber lainnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah demi Keselamatan Habitat dari Kepunahan
• 12 jam laludisway.id
thumb
Komisi XII DPR Ikut Bicara Pasokan Batu Bara PLN
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Trump Ancam Serang Iran Terkait Aksi Hizbullah, Pembicaraan Damai Berpotensi Batal
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Hotman 911 Dampingi Korban Penyekapan oleh Kekasih di Rancaekek Bandung
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hilang di Latihan Perdana, Pemain FC Utrecht Dikaitkan dengan Persib Bandung
• 3 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.