Surabaya (beritajatim.com)- Siapa yang bisa menolak nikmatnya semur jengkol atau sambal goreng petai? Bagi banyak orang Indonesia, dua makanan ini punya tempat spesial di meja makan. Meski terkenal karena aromanya yang menyengat, penggemarnya tetap banyak. Lalu, sebenarnya apa perbedaan petai dan jengkol?
Dari sisi gizi, keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Dalam penjelasan Hidup Sehat tvOne, jengkol dikenal memiliki kandungan energi yang cukup tinggi, bahkan sering disebut mirip nasi karena kalorinya hampir setara dengan sepiring nasi dalam 100 gram.
Sementara itu, petai kaya akan vitamin B1, vitamin E, kalium, dan berbagai mineral penting lainnya. Petai juga dikenal mengandung antioksidan yang baik untuk tubuh. Baik petai maupun jengkol sama-sama bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan pembuluh darah dan melawan radikal bebas.
Penyebab bau khas keduanya ternyata berbeda. Bau jengkol berasal dari zat bernama asam jengkolat yang menghasilkan aroma kuat pada napas dan urine setelah dicerna tubuh. Sedangkan petai mengandung senyawa sulfur seperti hexathionine dan trithiolane yang membuat aromanya terasa lebih tajam di mulut.
Meski aromanya kuat, senyawa tersebut sebenarnya tidak berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Jengkol juga dipercaya memiliki beberapa manfaat kesehatan, seperti membantu menjaga kesehatan jantung, membersihkan darah, dan membantu mencegah diabetes. Namun, konsumsi berlebihan bisa menyebabkan gangguan kesehatan.
Sementara itu, petai juga punya manfaat yang tidak kalah menarik. Petai dipercaya dapat membantu mengurangi stres, mencegah anemia, dan membantu meredakan masalah lambung. Namun, penderita asam urat sebaiknya berhati-hati karena petai mengandung purin yang bisa memicu nyeri sendi. Jika dimakan terlalu banyak, petai juga dapat menyebabkan perut terasa kembung.
Dilansir dari berbagai sumber, agar lebih aman dikonsumsi, cara pengolahannya juga penting. Untuk mengurangi bau dan risiko pada jengkol, anda bisa merendamnya dalam air cucian beras atau merebusnya bersama daun jeruk purut dan daun jambu biji. Merebus jengkol dengan air garam juga dapat membantu melunakkan teksturnya sekaligus mengurangi kadar asam jengkolat.
Jika khawatir dengan bau mulut setelah makan petai atau jengkol, ada beberapa cara sederhana yang bisa anda coba. Mengunyah biji kopi atau minum kopi hitam tanpa gula dapat membantu mengurangi bau. Selain itu, buah-buahan renyah seperti apel, pir, dan mentimun juga bisa membantu membersihkan sisa makanan di mulut.
Cara lain yang lebih enak adalah minum susu atau yogurt setelah makan. Kandungan protein dan bakteri baik dalam yogurt dapat membantu mengurangi bau mulut. Teh hijau dan air lemon juga dapat menjadi pilihan segar anda untuk membantu melawan bakteri penyebab bau. [Wakhdah Alisa Berliana]




