Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen air minum dalam kemasan, PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp60 miliar atau setara Rp2,5 per saham dari laba tahun buku 2025.
Pembagian dividen dilakukan di tengah strategi ekspansi agresif yang tengah dijalankan perseroan, termasuk pembangunan tiga pabrik baru dan perluasan jaringan distribusi di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Keuangan CLEO Lukas Setia Atmaja mengatakan pembagian dividen mencerminkan komitmen perseroan untuk tetap memberikan nilai tambah kepada pemegang saham sekaligus menjaga momentum pertumbuhan jangka panjang.
"RUPS menyetujui penggunaan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk tahun buku 2025 bagi dividen dengan total sebesar Rp60 miliar atau Rp2,5 per lembar saham," ujarnya dalam dalam Paparan Publik secara daring, Senin (22/6/2026).
Keputusan tersebut diambil meski laba bersih CLEO pada 2025 mengalami penurunan akibat tingginya biaya ekspansi dan persiapan operasional pabrik baru.
Sepanjang tahun lalu, CLEO membukukan penjualan konsolidasi sebesar Rp2,83 triliun atau tumbuh 4,8% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,70 triliun.
Baca Juga
- Laba Sariguna Primatirta (CLEO) Susut 17,91% YoY jadi Rp381,82 Miliar pada 2025
- ACES Hingga CLEO Keluar dari Indeks MSCI Februari 2026, Analis: Tekanan Bersifat Sementara
- Review MSCI Februari 2026 Tekan Pergerakan Saham INDF, ACES dan CLEO
Namun, laba bersih tercatat sebesar Rp390 miliar atau turun 17,8% secara tahunan. Manajemen menilai tekanan profitabilitas tersebut bersifat sementara karena berasal dari peningkatan biaya depresiasi, tenaga kerja, serta biaya persiapan ekspansi.
Meski demikian, kondisi keuangan perseroan tetap solid. Total aset meningkat 13,3% menjadi Rp3,02 triliun, sementara liabilitas turun 3,7% menjadi Rp706,7 miliar. Pada saat yang sama, ekuitas tumbuh 19,8% menjadi Rp2,31 triliun.
Fundamental yang sehat tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan perusahaan tetap membagikan dividen sambil melanjutkan agenda ekspansi nasional.
Memasuki 2026, CLEO menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat. Pada kuartal I/2026, perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp774 miliar atau meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih juga tumbuh 5% seiring peningkatan volume penjualan dan efisiensi operasional.
Direktur Utama CLEO Melisa Patricia mengatakan perseroan tetap optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit sepanjang 2026.
Optimisme tersebut didukung oleh rencana pengoperasian tiga pabrik baru yang berlokasi di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru. Ketiga fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menekan biaya distribusi yang terus meningkat.
Selain memperluas kapasitas produksi, CLEO juga terus memperkuat jaringan distribusinya melalui anak usaha PT Sentral Sari Prima Sentosa (SPS).
Hingga Maret 2026, SPS telah mengoperasikan sekitar 430 titik distribusi dan bekerja sama dengan lebih dari 11.000 mitra distribusi di seluruh Indonesia.
Di sisi produk, perseroan terus memperluas portofolio dengan menyasar segmen premium dan horeka (hotel, restoran, dan kafe). Pada 2026, CLEO meluncurkan Cleo Platine Sparkling Water dan Cleo Platine ukuran 750 ml untuk menangkap pertumbuhan konsumsi di sektor pariwisata dan layanan makanan.
Tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, CLEO juga melanjutkan agenda keberlanjutan. Perseroan menargetkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya meningkat menjadi 8 MW pada 2026 dari 7,7 MW pada tahun sebelumnya.
Selain itu, penggunaan material plastik daur ulang terus diperluas guna mengurangi ketergantungan pada bahan baku plastik virgin.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





