Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal memastikan informasi dua perusahaan komponen otomotif asal Jepang di Jawa Timur, yang berencana memindahkan aktivitas bisnisnya ke negara lain dan berimbas pada potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan pekerja.
"Betul, betul sekali dari Serikat Buruh. Serikat Buruh ini diajak berbicara dengan manajemen lokal, namun belum ada PHK. Aktivitas pabrik masih baik, kapasitas produksi masih berjalan normal. Headquarter di Jepang, belum diputuskan," buka Iqbal dihubungi kumparan, Senin (22/6/2026).
Menyoal detail perusahaan yang dimaksud, Iqbal enggan merinci lebih jauh. Ia hanya membeberkan inisial berupa PT J dan PT S yang terletak di Jawa Timur, dengan masa operasi di Indonesia lebih dari satu dekade.
"Mereka ini memproduksi komponen jumper wiring untuk otomotif ke pabrik-pabrik mobil. Pabrik Toyota, Suzuki, Daihatsu, dan sebagian juga diekspor ke luar Indonesia. Kira-kira begitu, lebih kurang sudah 10 tahun, sudah lama sekali," terangnya.
Pria yang baru saja menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh ini mengaku tengah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak. Termasuk dengan komunitas buruh hingga Presiden Prabowo.
"Apa yang saya sarankan sebagai Presiden KSPI dan juga penasihat bidang ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh, saya minta untuk dilanjutkan perundingan. Perundingan dengan manajemen antar Serikat Pekerja dengan manajemen, sebisa mungkin tidak terjadi PHK," tutur Iqbal.
Menurut informasi yang diterima Iqbal, dua perusahaan tersebut berencana memutus hubungan kerja dengan jumlah tiga sampai empat ribu karyawan. Ia berharap, bila PHK tetap dilaksanakan tidak akan sampai 500 orang.
"Kedua, saya akan minta nanti melalui Pak Sufmi Dasco Ahmad, Ketua DPR RI, agar dan melalui Mensestek juga, bisa dipertemukan pengusahanya. Jadi pengusahanya kita temukan dengan Menteri Perindustrian untuk bisa memberikan semacam insentif," jelasnya.
Iqbal menambahkan bahwa keterangan awal mengenai alasan dua perusahaan tersebut ingin memindahkan sebagian aktivitas produksinya ke Vietnam, karena situasi geopolitik yang sedang terjadi akhir-akhir ini.





