Bisnis.com, BALIKPAPAN — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan (KPwBI Balikpapan) menggelar workshop entrepreneurship yang menyasar 100 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terkurasi dari Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kabupaten Paser, serta wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kegiatan itu dirancang sebagai ruang belajar yang komprehensif sekaligus aplikatif, dimana peserta bukan sekadar diajak mendengar teori, tapi juga diwajibkan menyusun business model canvas (BMC) yang dipresentasikan langsung di hadapan narasumber sebagai bagian dari kompetisi pengembangan usaha.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi menyatakan UMKM bukan sekadar pelengkap struktur ekonomi, melainkan tulang punggung yang sesungguhnya.
"UMKM memiliki peranan yang strategis sebagai tulang punggung perekonomian, serta berkontribusi besar dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan inklusi ekonomi dan keuangan, hingga pengembangan pasar ekspor," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (22/6/2026).
Kendati demikian, dia mengakui bahwa perjalanan UMKM untuk naik kelas masih berliku. Sejumlah hambatan struktural masih menggerogoti daya tumbuh pelaku usaha kecil, mulai dari keterbatasan entrepreneurial mindset, lemahnya kapasitas manajerial, minimnya inovasi produk, hingga rendahnya pemanfaatan teknologi digital dalam operasional usaha.
Belum lagi pemahaman soal pentingnya branding, kemasan, akses pasar ekspor, dan literasi produk pembiayaan yang masih jauh dari memadai. Untuk menjawab tantangan itu secara terstruktur, workshop dibagi ke dalam dua kelas paralel.
Baca Juga
- Demi UMKM Nikmati PPh Final 0,5%, Pemerintah Permudah Registrasi PT Perorangan
- Mengungkap Batu Sandungan di Balik Perlambatan Pertumbuhan Kredit UMKM
- Gubernur BI: UMKM Jadi Kunci Indonesia Move On dari Gejolak Global
Kelas Fondasi Usaha menyasar UMKM yang masih merintis, dengan fokus pada pengelolaan usaha profesional, pemasaran digital, teknologi kemasan, manajemen operasi, dan strategi pembiayaan.
Sementara Kelas Akselerasi Usaha diperuntukkan bagi UMKM yang sudah berkembang dan tengah membidik ekspansi pasar, termasuk kesiapan ekspor, digital storytelling, pemetaan tren pasar, serta strategi meningkatkan nilai transaksi dan daya saing produk.
Tak hanya materi, workshop ini juga menghadirkan narasumber berlatar belakang praktisi, bukan sekadar konsultan. Dua pengajar yang didatangkan merupakan UMKM mitra Bank Indonesia dari Jawa Barat dan Jawa Timur yang telah menembus pasar ekspor.
Robi menyebutkan seleksi peserta pun tidak dilakukan sembarangan. UMKM terpilih merupakan rekomendasi terkurasi dari tiga pemerintah daerah, Otorita IKN, serta sejumlah korporasi dengan salah satu syarat utama, yaitu memiliki komitmen dan motivasi kuat untuk tumbuh secara profesional, inovatif, dan berkelanjutan.
Sejumlah pondok pesantren binaan KPwBI Balikpapan yang memiliki unit usaha produktif juga turut dilibatkan sebagai bagian dari upaya mendukung kemandirian ekonomi pesantren.
Dia menuturkan workshop ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Pekan Ekonomi Syariah Nusantara (PESAN) 2026, yang juga terhubung dengan Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.





