Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penerbitan instrumen Panda Bond berdenominasi Yuan alias Renminbi untuk membayar proyek produktif jangka panjang.
Purbaya menjelaskan, penerbitan obligasi tersebut bertujuan untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan selain berbasis dolar AS dengan bunga rendah, sehingga diharapkan dapat memulihkan nilai tukar Rupiah.
"Katanya kok utang lagi ke sana? Enggak ngutang, Pak, enggak ngutang. Itu adalah untuk membiayain proyek-proyek produktif jangka panjang, infrastruktur, jalan tol segala macam yang ada return-nya," tegasnya saat Raker Komite IV DPD RI, Senin (22/6).
Dia menilai, daripada mengundang investasi asing untuk mendanai proyek di Indonesia, Panda Bond dinilai lebih menguntungkan karena bisa sekaligus mengurangi terpaan dolar AS yang kian menguat di tengah perang di Timur Tengah.
Pasalnya, Purbaya menyebutkan bunga yang dikenakan dalam Panda Bond lebih rendah. Meski tidak menyebutkan dengan spesifik, dia mengatakan bunganya hanya sekitar 3 persen. Dengan begitu, pemerintah bisa lebih leluasa melakukan pembayaran tanpa mengancam defisit anggaran.
"Daripada saya ngundang investor asing, kasih uang yang sama, barang yang punya dia return-nya ke sana. Ini kan barang agak murah, kalau di China mungkin 3 persen. Yang jelas, barang yang punya kita, return-nya punya kita, kita balikin duitnya ke sana," ungkap Purbaya.
Dia juga optimistis upaya diversifikasi sumber pembiayaan ini dapat meningkatkan kepercayaan investor di pasar keuangan, terlebih terhadap lembaga pemeringkat yang sedang memantau dengan ketat.
"Jadi kalau saya ditekan lagi sama misalnya S&P atau yang lain-lain, kita bisa menunjukkan bahwa kita bisa mendapatkan sumber dana yang berimbang, sehingga ke depan kita akan lebih kuat lagi," katanya.
Menurutnya, keputusan diversifikasi sumber pembiayaan dengan negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut juga karena Indonesia sudah memiliki kerja sama bilateral swap serta local currency transaction (LCT).
Bahkan ke depannya, Purbaya menyebutkan pembayaran Panda Bond bisa dilakukan melalui kerangka LCT, sehingga paparan terhadap dolar AS semakin berkurang dan nilai tukar bisa semakin menguat secara signifikan,,
"Saya lagi pikir juga, nanti yang penerbitan Panda Bond kan, mungkin kita pakai LTC saja, local currency transaction, di mana mereka cuma beli bayarnya pakai yuan, nanti bank sentral sana masing-masing mengatur, pokoknya saya terima rupiah. Jadi saya enggak terpengaruh ke fluktuasi atau tekanan dari dolar," ungkap Purbaya.
Sebelumnya, Purbaya melakukan lawatan kerja ke Beijing, China, dan menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan China, Lan Fo’an, di Kantor Kementerian Keuangan China pada Rabu (17/6).
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat akses pembiayaan pembangunan, memperluas basis investor, serta memperdalam hubungan ekonomi dengan negara-negara mitra strategis. Salah satu agenda utama yang dibahas dalam kunjungan tersebut adalah persiapan penerbitan sovereign Panda Bond oleh Indonesia.
Selain bertemu dengan Menteri Keuangan China, Purbaya juga dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan sejumlah pelaku usaha dan investor. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Menkeu turut dijadwalkan bertemu dengan People’s Bank of China (PBOC), Shanghai Cooperation Organization (SCO) Development Bank, serta Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) guna memperkuat kerja sama pembiayaan dan investasi antara Indonesia dan China.



