JAKARTA, KOMPAS.com - Eksekusi pengosongan paksa lahan di Blok 15 Gelora Bung Karno (GBK) atau Hotel Sultan, Jakarta Pusat, memunculkan kekhawatiran bagi para pekerjanya.
Di balik hotel yang kini tak lagi beroperasi, ada ratusan nasib pekerja yang masih belum mendapat kejelasan hingga saat ini.
Salah satu wajah pilu dari dampak eksekusi ini adalah Muhidin (53), pria yang sudah bekerja di Hotel Sultan sejak 1994.
Muhidin tampak gundah saat ditemui usai mendaftarkan diri di posko pendataan Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPK GBK), Senin (22/6/2026).
Baca juga: Ini Perintah Prabowo Usai Hotel Sultan Dieksekusi dari Pontjo Sutowo
"Saya kerja dari tahun 1994 sampai sekarang. bagian Engineering Carpenter, statusnya kalau saya sebagai pegawai kontrak," kata Muhidin saat ditemui Kompas.com di GBK, Senin.
Sehari-hari, Muhidin bertanggung jawab memastikan seluruh furnitur dan fasilitas kayu di kamar maupun apartemen Hotel Sultan tetap dalam kondisi terbaiknya.
"Biasanya kerjaan saya di perbaikan semua alat-alat furnitur. Seperti pasang parket, pengecatan ulang bathtub, kloset-kloset semua, bikin counter kitchen, lemari-lemari yang rusak kita perbarui lagi, sama penyemprotan meja-meja semua," ucapnya.
Baca juga: Nasib Hotel Sultan, Puluhan Tahun Berdiri Kini Hendak Dirobohkan
Mendengar kabar eksekusi dan berhentinya operasional hotel secara mendadak, Muhidin mengaku perasaannya campur aduk.
Di satu sisi, ia mengaku paham dengan polemik yang ada dengan status lahan yang harus dikembalikan untuk negara.
Namun ia sadar, di usianya yang hampir memasuki lanjut usia, mencari pekerjaan baru tidaklah mudah.
"Ya rasanya gimana ya, kepikirannya untuk cari kerja lagi nya sih susah, jadi mau enggak mau sekarang nunggu info ajalah, nunggu dari (manajemen) Sultan. Saya pengin menunggu sajalah seperti apa ke depannya," ujarnya.
Baca juga: 30 Karyawan Eks Hotel Sultan Sudah Lapor ke Posko GBK
Tanggungan di pundaknya masih berat karena dari tiga orang anak, satu di antaranya masih membutuhkan biaya pendidikan.
Jika ia tak lagi bisa bekerja, maka salah satu sumber penghasilan bagi keluarganya akan terputus.
Apalagi, di tengah kondisi ekonomi yang kian semakin sulit dan harga bahan pokok yang semakin meroket.
"(Butuh) penghasilan juga. Lagi sulit-sulitnya lah ekonomi, pengeluaran biaya lagi mahal semua, apalagi untuk sekolah anak," tambahnya.
Baca juga: Hotel Sultan Jakarta Akan Dirobohkan Pemerintah





