Salah satu pendiri Google, Sergey Brin, mengaku keputusan pensiun dini yang diambilnya sebelum pandemi Covid-19 merupakan langkah yang keliru. Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuatnya memilih kembali aktif terlibat dalam riset dan pengembangan AI di induk perusahaan Google, Alphabet.
Dalam sebuah diskusi di Stanford University, Brin mengungkapkan bahwa dirinya sempat meninggalkan aktivitas operasional perusahaan dengan rencana mendalami ilmu fisika. Namun, setelah tidak lagi terlibat dalam pekerjaan teknis sehari-hari, ia merasa kehilangan tantangan intelektual yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Ketika Alphabet mulai membuka kembali kantor secara terbatas setelah pandemi, Brin memutuskan kembali terlibat dalam aktivitas perusahaan. Keputusan tersebut kemudian membawanya bergabung dalam pengembangan Gemini, model AI andalan Google yang kini bersaing dengan berbagai platform AI generatif lainnya.
Menurut Brin, keterlibatan langsung dalam pengembangan AI menjadi pengalaman yang sangat memuaskan. Ia bahkan menyebut tetap berada dalam masa pensiun ketika revolusi AI berlangsung akan menjadi kesalahan besar.
Perkembangan AI yang begitu cepat menjadi alasan utama di balik kembalinya Brin ke dunia teknologi. Ia menilai perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir jauh melampaui ekspektasi banyak pelaku industri.
"Jika melewatkan berita AI selama sebulan, kamu akan tertinggal jauh," ujarnya, dikutip Senin (22/6/2026).
Selain membahas keputusannya kembali bekerja, Brin juga menyoroti perjalanan Google dalam perlombaan AI global. Menurutnya, perusahaan sempat bergerak terlalu hati-hati meskipun lebih dahulu melahirkan teknologi Transformer pada 2017, yang kini menjadi fondasi berbagai model bahasa besar (large language model/LLM) di industri AI.
Ia menilai kehati-hatian internal terkait akurasi dan risiko teknologi membuat Google terlambat menghadirkan chatbot AI ke publik. Sementara itu, OpenAI mampu bergerak lebih cepat dan mempercepat adopsi AI generatif secara global.
Meski demikian, Brin meyakini Google masih memiliki posisi kuat dalam kompetisi AI berkat investasi jangka panjang yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Investasi tersebut mencakup riset jaringan saraf, pengembangan chip khusus AI, hingga pembangunan pusat data berskala global.
Menurutnya, hanya sedikit perusahaan yang memiliki kemampuan mengelola seluruh rantai teknologi AI secara mandiri, mulai dari penelitian dasar hingga infrastruktur komputasi.
Baca Juga: Perusahaan Domestik 'Tak Kebagian', 80 Persen Pasar Iklan Digital Indonesia Dikuasai Google, Meta, dan TikTok
Baca Juga: Ekraf Gandeng YouTube dan Google, Kreator Lokal Siap Mendunia
Dalam kesempatan tersebut, Brin juga memberikan pesan kepada mahasiswa dan generasi muda yang khawatir AI akan menggantikan pekerjaan pemrograman. Ia menilai bidang teknik dan ilmu komputer tetap relevan karena pengembangan sistem AI masih membutuhkan kemampuan teknis yang kuat.
Kembalinya Brin ke Google terjadi di tengah meningkatnya persaingan AI global yang mendorong valuasi perusahaan-perusahaan teknologi melonjak. Seiring menguatnya posisi Google dalam perlombaan AI, kekayaan Brin dan pendiri Google lainnya, Larry Page, turut meningkat.
Berdasarkan data terbaru, Brin kini menempati posisi orang terkaya ketiga di dunia dengan total kekayaan mencapai sekitar US$253,5 miliar atau setara Rp4.512 triliun.





