EtIndonesia.com Laporan eksklusif Reuters menyebutkan sejumlah sumber di Irak mengungkapkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah melewati jaringan milisi tradisionalnya di Irak dan secara langsung membentuk kelompok-kelompok inti rahasia yang lebih kecil, lebih radikal, dan berada di bawah kendali langsung Iran untuk melancarkan serangan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat.
Dibentuk beberapa kelompok kecil untuk melancarkan serangan droneMenurut sumber-sumber tersebut, terdapat tiga hingga empat kelompok inti, masing-masing terdiri dari sekitar 10 pejuang elite Muslim Syiah Irak.
Antara April hingga Mei tahun ini, kelompok-kelompok tersebut diduga melancarkan setidaknya tujuh serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) terhadap sasaran di Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Target serangan dilaporkan mencakup:
- Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, tempat pasukan AS ditempatkan.
- Sebuah terminal militer di Bandara Internasional Kuwait.
Dilaporkan bahwa sebagian anggota kelompok baru tersebut berasal dari aliansi milisi garis keras Syiah yang dikenal sebagai “Perlawanan Islam di Irak”. Namun, operasional kelompok-kelompok baru itu disebut sepenuhnya independen dan menerima perintah langsung dari Garda Revolusi Iran.
Para pejabat Irak dan analis menilai perkembangan ini menunjukkan perubahan besar dalam taktik yang digunakan oleh Garda Revolusi Iran.
Diduga dipicu perubahan situasi politik dan keamananMenurut laporan tersebut, ada beberapa alasan di balik pembentukan kelompok rahasia ini.
Di satu sisi, beberapa faksi Syiah bersenjata yang kuat di Irak disebut mulai berupaya mengubah peran mereka sejak tahun lalu. Pasalnya, khawatir akan terjadinya konflik terbuka dengan pemerintahan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat. Pada Juni ini, mereka bahkan mengumumkan akan menyerahkan senjata kepada pemerintah Irak dan lebih memusatkan perhatian pada aktivitas politik dalam negeri.
Situasi tersebut diduga mendorong Garda Revolusi Iran untuk membentuk kelompok-kelompok baru yang berada di bawah kendali langsungnya.
Di sisi lain, ketika jaringan proksi tradisional Iran di kawasan mengalami pelemahan dan sumber dayanya semakin terbatas, pembentukan kelompok baru dianggap dapat membantu mempertahankan kemampuan Iran dalam memproyeksikan pengaruh militernya di kawasan, sekaligus mengurangi kemungkinan kelompok-kelompok milisi Irak lainnya disalahkan atas serangan tersebut. Hal ini juga berpotensi mengurangi tekanan Amerika Serikat terhadap pemerintah Irak untuk membubarkan kelompok-kelompok bersenjata tersebut.
Menjadi tantangan bagi pemerintah baru IrakKeberadaan kelompok-kelompok baru ini dinilai menjadi tantangan serius bagi pemerintahan Irak yang baru dipimpin oleh Zaidi, yang mulai menjabat pada Mei lalu.
Selama bertahun-tahun, Baghdad berupaya menjaga keseimbangan hubungan antara Washington dan Teheran, dua mitra pentingnya. Kini, pemerintah Zaidi menghadapi tekanan dari dua arah:
- Dari Amerika Serikat yang mendesak agar seluruh kelompok bersenjata ilegal dilucuti.
- Dari memburuknya hubungan diplomatik dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab akibat serangan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang dikaitkan dengan Irak.
(***)





