Washington (ANTARA) - Direktur Dewan Ekonomi Nasional Amerika Serikat Kevin Hasseth mengatakan dampak dari konflik antara Amerika Serikat dan Iran terhadap pasar minyak sebagian besar telah teratasi.
"Dampak (konflik di Timur Tengah) ini terhadap pasar minyak, menurut saya, sebagian besar telah teratasi," kata Hassett kepada CNBC seperti dikutip RIA Novosti, Senin.
Hasseth menambahkan tanker yang sangat besar telah kembali melintasi Selat Hormuz. Selain itu, volume minyak yang melintasi jalur laut tersebut pada akhir pekan lalu hampir mencapai tingkat sebelum masa perang.
"Menurut saya, saat ini masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," kata Hassett.
Pekan lalu, Amerika Serikat dan Iran secara daring menandatangani nota kesepahaman yang mengatur penghentian konflik militer sejak 28 Februari.
Dokumen tersebut juga menetapkan tenggat waktu bagi Amerika Serikat untuk mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan bagi Iran untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance kemudian mengatakan bahwa 12,5 juta barel minyak telah melintasi Selat Hormuz pada Kamis dini hari (18/6), menandai volume tertinggi sejak dimulainya konflik dengan Iran.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: Diplomat: Konflik Timteng momentum ASEAN perkuat ketahanan regional
Baca juga: Purbaya: Pertamax berpotensi turun ikuti harga minyak dunia
"Dampak (konflik di Timur Tengah) ini terhadap pasar minyak, menurut saya, sebagian besar telah teratasi," kata Hassett kepada CNBC seperti dikutip RIA Novosti, Senin.
Hasseth menambahkan tanker yang sangat besar telah kembali melintasi Selat Hormuz. Selain itu, volume minyak yang melintasi jalur laut tersebut pada akhir pekan lalu hampir mencapai tingkat sebelum masa perang.
"Menurut saya, saat ini masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," kata Hassett.
Pekan lalu, Amerika Serikat dan Iran secara daring menandatangani nota kesepahaman yang mengatur penghentian konflik militer sejak 28 Februari.
Dokumen tersebut juga menetapkan tenggat waktu bagi Amerika Serikat untuk mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan bagi Iran untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance kemudian mengatakan bahwa 12,5 juta barel minyak telah melintasi Selat Hormuz pada Kamis dini hari (18/6), menandai volume tertinggi sejak dimulainya konflik dengan Iran.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: Diplomat: Konflik Timteng momentum ASEAN perkuat ketahanan regional
Baca juga: Purbaya: Pertamax berpotensi turun ikuti harga minyak dunia





