Palu (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendeklarasikan Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Sulawesi Tengah di Kota Palu.
Ia mengatakan pembentukan konsorsium tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi antar-kampus dalam bidang riset, pengabdian kepada masyarakat, serta edukasi kebencanaan, guna meningkatkan dampak nyata perguruan tinggi bagi masyarakat.
"Adanya konsorsium ini diharapkan akan terjadi mentoring alamiah. Nanti riset bersama, berkolaborasi, kemudian pengabdian masyarakat berkolaborasi, sehingga dampaknya dapat semakin besar dirasakan oleh masyarakat," ujar Wamendiktisaintek Fauzan pada deklarasi di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako (Untad) Palu, Senin.
Wamen Fauzan mengemukakan konsorsium menjadi wadah bagi perguruan tinggi untuk menggabungkan sumber daya, fasilitas, dan keahlian tanpa menghilangkan kemandirian masing-masing institusi.
Baca juga: Sejumlah bangunan di Kampus Untad rusak akibat gempa di Palu
Kolaborasi tersebut tidak hanya menyasar kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, kata dia, tetapi juga pertukaran pengalaman serta pengetahuan antar-perguruan tinggi yang telah berkembang dengan kampus yang masih berkembang.
"Jadi yang besar ini memberikan manfaat kepada yang kecil. yang kecil bisa belajar dari yang besar. Selain itu juga bisa kolaborasi riset, pengabdian masyarakat," ucap Wamendiktisaintek Fauzan.
Ia menjelaskan keberhasilan konsorsium membutuhkan dukungan pemerintah daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, termasuk partisipasi masyarakat sebagai sasaran program.
Sementara itu Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Tengah (Sulteng) Reny Lamadjido menilai pembentukan konsorsium dapat memperkuat peran perguruan tinggi dalam mitigasi dan penanganan bencana.
Baca juga: Kemdiktisaintek siapkan dana khusus untuk pengabdian tanggap bencana
"Saya mengapresiasi deklarasi ini untuk dampak terhadap tanggap darurat. Kampus harusnya bersatu, kampus tidak boleh berdiri sendiri-sendiri, termasuk dalam penanganan tanggap darurat bencana," katanya.
Selain itu Wakil Rektor Bidang Akademik Untad Prof Rusdin mengemukakan kolaborasi antar-kampus diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan multidimensi, seperti perubahan iklim, bencana alam, dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
"Tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu perguruan tinggi secara mandiri, sehingga membutuhkan kerja sama dengan perguruan tinggi lain, pemerintah, dunia usaha, dan industri," kata Prof Rusdin.
Baca juga: Konsorsium Internasional Pendidikan Tanggap Bencana libatkan Unhas
Ia mengatakan pembentukan konsorsium tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi antar-kampus dalam bidang riset, pengabdian kepada masyarakat, serta edukasi kebencanaan, guna meningkatkan dampak nyata perguruan tinggi bagi masyarakat.
"Adanya konsorsium ini diharapkan akan terjadi mentoring alamiah. Nanti riset bersama, berkolaborasi, kemudian pengabdian masyarakat berkolaborasi, sehingga dampaknya dapat semakin besar dirasakan oleh masyarakat," ujar Wamendiktisaintek Fauzan pada deklarasi di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako (Untad) Palu, Senin.
Wamen Fauzan mengemukakan konsorsium menjadi wadah bagi perguruan tinggi untuk menggabungkan sumber daya, fasilitas, dan keahlian tanpa menghilangkan kemandirian masing-masing institusi.
Baca juga: Sejumlah bangunan di Kampus Untad rusak akibat gempa di Palu
Kolaborasi tersebut tidak hanya menyasar kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, kata dia, tetapi juga pertukaran pengalaman serta pengetahuan antar-perguruan tinggi yang telah berkembang dengan kampus yang masih berkembang.
"Jadi yang besar ini memberikan manfaat kepada yang kecil. yang kecil bisa belajar dari yang besar. Selain itu juga bisa kolaborasi riset, pengabdian masyarakat," ucap Wamendiktisaintek Fauzan.
Ia menjelaskan keberhasilan konsorsium membutuhkan dukungan pemerintah daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, termasuk partisipasi masyarakat sebagai sasaran program.
Sementara itu Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Tengah (Sulteng) Reny Lamadjido menilai pembentukan konsorsium dapat memperkuat peran perguruan tinggi dalam mitigasi dan penanganan bencana.
Baca juga: Kemdiktisaintek siapkan dana khusus untuk pengabdian tanggap bencana
"Saya mengapresiasi deklarasi ini untuk dampak terhadap tanggap darurat. Kampus harusnya bersatu, kampus tidak boleh berdiri sendiri-sendiri, termasuk dalam penanganan tanggap darurat bencana," katanya.
Selain itu Wakil Rektor Bidang Akademik Untad Prof Rusdin mengemukakan kolaborasi antar-kampus diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan multidimensi, seperti perubahan iklim, bencana alam, dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
"Tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu perguruan tinggi secara mandiri, sehingga membutuhkan kerja sama dengan perguruan tinggi lain, pemerintah, dunia usaha, dan industri," kata Prof Rusdin.
Baca juga: Konsorsium Internasional Pendidikan Tanggap Bencana libatkan Unhas





