Dalil Puasa Asyura 10 Muharram 1448 H, Jadwal, Niat dan Keutamaannya

rctiplus.com
6 jam lalu
Cover Berita
Dalil Puasa Asyura 10 Muharram 1448 H, Jadwal, Niat dan KeutamaannyaNasional | inews | Senin, 22 Juni 2026 - 21:21Dengarkan Berita

JAKARTA, iNews.id - Dalil puasa Asyura menjadi informasi penting bagi umat Islam agar semakin khusyuk beribadah dan meraih pahala berlipat. Memahami landasan hukum puasa sunnah di bulan Muharram ini tidak hanya mempertebal keimanan, tetapi juga menjadi motivasi besar untuk menghapus dosa-dosa di tahun yang lalu.

Puasa Asyura merupakan ibadah puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram. Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam.

Asyura berasal dari kata asyara, artinya bilangan sepuluh. Di hari itu, dianjurkan untuk menjalankan Puasa Asyura. 

Dilansir dari buku Muharram Bukan Bulan Hijrahnya Nabi karya Imam Zarkasih terbitan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan, puasa di Bulan Muharram termasuk di antaranya Puasa Asyura merupakan bentuk pemuliaan atau penghormatan kepada bulan-bulan haram. 

Selain untuk memuliakan apa yang Allah SWT muliakan, berpuasa dan memperbanyak amal di bulan Haram adalah upaya memanfaatkan waktu yang Allah SWT sediakan banyak pahala di dalamnya.

Baca Juga:Bea Cukai Malang Gagalkan Peredaran 84.000 Batang Rokok Ilegal, 1 Orang Ditangkap

Selain karena memang bulan-bulan haram adalah bulan mulia, puasa di dalamnya juga disyariatkan karena memang ada riwayat yang secara eksplisit mensyaratkan itu. 

Hukum puasa Asyura adalah sunnah; maksudnya dianjurkan dan berpahala bagi yang mengerjakannya namun tidak berdosa bagi yang tidak mengerjakannya. 

Meski hukumnya sunnah, puasa Muharram dianjurkan untuk dikerjakan karena memiliki berbagai keutamaan. Berikut ini adalah dalil mengenai puasa Asyura serta keutamaannya.

Dalil Puasa Asyura

Dalil puasa Asyura ini disebutkan dalam sebuah hadits berikut ini. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda:

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Baca Juga:Pemadaman Listrik di Sumatera, Pelaku Usaha Keluhkan Omzet hingga Khawatir Kriminalitas

Artinya: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shaum Asyura dan memerintah para sahabat untuk melaksanakannnya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah hari tersebut (assyura) adalah hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Insya Allah jika sampai tahun yang akan datang aku akan shaum pada hari kesembilannya”. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal sebelum sampai tahun berikutnya” (HR Muslim 1134).

Dalil Puasa Asyuran berikutnya disebutkan dalam hadits berikut ini:

Baca Juga:Kecelakaan Maut di Bantul, Pejalan Kaki Tewas Ditabrak Mobil

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: ketika Rasulullah SAW tiba di kota Madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum assyuraa, beliau pun bertanya? Mereka menjawab, "Ini hari baik, hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka lalu Musa shaum pada hari itu." Maka Rasulullah SAW menjawab, “Aku lebih berhak terhadap Musa dari kalian”, maka beliau shaum pada hari itu dan memerintahkan untuk melaksanakan shaum tersebut. (HR Bukhari 2004).

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2 disebutkan:

خَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ وَ يَوْمًا بَعْدَهُ

"Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya."

Serta dari riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang Al-Urf asy-Syadzi, disebutkan pula:

صُومُوهُ وَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا وَ لاَ تُشَبِّهُوَا بِالْيَهُوْدِ

"Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi."

Jadwal Puasa Tasua dan Asyura Baca Juga:Gelar Gen Sawit 2026 di Udayana, BPDP Edukasi Generasi Muda

Puasa tasua dilaksanakan sehari sebelum 10 Muharram atau asyura. Jika mengacu kalender Hijriah dari Kementerian Agama, puasa tasua jatuh pada hari Rabu, 24 Juni 2026. Sedangkan puasa asyura 10 Muharram jatuh hari Kamis, 25 Juni 2026.

Namun, jika mengacu pada kalender hijriah Lajnah Falakiyah PBNU, puasa tasua jatuh pada hari Kamis, 25 Juni 2026 dan puasa asyura jatuh pada hari Jumat, 26 Juni 2026. Hal itu mengacu pada hasil rukyat yang dilaksanakan 16 Juni 2026.

- Puasa Tasua : Rabu, 24 Juni 2026- Puasa Asyura : Kamis, 25 Juni 2026

Niat Puasa Tasua dan Asyura

1. Niat Puasa Tasua

نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوْعَاءَ سُنَّةً لِلهِ تَعَالى

Latin: Nawaitu Shouma Taasuu'aa Sunnatan Lillahi Ta'ala.

Artinya: Aku niat berpuasa Tasu'a (hari kesembilan Muharam) sunnah karena Allah Ta'ala".

2. Niat Puasa Asyura

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati asyura lillahi ta‘ala.

Artinya: “Aku niat berpuasa 'Asyuro esok hari sunnah karena Allah Ta'ala.”

Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura

1. Menghapus Doa Setahun

Baca Juga:Tuding Ada Penyelundupan Pasal, Tim Hukum Troya Bakal Polisikan Lechumanan

Keutamaan puasa asyura sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih yakni bisa menghapus doa selama setahun.

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya: Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu (HR.Muslim: 1162)

Imam An Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas beliau berkata: “Yang dimaksud dengan kaffarat (penebus) dosa adalah dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya.” 

2. Sebaik-baik Puasa setelah Muharram

Keutamaan puasa tasua dan asyura merupakan salah satu puasa sunnah di Bulan Muharram.

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim).

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An Nawawi menyebutkan bahwa, “Hadits ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.”

3. Mengikuti Sunnah Nabi

Keutamaan puasa tasua dan asyura mengikuti sunnah nabi Muhammad SAW. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah SAW bersabda: 

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ 

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari).

4. Menyelisihi Kaum Yahudi

Tepat pada tanggal 10 Muharram, umat Yahudi juga melaksanakan puasa. Maka dianjurkan untuk melaksanakan puasa di hari sebelumnya dan setelahnya sebagai pembeda.

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2 disebutkan:

خَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ وَ يَوْمًا بَعْدَهُ

"Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya."

Serta dari riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang Al-Urf asy-Syadzi, disebutkan pula:

صُومُوهُ وَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا وَ لاَ تُشَبِّهُوَا بِالْيَهُوْدِ

"Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi."

Itulah dalil puasa Asyura yang sekaligus memuat tentang keutamaannya. Wallahu A'lam

#jateng

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengukur Peran dan Program Kementerian dalam Mendorong Ekonomi Nasional
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polda Metro Jaya ajak semua pihak hormati proses hukum kasus Roy Suryo
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Mulai 1 Juli 2026, Keberangkatan Jamaah Umrah Dipusatkan di Terminal 2F Bandara Soetta
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Kasus Pembunuhan Kacab Bank: 5 Terdakwa Sipil Dituntut 4-15 Tahun Penjara
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Menkeu Purbaya Heran Indonesia Terus Diincar Lembaga Global Meski Utang Terkendali
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.